#23 TEAM itu Together Everyone Achieves Miracle!

Seri Transformasional Leadership:
Belajar Dari Muhammad Al Fatih, Achieving the Impossible

Salah satu dari banyak sekali terobosan penting Al Fatih adalah memiliki bangunan tim yang dahsyat yang berisikan pasukan yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Muhammad saw., disiplin, sangat terorganisir, sami’na wa atho’na, penuh totalitas. Pasukan yang tak pernah meninggalkan biah sholihah, khususnya salat tahajjud, salat dhuha, puasa sunnah, tadarrus sebagai kunci kekuatannya.

Pasukan yang mengikuti sang pemimpin sebagai teladannya! Team yang menjadi benchmark bagi pasukan Pangeran Diponegoro untuk menghadapi pasukan penjajah Belanda yang sangat kuat! Masyaallah tabarakallah. Allahumma sholli ala Muhammad.

Mari kita bahas lebih mendalam tentang tim atau TEAM !

Awalnya, Tim diformulasikan secara sederhana sebagai TEAM atau Together Everyone Achieves More, yakni sebuah tim yang seluruh anggotanya secara bersama-sama mendapatkan nilai lebih. Sebuah tim yang solid, guna mengawal organisasi agar tetap kondusif dalam rangka pencapaian visi, misi, dan tujuan yang telah ditetapkan.

Suatu tim dimana seluruh anggotanya bersinergi dalam kesamaan visi, misi dan tujuan organisasi. Suasana tersebut dapat diringkas dalam formula three in one (3 in 1), yakni kebersamaan seluruh anggota dalam kesatuan bingkai ide/pemikiran, perasaan, dan aturan.

Dalam bahasan kekinian, khususnya dalam konteks manajemen strategis, pendekatan team berada dalam tahapan implementasi strategi. Jika pembahasan dilanjutkan, maka ide/pemikiran wujudnya visi, misi dan tujuan berikut turunannya hingga strategi dan kebijakan. Sementara perasaan lebih pada sikap mental, etos dan budaya kerja yang mengiringi implementasi strategi.

Adapun aturan adalah sumberdaya organisasi dalam bentuk tatanan organisasi dari prinsip hingga prosedur kegiatan atau kerja. Sampai di sini, jika semua itu dilakukan maka, visi, misi dan tujuan organisasi dapat diwujudkan dengan efektif dan efisien. Di sinilah ‘More’ terwujud.

Lalu, kapan dan bagaimana agar ‘More’ berubah menjadi ‘Miracle?’ Inilah yang dipertunjukkan oleh team besar Al Fatih dalam operasi pembebasan Konstantinopel! Penasaran? Bunga mawar bunga melati, hayuk kita ikuti!

Ada mindset keberkahan dalam pikiran Al Fatih. Pembebasan ini harus berkah, penuh berkah. Maka, tak ada cara lain, tim ini harus dibangun berdasarkan syariat, diliputi syariat, selalu berada dalam koridor syariat. Ini dijaga betul oleh Al Fatih dan semua stakeholder pasukan. Ingat, Al Fatih juga melibatkan banyak ulama untuk mendampingi pasukan!

Pertama, bangunan visi, misi, dan tujuan pembebasan diletakkan pada worldview Islam, akidah Islam seutuhnya. Tak boleh ada penyimpangan barang sedikit pun. Pada bahasan lalu, sudah dijelaskan ternyata misi pembebasan hingga prosedurnya sudah diatur dalam syariat yang mulia.

Kedua, Pemimpin memberi keteladanan. Teladan itu pasti di depan. Al Fatih secara konsisten sejak mula menunjukkan semua sisi pribadinya dipenuhi keteladanan yang bersumber dari uswah semesta, Rasulullah saw.! Keteladanan adalah contoh praktis yang memudahkan semua anggota pasukan melihat langsung dan mencontohnya. Keteladanan yang konsisten adalah pengaruh ketaatan yang mudah diindera. Keteladanan yang konsisten memudahkan pasukan saling menjaga, mengingatkan dan menguatkan satu sama lain.

Ketiga, Konsistensi dan Militansi yang mesti dipertunjukan dalam setiap aspek tugas dan fungsi semua SDM pasukan dari pimpinan puncak hingga anggota di level paling bawah. Konsistensi dan militansi cerminan dari sikap mental sami’na wa atho’na. Dari sikap mental inilah, akar keberkahan tumbuh berkembang harum mewangi.

Keempat, dalam perspektif syariah, interaksi yang terjadi harus berada dalam koridor ta’awanu ala al birri wa taqwa (tolong menolong dalam kebajikan dan takwa) serta koridor dakwah: amar ma’ruf dan nahi munkar. Hanya dengan ini, pemikiran dapat diluruskan ketika ada tanda hendak menyimpang; perasaan bisa diteguhkan dan dikuatkan ketika didapati ada potensi pelemahan motivasi, menurunnya semangat dan kualitas kinerja; peraturan bisa ditegakkan kembali ketika ada upaya pengabaian bahkan peruntuhan. Amar ma’ruf nahi munkar adalah penjaga pohon keberkahan agar terus tumbuh dan berkembang menawan hati.

Keempat hal di atas, biidznillah wa binashrillah, bisa mewujud luar biasa, karena ditunjang tiga pilar berikut, yakni (1) Pemimpin konsisten menerapkan aturan organisasi yang sesuai aturan sang pencipta, (2) SDM organisasi dipastikan telah memenuhi kriteria standar kafa’ah (cakap dan ahli), himmah (punya etos kerja tinggi), dan amanah (penuh tanggung jawab kepada pimpinannya dan kepada Allah Swt.), karena ini semua akan dipertanggungjawabkan di dunia dan di akhirat! (3) Seluruh SDM menjalankan kontrol sosial secara sadar dan sinergis berbasis amar ma’ruf nahi munkar.

Dengan itu semua, pergerakan organisasi akan berlangsung dalam koridor taqorrub ilallah, mendekat taat kepada Allah! Inilah yang membuat status ‘More’ meningkat tajam menjadi ‘Miracle.’ Melampaui dari sekedar Achieving More menjadi Achieving the Impossible!

Inilah reward dari Allah, ketika semua dilakukan sebagai ibadah, dengan landasan iman dan sebagai amal saleh. Karena, misi pembebasan tidak sekadar keuntungan duniawi, tapi lebih dari itu berdampak surga atau neraka! Jika sesuai syariat akan berbuah surga. Namun, jika maksiat -seperti penjajahan,- maka neraka pun menanti!

Begitulah, Al Fatih mampu mengubah team menjadi TEAM. Mengubah together everyone achieves more menjadi TOGETHER EVERYONE ACHIEVES MIRACLE. Berkah, berkah, berkah. Masyaallah tabarakallah. Allahumma sholli ala Muhammad.

Hikmah Bakal Aksi:

TEAM itu TOGETHER EVERYONE ACHIEVES MIRACLE, ketika dibangun dengan landasan iman dan sebagai amal saleh.

Pak Kar. 15.4.2023
Untuk Sehzade Ali

Dibaca

Loading

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terbaru

Konsultasi