Tentang Cinta dan Secercah Harapan

Suatu ketika, Anas bin Mālik menceritakan, “Datanglah seorang laki-laki kepada Rasulullah ﷺ lantas berkata, ‘Wahai Utusan Allah, ada seseorang yang mencintai orang lain tetapi tidak dapat beramal layaknya amal orang yang dicintainya itu.’ Rasulullah ﷺ pun bersabda, ‘Seseorang bersama yang dicintainya.’”

Sebaris kalimat dari beliau ﷺ itu ternyata amat menggembirakan para sahabat. Sampai-sampai Anas, periwayat hadis ini mengomentari, “Tak pernah kusaksikan sebelumnya sahabat-sahabat Rasulullah ﷺ sedemikian gembira—kecuali karena Islam—seperti gembiranya mereka akan sabda Rasulullah ﷺ itu.”

Jika Anas bin Mālik menyatakan, “tak pernah kusaksikan sebelumnya” maka itu bukanlah ungkapan kosong. Sosok sahabat ini dikenal sangat lekat dengan Nabi ﷺ. Gelarnya sebagai “Khādim Rasūl Allāh ﷺ” adalah di antara bukti kedekatannya dengan beliau ﷺ. Betapa tidak, sejak hari pertama beliau ﷺ menetap di Madinah, Anas telah diserahkan oleh sang bunda (Umm Sulaym al-Anṣāriyyah raḍiyallāh ‘anhā) untuk berkhidmat. Tak terhitung momen ia berkumpul bersama Nabi ﷺ di berbagai kesempatan. Ribuan hadis diriwayatkannya (umumnya para ulama menyebutkannya sebagai perawi hadis terbanyak setelah Abu Hurayrah dan Ibn ‘Umar; riwayatnya melampaui Umm al-Mu`minīn ‘Ā`isyah raḍiyallāh ‘anhum). Artinya, ekspresi para sahabat yang dilihatnya saat itu benar-benar menunjukkan kegembiraan yang teramat sangat. Mengapa mereka bisa segembira itu?

Anas melanjutkan, “Kami mencintai Rasulullah ﷺ tetapi kami tak sanggup beramal seperti amal beliau. Jika kami dapat bersama beliau, cukuplah itu bagi kami.”

Mereka menyadari betul bahwa balasan yang disiapkan Allah ﷻ kepada para utusan-Nya itu “bukan jannah biasa”. Terlebih lagi bagi asyraf al-anbiyā` wa al-mursalīn (semulia-mulia nabi dan rasul). Tak mungkin kiranya mereka bisa membersamai Nabi ﷺ di akhirat kelak semata mengandalkan amal mereka. Jauh sekali impian itu. Teramat jauh. Namun, empat kata yang disabdakan oleh Sang Nabi ﷺ itu (المرء مع من أحب), memberikan mereka secercah harapan bahwa kendati amal mereka amat jauh dibandingkan amal beliau ﷺ, mudah-mudahan dengan bekal kecintaan tersebut, Allah Ta’ala berkenan mengumpulkan mereka bersama sosok yang mereka cintai itu. “Cukuplah itu bagi kami” adalah ungkapan suka cita mereka akan secercah harapan itu.

***

Jika para sahabat sedemikian gembira dengan hadis di atas, mestinya kita lebih bergembira lagi. Bahkan, kegembiraan kita sepatutnya lebih berlipat. Berganda lebih banyak lagi. Mengapa? Sebab kalimat indah “seseorang bersama yang dicintainya” juga berlaku untuk umat Islam lainnya, termasuk kita. Cermati baik-baik, jangankan membandingkan amal kita dengan Nabi ﷺ, membandingkannya dengan amal para sahabat sudah cukup membuat kita tertunduk malu tanpa sanggup menegakkan kepala.

Sebutlah amal kebaikan yang sedemikian hebatnya, yang kita kenal saat ini. Lalu, coba bandingkan dengan amal para sahabat, generasi terbaik itu.

Ambil contoh tentang kedermawanan. Coba bayangkan, siapa orang paling dermawan saat ini, sedahsyat apa infaknya yang membuat kita terkagum? Bacalah kisah infak sahabat Uṡmān bin ‘Affān saat Perang Tabūk, misalnya. Kisah hijrah Ṣuhayb ar-Rūmi—yang dipuji Allah sebagai orang yang menjual totalitas dirinya semata mengharapkan rida-Nya dalam Al-Baqarah 207—juga perlu kita hayati.

Taruhlah contoh lainnya adalah keteguhan iman. Siapakah yang dapat menandingi kekokohan sang budak belian dari Habasyah, Bilāl bin Rabāh walau didera siksaan tak berperikemanusiaan, atau kemantapan hati Aṣ-Ṣiddīq saat orang-orang meragukan kebenaran Isrā` dan Mi’rāj ?

Siapa sanggup menyamai keberanian penghulu para syuhada, Hamzah, juga Pedang Allah yang terus terhunus Khālid bin al-Walīd? Mana ada yang dapat menyaingi ketegasan Al-Fārūq putra Al-Khaṭṭāb?

Sungguh, bahkan amal-amal terbaik kita, belum tentu bisa menghampiri seujung kuku pun amal mereka raḍiyallāh ‘anhum ajma’īn.

Namun, sebagaimana bagi para sahabat, ungkapan “seseorang bersama yang dicintainya” pun ditujukan kepada kita. Benar, hadis ini berlaku juga untuk kita. Tatkala amal kita—sekali lagi—alih-alih membandingkannya dengan amal Sang Nabi ﷺ, bahkan terhadap amal sahabat pun amat jauh tak terkira, hadis ini juga memberikan secercah harapan yang sama. Mudah-mudahan dengan bekal cinta ini, Ar-Rahmān Ar-Rahīm berkenan menghimpunkan kita bersama sosok-sosok yang kita cintai, Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya raḍiyallāh ‘anhum.

***

Hanya saja, perlu dicamkan: cinta bukanlah semata pengakuan lisan atau klaim di bibir. Cinta meniscayakan pembuktian. Cinta kepada beliau ﷺ menuntut ketundukan kita atas syariatnya, mengharuskan ittibā’ (mengikuti tuntunan) yang dibawanya. Kesungguhan cinta patut dipertanyakan jika kita tak bersedia memperjuangkan din sempurna yang diserukannya.

Cobalah tanyakan pada diri kita:
1. Nabi ﷺ mengajarkan kita untuk memiliki akhlak yang baik. Namun, perbuatan kita yang kerap menyakiti orang lain, lisan yang tak terjaga, tatapan sinis kepada saudara, komentar toksik yang kerap kita lontarkan, bukankah itu ironi?
2. Nabi ﷺ menuntunkan kita hanya mencari rezeki yang halal dan menjauhi syubhat (apatah lagi yang haram). Akan tetapi, bagaimana dengan sikap kita yang kadang tak peduli halal-haram asalkan bisa memperoleh harta guna memuaskan hasrat, keinginan, dan ego?
3. Sikap terbaik beliau ﷺ kepada keluarganya sepatutnya menjadi contoh yang kita teladani. Tengoklah, betapa sering kita berkata buruk atau berperilaku arogan kepada pasangan dan anak-anak kita?
4. Kecintaan beliau Sang Ra`ūf Raḥīm ﷺ kepada umat sedemikian besarnya. Lalu, bagaimana dengan kepedulian kita kepada sesama muslim?
5. Sang Nabi ﷺ memerintahkan kita untuk berpegang kepada Sunnahnya dan Sunnah para khalifah yang terpetunjuk. Bagaimana memenuhi perintah ini jika kita lebih suka kepada ideologi asing nan kufur buatan manusia? Bagaimana melaksanakan amar ini sedangkan mendengar kata Al-Khilafah saja kita merasa tidak nyaman, malah turut menari mengikuti nyanyian musuh-musuh Islam yang mempropagandakan bahwa khilafah akan mengancam kebinekaan, menyuburkan intoleransi, perpecahan, disintegrasi, dan berbagai keburukan lainnya?
6. Anda bisa memperpanjang daftar pertanyaan ini menjadi lebih banyak lagi. Sungguh, berintrospeksilah! Mudah-mudahan klaim cinta yang kita dengungkan bukanlah sebatas retorika tanpa bukti.

فمبلغ العلم فيه أنه بشر
وأنه خير خلق الله كلهم

اللهم صل وسلم وبارك على حبيبنا وشفيعنا المصطفى محمد
#mni #cncs

Dibaca

Loading

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terbaru

Konsultasi