Remaja Pelaku Pembunuhan, Produk Sistem Sekuler

Oleh. Isturia
(Kontributor MazayaPost.com)

Kondisi remaja saat ini sangat tidak baik-baik saja. Makin ke sini, tindakan mereka makin sadis. Baru-baru ini, seorang remaja di Penajam Paser Utara tega membunuh 5 orang dalam satu keluarga yang terdiri ayah, ibu, dan tiga anaknya. Pelaku berinisial J berusia 16 tahun.

Peristiwa ini berawal dari pelaku dan teman-temannya berpesta minuman keras. Setelah pulang, pelaku mengambil parang menuju rumah
korban. Tidak hanya membunuh, pelaku juga melakukan tindak asusila. Pengakuan sementara pelaku membunuh karena dendam dan persoalan asmara dengan RJS (Republika, 8/2/2024). Sungguh miris kondisi generasi kita. Generasi bobrok hasil dari sekularisme menjadi peringatan keras bagi dunia pendidikan, keluarga, masyarakat, dan negara.

Penyebab Generasi Bobrok

Rusaknya generasi saat ini tidak lepas dari sistem sekuler yang menjauhkan generasi dari aturan Islam. Generasi amoral, keji dan merusak adalah buah dari sekulerisme. Mari kita lihat keluarga, masyarakat, dan negara dalam sistem sekuler berperan menghasilkan generasi rusak saat ini.

Pertama, keluarga. Keluarga adalah kunci untuk membentuk generasi yang berkepribadian hebat dan taat syariat. Kondisi keluarga akan berpengaruh terhadap perkembangan dan kepribadian anak seperti kurang perhatian orang tua, kondisi yang tidak stabil, dan pola asuh yang salah. Cara berpikir orang tua yang sekuler juga akan menghasilkan generasi sekuler yang tidak paham agama.

Mengharapkan anak yang saleh dan paham agama maka orang tuanya juga harus saleh. Kesalehan akan terwujud jika pola pendidikan dalam keluarga merujuk pada Islam. Orang tua yang tidak bisa memberikan teladan yang baik dalam keluarga mengakibatkan anak mencari dukungan di luar keluarga yang terkadang membawa pada pergaulan yang salah.

Kedua, masyarakat. Dukungan masyarakat sangat diperlukan untuk membentuk anak yang saleh. Pengawasan dan kontrol masyarakat juga diperlukan untuk mencegah perilaku yang menyalahi hukum Islam. Dalam kehidupan sekuler, masyarakat menganggap wajar perilaku maksiat seperti pacaran, hedonis, kehidupan liberal dll. Ada pula yang menganggap perilaku tersebut modern, alhasil kehidupan remaja saat ini dekat dengan kehidupan liberal yang menurunkan moral dan akhlak.

Ketiga, negara. Mari kita lihat ke belakang. Berapa kali kurikulum pendidikan berganti dan sejauh mana pergantian kurikukum tersebut berpengaruh positif terhadap perilaku generasi? Masih “jauh panggang dari api.” Sesuatu yang wajar karena kurikulum tersebut berasaskan sekuler yaitu terpisahnya agama dari kehidupan. Generasi yang diharapkan baik tidak akan muncul dari sistem sekuler.

Ditambah lagi saat ini era keterbukaan informasi dan digitalisasi. Mereka dengan mudah mengakses dunia maya yang berisi konten-konten buruk yang merusak generasi seperti konten porno, seks bebas, perundungan, kekerasan, dan sebagainya.

Berkaca pada kasus pembunuhan oleh remaja berinisial J, ternyata dia menyukai film bergenre dewasa yang mengandung unsur pornografi dan penyimpangan seksual. Budaya asing masuk lewat dunia maya dan mempengaruhi mereka. Jika internet dengan mudah dan bebas diakses, akan makin membuat generasi rusak. Undang-undang dan hukum tidak mampu mengatasi berbagai kejahatan dan kriminalitas.

Terbukti masih banyak pelaku kriminalitas yang tidak jera hukum. Apalagi jika pelaku masih remaja, mereka bisa berlindung dengan dalih “di bawah umur”. Padahal mereka sudah tahu benar dan salah. Dari sini, peran negara sangatlah penting dari penyusunan kurikulum, sistem pendidikan, pngawasan dunia maya, hingga hukum yang bisa memberikan efek jera.

Solusi Islam

Mengembalikan generasi saat ini menjadi generasi yang baik adalah dengan mencontoh generasi terdahulu yaitu mendidik mereka dengan Islam. Islam berasal dari Allah Taala yang tahu baik buruknya hambanya. Oleh karena itu memperbaiki generasi saat ini harus sistemis.

Islam memberikan jalan keluar mendasar dengan tiga pilar. Pertama, ketakwaan individu. Keluarga adalah pendidikan pertama bagi anak yang harus berasaskan akidah Islam. Sehingga terbentuk keimanan dan ketaatan yang mencegah kemaksiatan. Selain itu juga, anak diajarkan tanggung jawab atas setiap perilakunya dan menjadikan halal haram sebagai standar perbuatannya.

Kedua, masyarakat. Kontrol masyarakat dengan cara amar makruf nahi munkar akan mencegah individu berbuat maksiat dan tidak membiarkan kemaksiatan tumbuh subur. Sehingga fungsi masyarakat sebagai pengontrol akan berjalan baik.

Ketiga, negara. Negara menerapkan hukum Islam diseluruh aspek kehidupan. Pendidikan berbasis akidah Islam akan menghasilkan generasi yang berkepribadian Islam. Negara wajib mencukupi kebutuhan pokok rakyatnya. Negara juga mengontrol media sosial, memblokir konten-konten pornogafi dan pornoaksi. Negara menutup pabrik miras dan mengawasi peredarannya. Negara memberlakukan hukum IsIam sebagai tindakan atas pelanggaran syariat Islam.

Ketiga solusi tersebut akan efektif jika diterapkan dalam negara Khilafah. Wallahu a’lam.

Dibaca

Loading

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terbaru

Konsultasi