Zonasi Tak Sesuai Visi Pendidikan, Rakyat Rebutan Kursi

Oleh. Rosyidatuzzahidah (Muslimah Ideologis/Duta Mabda’ Islam)

Kooordinator Nasional (Koornas) Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) Ubaid Matraji menilai kecurangan pada penerimaan peserta didik baru PPDB akan terus berulang hingga tahun-tahun mendatang, dikarenakan tidak ada perubahan sistem sejak 2021. Menurutnya, sistem zonasi menyimpang dari visi pendidikan yang seharusnya, yakni pemerataan menjadi ketimpangan bahkan menjadi ajang rebutan (TEMPO.com, 11/6/2024).

Indonesia Corruption Watch (ICW) telah merangkum beberapa praktik kecurangan terlarang yang terjadi, seperti gratifikasi, pemalsuan kemiskinan karena ada jalur afirmasi, pungli untuk jaminan penerimaan siswa, pungli dengan modus pendaftaran/administrasi dan pembelian seragam/ buku, dan jual beli kursi dengan menambah jumlah kuota (Antikorupsi.org 14/6/2024).

Sistem zonasi PPDB yang didasarkan pada Permendikbud No.1/2021 tentang PPDB yang telah berlaku, menghadirkan fakta masyarakat yang menjadi sulit memilih sekolah sesuai kemauan pribadi. Pemerintah mengklaim sistem zonasi sebagai salah satu upaya untuk pemerataan akses pada layanan pendidikan, serta pemerataan kualitas pendidikan nasional. Tujuan utamanya juga untuk menghapus kesenjangan sekolah favorit dengan tidak favorit.

Sayangnya, kebijakan sistem zonasi tidak memberikan perubahan baik bagi masyarakat. Aturan ini justru melahirkan masalah baru. Banyak terjadi kecurangan dalam praktik zonasi.

Masyarakat tetap melakukan berbagai macam cara agar bisa bersekolah disekolah yang punya fasilitas memadai. Ini menunjukkan zonasi saja tidak cukup menyelesaikan masalah pendidikan.

Sangat disayangkan, zonasi justru melahirkan kompetisi rebutan kursi karena jumlah pendaftar yang banyak, tetapi kuota sekolah yang dituju sedikit. Ini menunjukkan bahwa solusi dari pemerintah masih bersifat pragmatis. Sebenarnya, masalah yang ada didalam sistem pendidikan sangat lah komplek. Bukan sekadar murid, tetapi juga terkait fasilitas yang kurang, minimnya ketersediaan guru yang berkompeten, kegiatan belajar yang hanya terjadi transfer ilmu saja tanpa diamalkan, belum lagi masalah kurikulum yang mendidik anak sekedar sekolah untuk dapat ijazah.

Pangkal permasalahan diatas sejatinya merupakan buah dari diterapkannya sistem pendidikan sekuler, yaitu sistem pendidikan yang memisahkan agama dari kehidupan. Tujuan pendidikan yang kapitalistik juga mendorong semua elemen yang terlibat didalamnya hanya berorientasi pada uang. Penerapan sistem kapitalisme telah membuat negara hilang fokus menyediakan fasilitas pendidikan.

Realitas saat ini berbanding terbalik dengan sistem Islam. Islam menetapkan Pendidikan sebagai layanan publik yang harus diberikan oleh Negara pada setiap individu rakyat, dengan mekanisme tertentu yang sudah ditetapkan oleh syarak.

Atas dasar itu, negara wajib memberikan pelayanan terbaik. Hal-hal yang bisa dilakukan daulah/negara dalam menyiapkan pendidikan berkualitas di antaranya:

Pertama, membangun semua fasilitas pendidikan, seperti gedung perpustakaan dan laboratorium dengan layanan yang sama. Negara membiayai pembangunan bersumber dari Baitul Maal, yaitu kas negara yang berasal dari banyak pos pemasukan seperti jizyah, kharaj, hingga hasil pengelolaan SDA.

Kedua, menyiapkan pengajar/guru yang berkompeten dari sisi akademik dan berkepribadian Islam. Negara akan memenuhi semua kebutuhan guru bahkan memberi gaji yang cukup agar membuat guru lebih berkonsentrasi dalam menjalankan amanahnya.

Ketiga, menerapkan sistem pendidikan Islam yang bertujuan mencetak generasi berkepribadian islam. Bukan generasi stroberi yang berorientasi materi belaka.

Pemerataan pendidikan yang berkualitas menjadi satu hal yang akan diwujudkan oleh Negara. Adapun negara yang mampu melakukannya hanya pemerintahan Islam/Khilafah. Dengan supporting sistem lainnya, pendidikan berkualitas dan merata dalah satu keniscayaan. Nashrullahi wa fathun qariibun. Wallahu a’lam bi ash-showab.

Dibaca

Loading

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terbaru

Konsultasi