#21 Syariat yang Membawa Rahmat!

Seri Transformasional Leadership:
Belajar Dari Muhammad Al Fatih, Achieving the Impossible

Kita sudah paham mengapa akidah Islam dapat membangkitkan pemeluknya secara alami, tak perlu dengan doktrinasi. Begitulah, karena datang dari Dzat Yang Menciptakan manusia, maka akidah Islam yang memang sangat mencerahkan akal, menenteramkan jiwa dan sesuai dengan fitrah manusia.

Kita juga paham mengapa akidah Islam mempu memberikan perubahan yang mendasar dan besar pada para pengikutnya. Begitulah, karena datang dari Dzat Yang Maha Tahu, maka akidah Islam mampu memberikan pemikiran yang mendasar dan besar sehingga mampu membawa perubahan yang mendasar dan besar bagi siapa saja yang mengembannya.

Itulah yang terjadi mengapa sumber daya Usmani bisa melejit sedahsyat itu.

Selesai? Belum! Masih ada lagi satu pertanyaan krusial. Mengapa sering sekali Al Fatih memberikan komando yang isinya sama dengan wejangan para Syekh gurunya yaitu agar syariat selalu berada di depan mata pasukannya. Mengapa syariat? Yap, benar! Konsekuensi keimanan adalah ketaatan sepenuhnya pada syariat!

Dari Imam Syafi’i, kita paham, ‘Kewajiban pertama bagi seorang mukallaf (orang yang sudah terkena taklif hukum, baligh) adalah berfikir dan mencari dalil untuk ma’rifat kepada Allah Ta’ala.’

Dari Imam Nawawi al Bantani, kita mengerti, “Tanda ma’rifat seseorang dapat terlihat dari ketaatannya dalam menjalankan kewajiban agamanya.”

Sebelumnya, dari Al-Qur’an surah Al-A’raf ayat 179, kita mendapat petunjuk, “Dan sungguh, akan Kami isi neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati (akal), tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah.”

Dari Abu Qatadah ra kita mendapat penjelasan, ‘Barangsiapa yang memikirkan penciptaan dirinya sendiri, tahulah dia bahwa dirinya hanyalah diciptakan dan persendiannya dilenturkan semata-mata untuk melakukan peribadatan (kepada Allah Swt).’

Dari Ibnu Mas’ud ra kita diingatkan, ‘Sebenar-benarnya takwa adalah menaati Allah tanpa bermaksiat kepadaNya, mengingat Allah tanpa lalai dariNya dan bersyukur atas nikmat-nikmat Allah, tanpa kufur dariNya.’

Dan dari Imam Ibnul Qoyyim al Jauziyah kita mendapat penegasan, ‘Hakikat takwa adalah beramal ketaatan kepada Allah dengan penuh keimanan dan ihtisab (mengharap pahala) dalam melaksanakan perintah maupun meninggalkan larangan. Melaksanakan apa yang diperintahkan Allah dengan penuh keimanan terhadap amal tersebut dan dengan pembenaran sepenuhnya akan janji Allah (bagi yang melaksanakan perintah-Nya akan mendapatkan balasan). Dan meninggalkan apa yang dilarang Allah dengan penuh keimanan terhadap larangan tersebut diiringi rasa takut terhadap ancamanNya.’

Alhamdulillah wa syukrulillah, jelaslah kita ini hamba Allah. Dengan perangkat hidayah yang kita punya (hati (akal), mata dan telinga) mestinya kita bisa menjangkau pemahaman bahwa visi dan misi penciptaan kita adalah memang menjadi hamba Allah. Tujuannya hanya satu: beribadah kepada Allah. Ibadah itu secara bahasa artinya taat (patuh, tunduk). Begitu dituliskan dalam kamus Al Muhith karya Imam Al Fairuz Abadi. Ibadah secara istilah juga punya makna umum: menaati segala perintah dan menjauhi segala larangan Allah. Begitu dituliskan dalam kitab Dirasat fi al-Fikri al-Islami karya Muhammad Husain Abdullah.

Dan … betapa Maha Rahmaan dan Rahiimnya Allah, tak hanya memberi perintah taat, lebih dari itu ketaatan ini dilatihkan sedemikian rupa kepada semua hamba-Nya yang beriman dalam momen terbesar di jagat raya, Ramadhan! Begitu penjelasan dari Imam Al-Jazairi, bahwa frasa “agar kalian bertakwa” bermakna: agar dengan shaum itu Allah Swt. mempersiapkan kalian untuk bisa menjalankan semua perintahNya dan menjauhi semua laranganNya (Al-Jazairi, I/80). Allahu Akbar!

Jadi, simpulan mendasarnya, kita ini hamba Allah yang sudah seharusnya taat, taat, dan taat menjalankan syariat-Nya! Tunduk, taat, dan patuh pada syariat-Nya sepenuh hati, tanpa tapi, tanpa nanti, tanpa berat hati!

Nah, setelah kesadaran untuk taat pada syariat itu muncul dan berlanjut menjadi amal yang berkelanjutan, biah sholihah, lantas ketaatan kita pada syariat itu apa dampaknya?

Islam adalah agama sempurna dan menyeluruh. Mengatur hubungan manusia dengan Rabb-nya yang mengatur hubungan dengan dirinya sendiri, dan yang mengatur hubungannya dengan sesama makhluk baik manusia maupun makhluk lainnya.

Penerapan syariat secara kaaffah di seluruh aspek kehidupan merupakan penyebab hakiki terwujudnya kemuliaan Islam dan kaum muslim, terwujudnya rahmatan lil alamin, manfaat yang sebesar-besarnya bagi manusia dan alam semesta.

“Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia.” (QS. Al Anbiya: 107)

Makna ayat ini dijelaskan Muhammad bin Ali Asy Syaukani dalam Fathul Qadir, “Tidaklah Kami mengutusmu, wahai Muhammad, dengan membawa hukum-hukum syariat, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia tanpa ada keadaan atau alasan khusus yang menjadi pengecualian’’. Dengan kata lain, “Satu-satunya alasan Kami mengutusmu, wahai Muhammad, adalah sebagai rahmat yang luas. Karena kami mengutusmu dengan membawa sesuatu (hukum-hukum syariat) yang menjadi sebab kebahagiaan di akhirat.”

Masyaallah tabarakallah. Allahumma sholli ala Muhammad. Rasulullah saw. diutus dengan membawa syariat yang menjadi penyebab hadirnya rahmat bagi semesta!

Dengan ini semua, kita menjadi paham mengapa seorang Al Fatih terus menerus menyerukan ketaatan semua anggota pasukannya kepada syariat! Pembebasan Konstantinopel harus berada dalam koridor ketaatan kepada Allah, kepada syariat-Nya secara sempurna agar memberikan dampak rahmatan lil ‘alamin. Dampak yang telah terbukti dalam catatan sejarah peradaban manusia.

Masyaallah tabarakallah. Allahumma sholli ala Muhammad.

Hikmah Bakal Aksi:

Memiliki Nilai-nilai Pribadi Menjadi Salah Satu Syarat Model Kepemimpinan Transformasional! Nilai-Nilai Pribadi Itu Berupa Pola Pikir dan Pola Sikap yang Selalu Mengikatkan Diri Pada Syariat!

Tujuh syarat Model Kepemimpinan Transformasional yang mutlak harus dikuasai : (1) Worldview, (2) Nilai-nilai Pribadi, (3) Motivasi, (4) Memiliki pengetahuan mengenai industri dan organisasi, (5) Memiliki relasi yang kuat dalam industri dan organisasi, (6) Memiliki kemampuan/keahlian kepemimpinan, seperti manajemen, keorganisasian, komunikasi, pengambilan keputusan, analisis kondisi lingkungan, dan kemampuan penunjang lainnya, (7) Memiliki reputasi dan catatan rekor.

Pak Kar. 13.4.2023
Untuk Sehzade Ali

Dibaca

 83 total views,  2 views today

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terbaru

Konsultasi