UKT Melangit, Mahasiswa Menjerit

Oleh. Syifa Rafida

Mahasiswa harus menghadapi kenyataan pahit. Di saat semua kebutuhan pokok naik, kini mahasiswa terlebih orang tua dibuat sengsara dengan wacana kenaikan UKT. UKT adalah Uang Kuliah Tunggal yang wajib dibayar mahasiswa tiap semesternya. Bahkan kenaikan UKT membuat beberapa mahasiswa harus merelakan cita-citanya.

Seperti kisah Siti Aisyah, salah satu dari ribuan mahasiswa orang yang diterima di Universitas Riau (Unri) melalui seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) kini terpaksa mundur, lantaran tak sanggup bayar UKT. Keputusan Siti Aisyah mundur pun menjadi sorotan, seperti yang dikutip dari unggahan di Instagram @pkucity pada Selasa (21/5/24).

Siti merupakan lulusan di SMA Negeri 1 Pendaling 4 Kota, Kabupaten Rokan Hulu Riau. Dirinya diterima di jurusan Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Riau melalui jalur seleksi nasional. Sayangnya UKT terendah pun masih mahal, hingga membuat ayahnya tak mampu membayar, lantaran ayah Siti hanya bekerja serabutan dan sering sakit dan akhirnya membuat pendapatan tiap harinya tak dapat dipastikan. Bahkan Siti sempat meminta pihak kampus agar diberi keringanan, hingga akhirnya Siti mendapatkan UKT golongan yang besarnya sekitar Rp 4,8 juta. Dilansir dari Tribun Medan.com.

Pendidikan merupakan pelayanan yang seharusnya diberikan negara kepada rakyat dengan gratis untuk seluruh jenjang pendidikan formal yang disediakan negara. Dengan meningkatnya UKT di Perguruan Tinggi Negri ini mengakibatkan tak sedikit dari mahasiswa yang akhirnya memilih mundur, lantaran tak sanggup menghadapi UKT yang mahal. Adanya kenaikan UKT seharusnya masyarakat menyadari betul bahwa sistem kapitalisme yang dianut saat ini bukanlah sistem yang dapat meriayah raknyatnya dengan baik. Pasalnya dalam sistem ini, pemerintah lebih cenderung memperhatikan kelompok tertentu seperti Apartur Sipil Negara (ASN) dan segolongan fakir miskin semata, sementara perhatian pemerintah pada yang lain terabaikan.

Mirisnya lagi, banyak dari mahasiswa yang akhirnya terpaksa berhutang pada pinjaman online dengan bunga selangit. Bahkan tak sedikit kampus ternama yang telah bekerja sama sengan pinjaman online (pinjol) untuk memfasilitasi mahasiswa yang tak mampu membayar UKT mereka.

Solusi pinjol bukanlah solusi yang dapat menuntaskan problem UKT, sebab dari pinjol tersebut rakyat justru semakin terbebani, lantaran bungan pinjol yang diberikan tidaklah kecil. Hal ini menunjukan bahwa negara dalam Sistem Kapitalisme tidal lagi memandang sesuatu menggunakan standar halal dan haram, karena ia merupakan riba.

Berbeda dengan Sistem Islam negara akan bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya, mulai dari sandang, pangan, dan papan. Selain itu, negara juga wajib menyediakan layanan pendidikan, kesehatan, dan keamanan secara gratis. Dengan begitu rakyat akan mendapatkan layanan pendidikan secara gratis pada semua jenjang pendidikan formal yang disediakan negara.

Dalam buku “Strategi Pendidikan Negara Khilafah” disebutkan bahwa sistem pendidikan dalam islam tiadalain bertujuan untuk mengembangkan kepribadian Islam dan mampu menciptakan kemampuan atau keterampilan pada warganya. Sehingga negara Islam akan menjadi negara maju secara teknis di dunia. Oleh sebab itu, tsaqofah Islam harus diajarkan pada seluruh jenjang pendidikan.

Pendidikan dalam sistem Isalm pun gartis, lantaran pembiayaan pendidikan dala Islam berasal dari sejumlah pihak:

Pertama, warga membiayai pendidikan secara mandiri, artinya rakyat akan mengeluarkan harta yang ia miliki dengan tujuan untuk menuntut ilmu, sehingga ia akan mendapatkan pahala yang besar di sisi Allah.

Kedua, infak atau donasi, serta wakaf dari umat untuk keperluan pendidikan.

Ketiga, pembiayaan dari negara, artinya dengan sejumlah pemasukan yang negara miliki, mulai dari pendapatan khoroj, infak, sedekah, serta pendapatan kepemilikan umum seperti minerba dan migas. Seluruhnya dapat dialokasikan oleh khalifah untuk kemaslahatan umat, termasuk dalam membiayai pendidikan.

Inilah jika Islam dijadikan sebagai ideologi, maka pemungutan biaya pendidikan dari rakyat dengan zalim tidak akan terjadi, lantaran sistem Islam memiliki solusi yang komperhensif bagi seluruh permasalahan yang ada. Jadi, mari kita wujudkan kehidupan Islam kaffah. Wallahu a’lam bishowwab.

Dibaca

Loading

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terbaru

Konsultasi