Wacana Kenaikan Pajak, Beban Rakyat Makin Banyak

Meivita Ummu Ammar
(Kontributor MazayaPost.com, Aktivis Dakwah Ideologis)

Juru Bicara Menko Marves, Jodi Mahardi melakukan klarifikasi terhadap pernyataan yang disampaikan Menko Luhut Panjaitan. Dia menuturkan bahwa saat itu Luhut bukan berbicara soal menaikkan pajak sepeda motor dalam waktu dekat. Akan tetapi, hal itu adalah wacana yang akan dilakukan dalam rangkaian upaya perbaikan kualitas udara di Jabodetabek. Hal tersebut juga sudah sempat dibahas dalam rapat koordinasi lintas kementerian/lembaga (K/L) beberapa hari lalu. Jodi menegaskan bahwa usulan kenaikan pajak muncul agar memberi efek jera tambahan bagi para pengguna kendaraan non-listrik. Dia mengungkapkan bahwa pemerintah hendak mempersulit penggunaan kendaraan pribadi sehingga masyarakat terdorong menggunakan angkutan umum (CNNIndonesia.com, 19/01/2024).

Sekilas, solusi yang ditawarkan pemerintah nampak ampuh. Namun jika ditelisik lebih jauh, ternyata masalah polusi udara tidak hanya disebabkan oleh banyaknya kendaraan bermotor. Sepanjang tahun 2015 hingga 2023, terdapat sejumlah faktor penyebab polusi udara, yaitu kasus kebakaran lahan gambut dan hutan yang terjadi secara serentak. Sebanyak 5.000 kasus kebakaran hutan, parahnya sekitar 80 juta metrik ton karbon dioksida (CO2) diproduksi dalam sehari. Selain itu, polusi dihasilkan dari sektor transportasi dan produksi energi. Adanya cemaran dari emisi pembangkit listrik tenaga batu bara yang meningkat pesat. Penyebab lainnya adalah emisi transportasi, rumah tangga, industri konstruksi, debu jalan, dan pembakaran lahan hutan pertanian yang tidak terkendali hingga memengaruhi lebih dari 25 juta penduduk.

Sedangkan berdasarkan data Infrastructure for Climate Action Report yang dikeluarkan UNOPS—kolaborasi antara UN Environment Program (UNEP) dan University of Oxford—pada 2021, menunjukkan bahwa infrastruktur bertanggung jawab terhadap 79% total terjadinya emisi gas rumah kaca di dunia dan 88% biaya yang diperlukan untuk beradaptasi (adaptation costs). Jadi, banyaknya kendaraan bermotor bukanlah penyebab satu-satunya.

Perlu adanya pengkajian lebih dalam atas wacana kebijakan kenaikan pajak bermotor. Kebijakan ini digadang-gadang sebagai upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas udara di Jabodetabek. Di sisi lain, ada dorongan penggunaan kendaraan listrik dan transportasi umum untuk mengurangi emisi gas buang. Kebijakan yang diambil hekdaknya menjamin kemaslahatan rakyat, bukan demi kepentingan swasta atau asing. Sehingga beban rakyat tidak makin banyak dengan penambahan pajak.

Untuk mengatasi masalah polusi, Islam memiliki serangkaian mekanisme yang rinci dan berkesinambungan. Kegiatan ini melibatkan banyak pihak, bukan hanya rakyat, tetapi juga dibutuhkan peran negara. Pertama, penyediaan infrastruktur publik, seperti trotoar, jalan raya, transportasi publik yang nyaman dan aman oleh negara. Kedua, mengedukasi masyarakat, membiasakan pola hidup sehat, bersih, dan cinta lingkungan.

Ketiga, pengelolaan SDA yang dilakukan secara mandiri. Berbeda dengan Kapitalisme yang telah menjadikan negeri ini bergantung pada utang dan investasi atas nama pembangunan. Keempat, diwujudkannya sistem pendidikan berbasis akidah Islam yang akan melahirkan SDM unggul. SDM ini memahami bahwa ilmu yang dimiliki akan digunakan untuk kemaslahatan rakyat. Kelima, adanya dorongan untuk para ahli agar berinovasi dan mengembangkan teknologi dalam mempelajari alam dan menemukan energi ramah lingkungan serta mengelolanya secara mandiri.

Solusi ala Islam seyogianya menjadi satu-satunya pilihan. Pada hakikatnya, solusi inilah yang akan menyelesaikan segala permasalahan. Tawaran solusi ala kapitalisme justru menjadi petaka bagi rakyat. Sebagaimana wacana kenaikan pajak kendaraan bermotor tersebut, jika diberlakukan maka akan menambah berat beban rakyat. Beban rakyat saat ini makin banyak dan menumpuk tanpa ada harapan dapat terselesaikan.

Wallahu a’lam bishshawab

 

Dibaca

Loading

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terbaru

Konsultasi