Optimalisasi Potensi Anak dalam Menghadapi Kesulitan Hidup

Oleh. Afiyah Rasyad

Siapa yang tak sayang pada anak? Kalaupun ada orang tua yang kehilangan rasa sayang pada anak, sungguh kestabilan emosi dan jiwanya patut dipertanyakan. Namun, terkadang rasa sayang pada anak justru membelenggu orang tua. Sehingga rasa sayang itu bermetamorfosa menjadi rasa tak tega saat melihat anak menghadapi sedikit saja kesulitan hidup. Bahkan, ada saja orang tua yang dengan sigap memfasilitasi anak dalam segala urusan pribadinya.

Ada pula kondisi dimana orang tua merasa akan semakin repot saat membiarkan anak mengerjakan pekerjaan rumah seperti merapikan kamar, menyapu, dan mengepel. Ada juga orang tua yang tak betah melihat lantai dapur tercecer oleh nasi saat balita makan sendiri, maka disuapilah si anak sampai besar.

Pelayanan prima orang tua terkadang tak bisa dibedakan antara membimbing anak agar menjadi mandiri dan memanjakan sehingga anak biasa dilayani. Anak yang sedari bayi biasa dilayani kebutuhannya, maka ia akan menghadapi kesulitan dengan gelagapan. Saat di lingkungan luar rumah, misal di sekolah, orang tua akan sangat khawatir sehingga mereka akan menghadap guru agar anaknya diperhatikan ekstra.

Kesalahkaprahan rasa sayang yang tak terarah justru menyeret anak terus bergantung pada orang tua atau orang lain. Hak kesulitan anak akan dihadapi dan diselesaikan oleh orang lain karena anak tak mampu menghadapi dan menyelesaikannya. Dengan begitu, kemandirian si anak tersandera oleh kemudahan demi kemudahan yang disuguhkan.

Apalagi sekarang zaman serba in grup, serba online. Ada grup kelas anak-anak, namun yang sibuk ini itu adalah orang tuanya. Pekerjaan rumah (PR) diinformasikan di grup, iuran, tugas keterampilan, ini itu semua diinfokan di grup dan orang tuanya yang sibuk menyiapkan. Bahkan ada orang tua super bawel yang justru berani mendikte wali kelas atau guru anaknya agar begini dan begitu. Misal nilai ulangan anak perlu dishare di grup, siapa saja yang remidi.

Faktor Penyebab Orang Tua Tak Membiasakan Anak Menghadapi Kesulitan Hidup

Para milenial masa kini banyak yang belum mandiri dan siap menghadapi kenyataan hidup. Meski sudah baligh, ketergantungan pada orang tua sangat kuat. Sekadar mencuci piring dan gelas untuk makan diri sendiri saja enggan. Menjaga kebersihan lingkungan rumah ogah menengok. Segala bentuk pekerjaan lingkungan rumah mengandalkan ART atau orang tua.

Meski anak dipondokkan ataupun tinggal di asrama demi melatih kemandirian dan memunculkan tanggung jawab, namun saat pulang ke rumah mereka minta diperlakukan bak raja. Seakan hendak balas dendam karena di pondok padat kegiatan, jadi dk rumah untuk bersantai. Celakanya, anak akan keterusan seperti itu jika orang tua selalu menyelesaikan kesulitan hidup anak dan menuruti semua kemauannya. Ada beberapa faktor yang menyebabkan orang tua tak membiasakan anak menghadapi kesulitan, antara lain:

1. Menganggap anak belum mampu

Banyak orang tua menganggap, setua dan sedewasa apa pun anak, anak tetaplah anak kecil. Sehingga, semua keperluan anak akan selalu disediakan. Apa yang dihadapi anak akan selalu diselesaikan oleh orang tua. Menata baju, mencucikan dan menyiapkan baju hingga usia SMA, menalikan tali sepatu, menyiapkan perlengkapan kemah anak, dan lainnya karena orang tua menganggap anak belum mampu melakukannya sendiri.

2. Khawatir anak kecapekan

Kekhawatiran orang tua yang berlebihan akan membelenggu tanggung jawab anak. Siapa yang tak kasihan saat melihat anak kepanasan atau kehujanan pulang sekolah. Namun, orang tua tak lantas merampas hak kesulitan hidup anak. Misal, saat anak hendak merendam pakaiannya saat pulang sekolah dilarang karena khawatir capek. Lalu orang tua yang mencucinya, begitu terus setiap hari hingga dia dewasa.

3. Biar lebih cepat dan tidak ada yang tercecer

Memang apa yang dikerjakan orang tua akan lebih cepat dibanding anak. Misal makan, menyapu, dll. Namun, selalu menyediakan dan melayani anak makan agar cepat selesai dan tidak tercecer justru membuat anak tidak terampil makan sendiri. Anak dua tahun memang jauh dari sempurna untuk makan sendiri, justru di situlah proses belajar dan latihan mandiri. Anak balita makan sendiri memang akan membuat lantai lengket dengan butir nasi yang berserakan, basah karena kuah tumpah-tumpah, namun mereka bisa disounding sebenarnya.

4. Mengganggap anak akan bisa dengan sendirinya

Banyak orang tua yang memiliki pandangan belum saatnya anak mencuci sendiri, melakukan ini itu. Nanti kalau sudah saatnya pasti bisa. Mungkin ada benarnya anggapan itu, namun bukankah lebih baik jika anak dikawal prosesnya dalam menghadapi kesulitan, meski sekadar merapikan sepatu ke raknya, membuang sampah ke tempatnya meski di rumah. Namun, anggapan kalau sudah saatnya pasti bisa sendiri jamak dirasakan orang tua. Sehingga orang tua tak akan membiarkan anak menghadapi kesulitan hidup.

Itulah faktor utama yang menyebabkan orang tua enggan membiasakan anak menghadapi kesulitan hidupnya. Orang tua terpenjara oleh rasa sayang yang lebih bisa disebut rasa kasihan dan tidak tega melihat anak berada dalam kesulitan hidup.

Dampak Negatif saat Anak Terbiasa Dilayani dalam Menghadapi Kesulitan Hidup

Bisa dibayangkan jika anak sejak dini selalu dilayani segala sesuatu yang seharusnya dia kerjakan sendiri. Rasa sayang orang tua harusnya terbingkai dalam membersamai tumbuh kembang anak. Baik tumbuh kembang fisik, akal, ataupun jiwanya. Segala kesulitan hidup anak sejak kecil sejatinya akan melatih dan menempanya menjadi anak yang kuat, mandiri, dan bertanggung jawab. Saat kesulitan hidupnya selalu ditangani orang tua, maka hal itu akan membawa dampak negatif bagi anak. Dampak negatif tersebut antara lain:

1. Anak bersifat manja

Saat orang tua biasa melayani anak dalam menghadapi kesulitan, maka sedikit mendapat kesulitan, anak akan merengek pada orang tua untuk diselesaikan. Anak tinggal terima beres. Jika demikian, kemanjaan anak akan terpelihara hingga ia masuk fase usia baligh bahkan usia tuanya. Bukan tak mungkin, anak manja akan tumbuh dengan merepotkan orang lain.

2. Suka mengeluh

Ketika anak sudah terbiasa dalam pelayanan, maka dia akan mudah sekali mengeluhkan keadaan demi meraih perhatian dan pertolongan. Sifat mengeluh anak akan tumbuh terus sampai ketika anakntak pernah dilatih menghadapi kesulitan hidupnya.

3. Hilang rasa tanggung jawab

Anak sejak dini perlu dikatih bertanggung jawab. Misal membereskan mainan. Meski masih dua tahun, orang tua perlu meminta dan mengajari anak membereskan mainan. Permintaan itu terus diulang sampai anak benar-benar sudah bergerak atau merapikan mainannya tanpa disuruh lagi. Namun, jika anak tidak disounding dan dibimbing untuk bertanggung jawab, minimal atas barangnya, maka dia akan cenderung menggampangkan amanah atau persoalan. Kalaupun menyelesaikan hanya ala kadarnya, tidak dengan tanggung jawab yang sungguh-sungguh.

4. Mengikis rasa empati

Saat anak terbiasa dilayani dan dipenuhi kebutuhan dan kesulitan hidupnya. Dia akan cenderung tak peduli dengan keadaan sekitar dan orang lain. Anak akan menganggap tak ada perkara apa pun yang menimpanya karena akan ada orang tua yang menjadi tamengnya. Saat melihat orang lain kesusahan, mereka akan diam saja dan tak peduli. Empati si anak terkikis dengan pelayanan dari orang tua.

Dampak negatif ini bisa menimpa anak sampai ia punya anak. Maka, perlu kiranya orang bijak dalam mencurahkan kasih sayang, membimbing, dan membersamai anak-anaknya.

Optimalisasi Pembiasaan Anak Menghadapi Kesulitan Hidup

Seyogiayanya orang tua membiasakan anak menghadapi kesulitan hidup sejak dini. Namun bukan berarti, orang tua melepaskan anak berjalan sendiri tanpa arahan. Tetap orang tua yang mengoptimalkan pembiasaan dan pendampingan anak menghapai kesulitan hidup. Langkah-langkah yang bisa dilakukan orang tua dalam mengoptimalkan anak menghadapi kesulitan hidup antara lain:

1. Membersamai anak berproses menghadapi dan menyelesaikan kesulitan hidup dengan penuh kesabaran

Kesabaran itu dilakukan karena konsekuensi keimanan. Hal itu dapat mengajaran anak pun bersabar dalam menghadapi kesulitan hidup. Kesabaran ini akan mempu membimbing anak berpegang teguh pada ketentuan Allah dalam menyelesaikan ujian dan cobaan.

2. Menakar kasih sayang secara proporsional

Rasa sayang pada anak adalah hal yang thobi’i. Ia muncul karena fitrah manusia berupa gharizah nau’ (naluri kasih sayang) yang menjadi milik seluruh manusia yang terlahir ke dunia. Rasa sayang orang tua pada anak sangatlah alamiah, namuna jangan sampai rasa sayang itu menjerumuskan anak pada sifat manja, tidak mandiri, dan tak bertanggung jawab. Orang tua wajib menakar dengan tepat kasih sayangnya. Saat anak menghadapi kesulitan hidup, maka orang tua seharusnya mengarahkan dan mendampingi anak menyelesaikan masalahnya, bukan orang tua yang menyelesaikannya.

3. Memberi keteladanan dalam menyelesaikan persoalan

Saat orang tua melakukan pekerjaan rumah, maka perlu melibatkan anak untuk membantunya. Saat anak mulai belajar makan mandiri, maka orang tua memberikan contoh cara makan yang baik, misal mengawali dengan doa, ambil yang terdekat, makan dengan tangan kanan, setelah makan merapikan tempat makan, dll. Bukan justru menyuapi anak karena khawatir belepotan dan tercecer. Keteladanan dari orang tua sangat diperlukan.

4. Membuat list tugas anak untuk melatih tanggung jawab

Jika perlu, apa saja tugas anak perlu dilist dan dikomunikasikan bersama untuk melatih tanggung jawab anak. Apa saja tugasnya di rumah, misal merapikan tempat tidurnya. Hal itu tentu masih perlu bimbingan orang tua, apa lagi di usia anak belum baligh.

5. Doa

Orang tua senantiasa mendoakan anak agar diberi kemampuan dan kemudahan dalam menghadapi kenyataan hidup yang penuh onak dan duri.

Demikianlah langkah yang bisa ditempuh oranng tua dalam mengoptimalkan potensi anak untuk menyelesaikan persoalannya. Dengan membiasakan anak menghadapi kesulitan hidup sejak kecil dan bersandar pada Allah, insyaAllah ia akan terbiasa menyelesaikan masalah hidup di jalur yang tepat, yakni sesuai syariat Islam.

Dibaca

 9 total views,  1 views today

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

Artikel Terbaru

Konsultasi