Pasangan Tak Sesuai Harapan: Haruskah Perkawinan Dipertahankan?

Endah Sulistiowati & Afiyah Rasyad
I. PENDAHULUAN
Bahtera rumah tangga adalah perjalanan yang unpredictable. Berjuta ekspektasi terhadap pasangan dibangun penuh keyakinan. Harapan demi harapan kebaikan bermunculan tiada henti. Tentu saja hal itu muncul dalam asa pasutri. Sebab, pernikahan adalah untuk meraih bahagia yang bermuara pada ridho Allah semata.
Menikah dengan pasangan yang sesuai kriteria kita adalah harapan bagi setiap insan. Menjalani kehidupan yang penuh madu dan mencecap surga dunia adalah impian saat dua insan sah menjadi pasangan halal. Namun, tidak semua pernikahan diawali dengan penuh kebahagiaan. Terkadang juga penuh dengan kejutan-kejutan. Eh, ternyata dilepas hijabnya jidatnya ngganong, eh, si dia kalau #maaf kentut keras banget suaranya. Duh, bagaimana sih, dibilangi kok lola bingit. Ya Allah, ternyata utang dia banyak banget, dan sebagainya. Pernah mengalami?
Bahkan ada yang jujur, jika pasangannya jauh dari harapan dan bayangannya dulu. Deretan kekecewaan bertumpuk mengikis kebahagiaan yang diangankan. Allahu Robii apa yang harus dilakukan? Apa iya pernikahan ini harus diakhiri?
Memang dalam pernikahan, kita akan menemukan hal-hal baru dari pasangan. Ya, karena kita sebelumnya hanya mengenalnya dari luar saja, baik informasi dari saudaranya atau teman dekatnya. Nah, setelah pernikahan berlangsung dan tinggal bersama pasangan, dari situ muncullah kebiasaan-kebiasaan pasangan yang tidak kita sukai, bahkan masalah-masalah kecil yang kadang berkembang menjadi besar karena ketidak cocokan.
Menyatukan dua pandangan dan latar belakang berbeda memang perlu adaptasi panjang. Itu hal yang wajar, belum lagi saat kelemahan pasangan mulai tampak di hadapan, terkadang hati menjadi ciut jadi menyaksikannya atau bahkan menjadi risih dan enggan membersamai pasangan. Hal kecil dan remeh saja bisa menjadi sebuah kesalahan yang menjengkelkan apabila terus dilakukan berulang. Lalu bagaimana agar rumah tangga tetap harmonis, maka di sinilah nanti akan kita bahas lebih lanjut.
II. PERMASALAHAN
Dari pendahuluan di atas tentang pasangan tidak sesuai harapan, setidaknya ada beberapa permasalahan yang perlu dibahas, yaitu:
1) Bagaimana mengidentifikasi permasalahan pasangan itu di level penting dan tidak penting?
2) Langkah apa yang harus dilakukan tiap pasangan jika perbedaan itu hadir bertubi-tubi?
3) Bagaimana strategi jitu dalam mempertahankan rumah tangga di tengah perbedaan?
III. PEMBAHASAN
A. Urgensi Identifikasi Level Masalah Pasangan dalam Rumah Tangga
Syahdan, setiap manusia adalah tempat salah dan lupa. Namun, hal yang melekat pada manusia tak seharusnya dijadikan alasan klasik yang harus dimaklumi terus menerus. Upaya koreksi diri, kemudian memperbaiki diri adalah hal yang patut dilakukan setiap insan. Begitupun saat menajalani pernikahan. Di mana ia harus berhadapan dan beradaptasi dengan pasangan bahkan keluarga besarnya.
Ibarat anak tangga, permasalahan yang datang melanda juga ada levelnya. Level tak penting dan tak genting kerap menjadi asal singgungan yang semakin menganga. Apalagi jika pasangan sedang sensitif akut. Maka, harapan yang awalnya dibangun begitu indah dan kokoh, seakan runtuh oleh masalah tak penting dan tak genting yang menerpa.
Pernikahan tentu tak lepas dari uji dan coba. Prahara entah kapan akan datang menyapa, menyisakan puing harapan yang telah disusun sedemikian rupa. Pasutri hendaknya bersiap menghadapi dilema rumah tangga, bukan sebatas merajut ekspektasi bahagia. Banyak sekali faktor yang menyebabkan harapan kusut masai saat menghadapi berbagai persoalan rumah tangga. Faktor internal biasanya ikut campur dalam memperkeruh permasalahan. Ekspektasi dan harapan akan fisik pasangan yang mula tampak luar saja kerap mengundang kekecewaan. Belum lagi ekspektasi visi misi yang mungkin tak sejalan juga mengantar pada kekecewaan yang sangat mendalam.
Faktor eksternal pun tak kalah berperan dalam mendatangkan permasalahan rumah tangga. Apalagi jika tinggal bersama mertua atau anggota keluarga lainnya. Percikan perbedaan semakin luas saja untuk membuat tiap pasutri menahan diri dari kekecewaan karena tak sesuai harapan. Di sinilah pentingnya komunikasi yang ahsan (baik) dan mengingat kembali visi misi pernikahan.
Agar permasalahan tak mengundang prahara rumah tangga, hendaklah pasutri mengidentifikasi permasalahan yang menerpa. Penting sekali identifikasi masalah sejak dini agar tak berlarut dan menimbulkan penyakit hati. Biarkan masalah tak penting dan tak genting berlalu, misal ngorok yang tak disukai, pasangan sering lupa naruh barang pada tempatnya. Sementara masalah level penting dan genting ini harus diperhatikan. Jika sampai pada masalah prinsip, hendak dibawa ke mana rumah tangga, maka perlu mediasi dan komunikasi khusus. Misal, terjadi KDRT, gaya hidup istri yang jauh dari Islam, suami tidak memberikan nafkah, ataupun permasalahan level atas lainnya.
Sungguh, urgensi identifikasi masalah penting dan genting harus segera dilakukan. Telusuri akar masalahnya apa semata demi mencari solusi, bukan mencari kesalahan pasangan apalagi pemebenaran atas kekecewaan. Identifikasi akar masalah ini insyaAllah akan menggiring pasutri pada suasana keimanan dan menyandarkan sepenuhnya permasalahan pada Allah semata.
B. Langkah Pasangan Suami-Istri (Pasutri) dalam Menghadapi Masalah Rumah Tangga
Tak ada permasalahan yang tak memiliki penyelesaian. Selama setiap insan mampu menelusuri apa sebab musabab masalah itu datang, maka ia akan mampu menghadapinya. Selama manusia bukan sebagai pecundang, ia tidak akan pernah gentar dan lari dari masalah yang ada di hadapan. Terlebih seorang Muslim, tentu sudah memiliki rambu-rambu dalam menyelesaikan tiap lembar persoalan.
Bagi pasutri Muslim, permasalahan rumah tangga merupakan salah satu masalah kehidupan untuk menaikkan level keimanan. Fiqh Munakahat telah menjabarkan secara rinci bagaimana sejatknya hubungan suami istri. Sebagaimana sudah pernah dibahas di makalah terdahulu, hubungan persahabatan seharusnya menghiasi pasutri. Kewajiban akan dilaksanakan tanpa dikomando atas dorongan keimanan.
Namun, tentu permasalahan rumah tangga tetap akan muncul meski pasutri sudah mengurangi adanya perbedaan dengan menjalin komunikasi. Terkadang seorang istri berharap suaminya mengerti apa yang diinginkan, padahal dia mengungkapnya dengan kiasan, sementara suami tidak paham, istri pun ngambek. Wajar saja terjadi. Begitupun saat suami pulang kerja mentransfer kemarahan di dalam rumah, maka si istri akan merasa heran atau bahkan sakit hati. Itu pun hal yang sering dijumpai.
Jika permasalahan rumah tangga tetap datang tak diundang, maka langkah berikut bisa kiranya untuk dipraktikkan:
1. Hendaknya pasutri menahan diri dari amarah
Saat ada goresan salah dari pasangan, seringkali amarah mengendalikan akal sehat. Lebih baik saat ada perbedaan pendapat atau masalah rumah tangga, hendaknya pasutri menahan diri dari amarah. Ucapkan kalimat thoyyibah seperti istighfar, tasbih, dan lainnya. Jika masih panas hati, maka berwudlu untuk meredakan amarah. Duduk dan berbaring juga bisa menjernihkan akal pikiran.
2. Intropeksi diri dan hormati pasangan
Saat masalah datang, hendaknya pasutri instropeksi diri. Hal apa yang memicu masalah. Jika disadari betul itu kesalahan diri, maka meminta maaf akan lebih mudah mernyelesaikan masalah. Jika hal itu memang kesalahan pasangan, maka hendaklah memberi maaf pada pasangan tanpa diminta. Hal itu bentuk kasih sayang dan menghormati pasangan.
3. Komunikasikan permasalahan dengan pasangan
Tentu saat permasalahan datang di antara pasutri, maka komunikasi sangat diperlukan. Meski pasutri telah memafkaan tanpa diminta, terkadang luka menempel dan membekas ke mana suka. Jangan sampai masalah sekecil apa pun dibiarkan sirna begitu saja, namun menyisakan bekas di hati pasangan. Komunikasi harus segera dilakukan dengan pasangan untuk mencari jalan keluar dan meredakan perselisihan atau permasalahan. Jangan sampai pasutri justru mengumbar permasalahan rumah tangga pada orang lain meski itu pada orang tuanya sendiri. Komunikasi dengan pasangan akan kembali mempererat tali kasih yang sempat membeku atau menegang.
4. Belajar memprioritaskan amal
Masalah terkadang muncul karena pasutri salah prioritas amal. Misal si istri ingin beli sandal baru, sementara suami menganggapnya belum perlu karena sandal lama masih bisa dimanfaatkan. Bisa jadi suami hendak gowes, sementara istri sedang butuh sosoknya di rumah karena anak sedang sakit. Di sinilah pasutri harus bisa memprioritaskan antara kebutuhan dan keinginan.
C. Strategi Jitu Mempertahankan Rumah Tangga di Tengah Perbedaan
Islam adalah mabda yang sahih, yang darinya lahir aturan yang sempurna sebagai peraturan hidup, menjadi rahmat dan kebahagiaan bagi seluruh umat manusia, sehingga tidak terjadi benturan dan ketakseimbangan. Benturan dan ketakseimbangan muncul ketika manusia mencampakkan Islam sebagai aturan dalam hidupnya.
Islam memiliki aturan yang menyeluruh yang mengatur seluruh aspek kehidupan, tidak terkecuali masalah pernikahan atau rumah tangga. Dalam Islam, pernikahan merupakan akad antara laki-laki dan wali perempuan yang karenanya hubungan laki-laki dan perempuan ini menjadi halal, sebagai pasangan suami-istri.
Jika keluarga yang dibentuk dilandasi fondasi kokoh yaitu akidah Islam, diiringi niat, cara, proses pernikahan yang sesuai syariat Islam, restu akan menjadi doa dari semua yang menyaksikan ikatan tersebut. Sehingga, sakinah, mawaddah, wa rahmah, bi idznillaah akan dicapai.
Hanya saja, memang pernikahan tidak selalu berjalan mulus, kadang harus dihadapkan dengan permasalahan. Seperti ketidak cocokan, perselisihan, bahkan ada yang merasa salah pilih pasangan. Tidak sedikit keluarga yang mengalami disharmoni bahkan disfungsi akut akibat impitan ekonomi dan krisis, termasuk pandemi saat ini, hingga keluarga tak bisa lagi diharapkan menjadi benteng perlindungan dan tempat kembali yang paling diidamkan. Lantas strategi apa yang harus kita lakukan, berikut rinciannya:
1) Menyelami kembali tujuan pernikahan dan bersabar
Keluarga yang tegak di atas syariat Islam, sesungguhnya akan mampu menciptakan ketenangan, ketenteraman, keadilan, dan rasa aman. Sehingga jika terjadi perasaan salah memilih pasangan mari kita kembalikan lagi pada awal tujuan pernikahan, kenapa pernikahan dilaksanakan? Untuk menjalan Sunnah Rasulullah dan menggapai ridho Allah, ataukah ada tujuan-tujuan lain.
Maka disinilah ujian kesabaran bagi pasutri tengah dimulai. Ujian memang tidak selalu datang dari luar, tapi bisa jadi ujian datang dari pasangan. Kesabaran merupakan langkah utama ketika mulai muncul perselisihan antarpasangan. Kebaikannya tidak selalu terletak pada apa yang bisa dilihat mata, namun kebaikannya bisa berupa ganjaran dari Allah Swt.. Allah Swt. berfirman:
“Dan bergaulah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS An-Nisa: 19)
Lebih dari itu, adakalanya kesabaran tersebut akan Allah balas dengan anak-anak saleh yang keluar dari orang yang sanggup kita bersabar darinya. Berkaitan dengan surah An-Nisa ayat 19 tersebut, Imam al Qurthubi menyatakan:
“… (bila kamu tidak menyukai mereka) yakni karena keburukan rupa atau keburukan perangai namun tidak melakukan kekejian (zina) atau kedurhakaan (nusyuz), dalam hal ini dianjurkan bersabar, karena bisa saja hal itu menjadi awal Allah memberinya rezeki dari istri tersebut berupa anak-anak yang saleh.
2) Tidak fokus pada kekurangan pasangan.
Sebaik apa pun rumah tangga manusia, tentulah ada kekurangan dan hal yang tidak menyenangkan sehingga menyebabkan permasalahan, demikian pula sebaik-baik istri ataupun suami pasti memiliki kekuatan. Sehingga kita tidak boleh lantas menjudge bahwa kita salah memilih pasangan, atau pasangan kita tidak sesuai dengan yang kita harapkan.
Di sinilah saatnya kedua belah pihak baik suami maupun istri melakukan introspeksi diri dan tidak saling menyalahkan yang satu dengan yang lain. Tidak menjadi kekurangan sebagai entry poin permasalahan. Justru dari kekurangan inilah bisa dibangun atau dipacu kelebihan-kelebihan. Maka dari itu kita tidak fokus pada kekurangan pasangan, tapi kita pupuk apa kelebihan dari pasangan.
Kehidupan pernikahan memang tidak selalu seindah yang diharapkan, karena memang tidak mudah menyatukan dua pribadi yang berbeda, berasal dari latar belakang yang berbeda, yang memiliki kebiasaan, karakter, keinginan yang berbeda pula. Sehingga kita jangan pernah fokus pada perbedaan apalagi pada kekurangan pasangan, agar kita mampu membangun rumah tangga sebagaimana rumah tangga Rasulullah yang senantiasa dibimbing oleh wahyu.
IV. KESIMPULAN
Dari uraian diatas terkait masalah salah pilih pasangan ada beberapa poin yang bisa ditarik benang merahnya, yaitu:
1) Penting sekali identifikasi masalah sejak dini agar tak berlarut dan menimbulkan penyakit hati. Biarkan masalah tak penting dan tak genting berlalu, misal ngorok yang tak disukai, pasangan sering lupa naruh barang pada tempatnya. Sementara masalah level penting dan genting ini harus diperhatikan. Jika sampai pada masalah prinsip, hendak dibawa ke mana rumah tangga, maka perlu mediasi dan komunikasi khusus. Misal, terjadi KDRT, gaya hidup istri yang jauh dari Islam, suami tidak memberikan nafkah, ataupun permasalahan level atas lainnya.
2) Jika permasalahan rumah tangga tetap datang tak diundang, maka langkah berikut bisa kiranya untuk dipraktikkan:
a) Hendaknya pasutri menahan diri dari amarah.
b) Intropeksi diri dan hormati pasangan.
c) Komunikasikan permasalahan dengan pasangan.
d) Memprioritaskan amal.
3) Pernikahan tidak selalu berjalan mulus, kadang harus dihadapkan dengan permasalahan. Seperti ketidak cocokan, perselisihan, bahkan ada yang merasa salah pilih pasangan. Tidak sedikit keluarga yang mengalami disharmoni bahkan disfungsi akut akibat impitan ekonomi dan krisis, termasuk pandemi saat ini, hingga keluarga tak bisa lagi diharapkan menjadi benteng perlindungan dan tempat kembali yang paling diidamkan. Berikut strategi yang harus kita lakukan untuk mengurai permasalahan:
a) Menyelami kembali tujuan pernikahan dan bersabar.
b) Tidak fokus pada kekurangan pasangan.
Dibaca

 40 total views,  1 views today

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

Artikel Terbaru

Konsultasi