Ramadan Momentum Mengenalkan Ananda pada Masjid

Oleh. Lilik Solekah, S.H.I.
(Ibu Peduli Generasi)

Tak terasa, Ramadan sudah hampir separuhnya kita lalui, sudahkah kita membawa bekal banyak di hari perhitungan nanti?
Ataukah kita malah masih bersantai-santai di Ramadan ini? Jika demikian, apakah kita bisa menjamin akan pertemuan dengan Ramadhan yang akan datang? Tentu tidak.

Kebiasaan di masyarakat kita, awal mula Ramadan masih disambut dengan semangat membara, dapat pertengahan shaf salat jemaah sudah mulai menyusut, baru menjelang hari raya tinggal beberapa shaf saja. Tempat yang lebih ramai di tempat jualan baju, sandal, sepatu, jualan toples, dan jualan isi toples.

Berbicara tentang masjid, sesungguhnya adalah tempat di mana menjadi pusat dari kegiatan kaum muslim. Bukan sekadar berpenghuni orang yang sudah berbau tanah (orang tua) saja. Agar pemuda kita cinta masjid, maka pengenalan masjid ini seharusnya dilakukan sejak dini.

Kemudian bagaimana cara kita untuk mengenalkan pada masjid? Karena tak bisa kita mungkiri, di masyarakat kita terbagi dua kubu tentang keberadaan anak kecil di masjid ini.

Satu kubu yang menolak keberadaan anak kecil karena mengganggu. Kubu kedua membolehkan dengan pemakluman memang wajar sikap anak kecil, ya, dunianya main. Namun, kita sebagai muslim, dalam mengambil sikap harus berdasarkan aturan Islam. Kemudian bagaimana menurut Islam?

Tentu sudah menjadi impian dan harapan setiap orang tua bisa mendidik anak-anaknya menjadi generasi yang saleh dan salihah. Nah, momen Ramadan saat ini, bisa dijadikan ajang untuk mendidik anak-anak agar menjadi anak yang saleh. Salah satu caranya adalah dengan membiasakan mereka datang ke masjid untuk belajar salat dan belajar membaca Al-Qur’an.

Namun, sungguh hal yang sangat disayangkan apabila saat ini masih banyak di antara jemaah atau pengurus masjid yang tidak sabar dalam menghadapi anak-anak. Mereka takut kebiasaan ribut anak-anak mengganggu kekhusyukan orang yang sedang beribadah di masjid. Sehingga, tidak jarang generasi penerus ini dimarahi atau diusir untuk keluar.

Ingatlah, bagaimana Rasulullah mencontohkan bagaimana sikap beliau terhadap anak kecil di masjid. Tidak melototin anak kecil tersebut hingga ketakutan atau membentaknya hingga pulang atau dicubit dengan kukunya hingga berdarah (ini ingatan penulis melayang pada masa kecil ikut orang tua ke masjid. Pada belakang mata kaki penulis dicubit hingga berdarah), untungnya tidak membuatnya trauma. Namun, ingatan itu tetap membekas hingga siapa yang memperlakukan demikian masih segar dalam ingatan.

Banyak hadis yang menyebutkan bagaimana Rasulullah memperlakukan anak kecil dalam masjid Terkait hal ini, Abu Qatadah ra menuturkan, “Aku melihat Rasulullah saw. mengimami salat sambil menggendong cucunya, Umamah binti Abi Al-‘Ash di pundaknya. Bila beliau akan sujud, maka anak tersebut diturunkannya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menjelaskan bahwa Rasulullah saw. pun ternyata membawa anak kecil ke masjid. Namun, beliau bertanggung jawab dan tidak lepas tangan. Beliau pegangi cucunya, bahkan beliau gendong agar tidak mengganggu jemaah yang lainnya.

Ada lagi, Syaddad ra mengisahkan di suatu salat Isya, Rasulullah saw. datang sambil membawa cucu beliau, Hasan atau Husain. Beliau maju ke pengimaman dan meletakkan cucunya lalu bertakbiratul ihram. Di tengah salat, beliau sujud lama sekali. Karena penasaran, Syaddad mengangkat kepalanya untuk mencari tahu.

Ternyata sang cucu naik ke pundak Rasul saw saat beliau sujud. Syaddad pun kembali sujud. Seusai salat, jemaah bertanya, “Wahai Rasulullah, tadi engkau sujud lama sekali. Hingga kami mengira ada kejadian buruk atau ada wahyu yang turun padamu.”

Rasulullah saw. menjawab, “Bukan itu yang terjadi, tapi tadi cucuku menjadikan punggungku sebagai tunggangan. Aku tidak suka memutus kesenangannya hingga dia puas.” (HR Nasa’i dan dinilai shahih oleh Al-Hakim)

Dan masih banyak lagi kisah Rasulullah memperlakukan anak kecil dalam masjid dengan kesabaran. Seperti saat khutbah, beliau melihat kedua cucunya sempoyongan ke masjid lalu beliau turun dari mimbar untuk menggendong cucunya dan melanjutkan khutbah. Ada kisah Rasulullah mempercepat bacaan salatnya karena terdengar anak kecil nangis. Ada lagi kisah tentang Badui yang kencing di masjid, Rasulullah tidak memarahinya hanya meminta sahabat untuk menyucikannya.

Dari sini, kita ambil kesimpulan bahwa boleh membawa anak kecil ke masjid. Namun, sebagai orang tua tidak boleh lepas tangan. Kita harus mendampingi mengawasi full, ketika tantrum tidak bisa diam suaranya mengganggu isi masjid, harus segera undur diri untuk membawa pulang anaknya.

Jangan sampai anak tersebut dibiarkan sendirian ke masjid atau dititipkan
kakaknya yang juga belum baligh. Selain itu, stimulasi sebelum berangkat, pembekalan harus diberikan terus menerus agar anak tadi memahami bahwa tujuan ke masjid bukan untuk bermain, melainkan untuk beribadah. Jika sudah ada pendampingan, pembekalan, tapi kenyataan masih lari-lari jangan putus asa untuk terus mendidik, mencari inovasi baru sampai anak tadi mau ikut sholat dengan tenang di sisi kita. (Yassarallahu lana).

Dibaca

Loading

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terbaru

Konsultasi