Tanggap Bencana Terbaik Hanya Bisa Terwujud dalam Sistem Islam

Oleh. Asma Sulistiawati (Pegiat Literasi)

PBB mengatakan, sebuah konvoi kecil pada hari Kamis (9/2) melintas dari Turki ke wilayah Suriah barat laut yang dikuasai pemberontak untuk memasok bantuan yang sangat dibutuhkan berupa obat-obatan, selimut, tenda dan perlengkapan penampungan PBB. Itu adalah pasokan bantuan pertama yang mencapai daerah tersebut, tiga hari setelah gempa bumi dahsyat menewaskan ribuan orang.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres meminta lebih banyak bantuan untuk membantu upaya pemulihan. Ia juga mengatakan kepada wartawan bahwa Kepala Koordinator Kemanusiaan PBB Martin Griffiths sudah berada di Turki untuk menuju wilayah-wilayah terdampak akhir pekan ini, untuk menilai apa saja kebutuhan yang diperlukan di lapangan.

Sebelum konvoi enam truk itu melintas, satu-satunya muatan dari wilayah Bab Al-Hawa yang melintasi perbatasan Turki-Suriah itu adalah jenazah-jenazah korban gempa bumi, yang merupakan para pengungsi Suriah yang melarikan diri dari perang di negara mereka dan menetap di Turki, namun tewas dalam gempa berkekuatan 7,8 magnitudo Senin (6/2) lalu. Mereka yang selamat menggendong jenazah orang terkasih mereka yang dibalut kain sambil terisak, sementara lainnya menunggu di sisi Suriah untuk menerima mereka.

Bahkan, sebelum gempa bumi itu mengguncang kedua sisi perbatasan –di mana jumlah korban jiwa pada hari Kamis telah melampaui 19.000 jiwa– wilayah Suria
barat laut yang ditinggali 4,6 juta orang itu sudah mengalami kesengsaraan ekstrem. Di mana banyak di antara para penduduk yang tinggal di kamp-kamp pengungsian dan bergantung pada bantuan kemanusiaan untuk bertahan hidup (VOA.com, 10/2/2023).

Dalam sejarah, sistem pemerintahan Islam memiliki sistem untuk mencegah bencana dan apabila terjadi pun bantuan yang diberikan cepat, tepat, dan tak bertele-tele. Ketika gempa terjadi, Khalifah Umar bertanya apakah beliau sebagai pemimpin yang tidak adil ataukah ada masyarakatnya yang bermaksiat.

Beliau pun menasihati masyakarakatnya di depan umum untuk tidak berlaku maksiat. Ketika masyarakat Hijaz diterpa musim kelaparan selama 9 bulan, negara menurunkan bantuannya.
Khalifah Umar bin Khattab ra meminta bantuan ke beberapa gubernurnya di wilayah Kekhil4f4han Islam yang sangat luas itu. Beliau menulis surat kepada Amr bin Ash di Mesir, Muawiyah bin Abu Sufyan di Syam, dan Sa’ad bin Abi Waqqash di Irak.

Surat yang disampaikan kepada Amr bin Ash berbunyi, “Bismillahirrahmanirrahim, dari hamba Allah, Umar kepada Amr bin Ash. Ba’da salam apakah engkau membiarkan saya dan penduduk Hijaz binasa, sementara penduduk Anda di sana hidup senang. Kirimkanlah bantuan!” Bantuan pun berdatangan. Dari Gubernur Amr, masyarakat Hijaz mendapatkan 20 kapal yang memuat gandum dan lemak.

Sementara lewat jalur darat dikirimkan bantuan sebanyak 1.000 unta yang mengangkut gandum dan ribuan helai pakaian. Gubernur Muawiyah mengirim 3.000 unta yang membawa gandum dan 3.000 unta lainnya untuk membawa pakaian. Sedangkan Gubernur Sa’ad bin Abi Waqqash mengirim bantuan 2.000 unta yang membawa gandum.

Rakyat pun tak perlu kelaparan lagi. Setiap harinya, pemerintahan Islam menyembelih 120 binatang untuk menjamin kebutuhan pangan masyarakat. Pernah suatu malam makan malam dihadiri 7.000 orang.

Inilah letak keagungan Islam. Umat adalah tuan dan khalifah beserta para pejabatnya memosisikan diri sebagai pelayan rakyat. Kerahmatan Islam bukan hanya untuk warga yang beragam suku, bangsa dan agamanya, tetapi untuk semesta alam.

Sistem pemerintahan Islam pun pernah menolong daerah mayoritas nonmuslim seperti Irlandia dan Amerika Serikat dalam great famine (kelaparan besar) kala itu. Amerika Serikat menandatangani surat bantuan berisi makanan kepada warga AS dari Kh1l4f4h (surat itu berbahasa Arab).

Kh1l4f4h menolong Irlandia yang juga terkena kelaparan hebat. Sumbangannya terhadap Irlandia jauh melampaui sumbangan ratu Inggris kala itu (Ratu Victoria) yang cuma dua ribu pound saja.

Khalifah Turki Utsmani, Sultan Abdul Majeed mengirim lima kapal penuh makanan ke Kota Drogheda pada Mei 1847. Sejak saat itu, warga Irlandia berterima kasih dan terus mengingat kebaikan Kekhil4f4han Islam.

Perhatian yang luar biasa dan bentuk toleransi terbaik dari Kh1l4f4h Islam. Irlandia telah terbiasa dengan simbol Islam seperti bulan sabit dan bintang. Bahkan, ada tim sepakbola Irlandia yang menggunakan bulan sabit bintang sebagai simbol klubnya.

Bantuan yang supermegah, maksimalis, dan bermanfaat ini tidak akan mungkin terwujudkan jika sistem kehidupan yang masih dipakai adalah yang ada saat ini, kapitalisme. Sistem kapitalisme hanya memperkaya golongan tertentu dan apatis terhadap korban bencana.

Oleh karena itu, jika ingin mewujudkan sebuah sistem yang kuat yang prorakyat, tegakkanlah sistem Islam, Kh1l4f4h alaa minhajin nubuwwah. InsyaAllah semua negeri akan makmur, baldatun thayyabatun wa rabbun ghafur akan terwujud.

Wallahu a’lam

Dibaca

Loading

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terbaru

Konsultasi