Ketika Tontonan Menjadi Tuntunan

Oleh: Sofiatun Hasanah
(Aktivis Remaja)

“Bagaikan pungguk merindukan bulan.”

Peribahasa di atas nih, cocok banget dengan kondisi milenial saat ini. Mereka itu … sukanya mengkhayal akan kebahagiaan dirinya, masa depannya gimana, cowok idamannya seperti apa. Wah, wah, wah …, so pasti nih mereka bakalan mengikuti apa yang lagi tren di dunia saat ini.

Gaes, Gaess … , tabu gak? Kini banyak tontonan di media televisi yang menayangkan sinetron-sinetron yang mengumbar percintaan, mulai dari percintaan ABG, bahkan sampai percintaan orang dewasa. Sinetronnya penuh dengan keromantisan dan mengobral cinta layaknya pasangan suami-Istri.

Bukan hanya di televisi, Gaes, tapi juga ada di aplikasi bioskop online yang bisa diakses lebih mudah, kayak Vidio, WeTv, Netflix, dll. Hadirnya acara televisi yang spektakuler dan peralatan telekomunikasi yang canggih, justru membawa perubahan pada diri anak dan remaja.

Padahal nih, ya, tontonan yang baik dan kurang baik pada akhirnya akan menjadi tuntunan pada orang yang melihatnya. Tanpa disadari, tontonan akhirnya menjadi tuntutan yang harus dipenuhi. Apalagi jika tontonannya berseri-seri, kagak tahu kapan endingnya.

Kalau dipikir lagi, kenapa sih banyak orang mengaku muslim, tetapi menjadikan maksiat sebagai tontonan? Bahkan, banyak juga yang menjadikan artis-artis atau influencer sebagai tuntunan meskipun apa yang dilakukan adalah kemaksiatan.

Kenapa para pemuda mudah sekali tertarik dengan kenikmatan duniawi Ketimbang sibuk belajar cari ilmu dunia dan akhirat? Sebetulnya, inilah akibat penerapan sistem sekuler kapitalis di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Apa yang dijadikan standar bukan Islam, tapi memisahkan agama dari kehidupan, meninggalkan aturan agama, tidak peduli lagi dengan halal haram, yang penting gak ketinggalan tren.

Tontonan seperti itulah yang sangat berbahaya bagi generasi muda. Bisa-bisa potensi sebagai pemuda agent of change akan tergantikan dengan aktivitas bucin. Tentunya kita gak mau dong …, Gaess!

Padahal, Allah sudah mengingatkan kita untuk tidak mengikuti kebanyakan orang yang melanggar aturannya. Dalam surah Al-An’am ayat 116, Allah Berfirman:

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ

”Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).”

Allah sudah menurunkan aturannya di dalam Al-Qur’an melalui Rasulullah saw. yang seharusnya menjadi suri teladan bagi umatnya. Rasulullah saw. sebagai tuntunan hidup sudah memberikan contoh terbaik melalui sunnah-sunnahnya. Perkara ini semuanya telah diatur didalam Islam.

Jadi, kita sebagai remaja muslim, harus kembali pada hukum Allah dan meneladani Nabi sebagai suri teladan terbaik. Isilah waktu kita dengan aktivitas yang meningkatkan potensi kita. Mulai dengan mencari jati diri. Apa sih tugas kita sebagai manusia di muka bumi ini? Apalagi potensi generasi muda adalah penerus peradaban Islam.

Ayuk, Gaes! Semangatlah dalam memperbaiki diri. Jadilah pencetak prestasi kegemilangan Islam. Kreatif dan inovatif membela dan memperjuangkan agama Allah. Senantiasa mengkaji Islam sampai akhir hayat kita.
So, pahami agama kita dan bangga berislam kaffah.

Dibaca

Loading

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terbaru

Konsultasi