Peserta Didik Tidak Memiliki Keterampilan Dasar, kok Bisa?

Oleh. Wa Disa
(Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Buton)

Mengapa pendidikan keterampilan penting diajarkan kepada anak usia dasar? Sebab, pendidikan tersebut dapat melatih kemampuan berpikir serta melatih dalam menyelesaikan suatu produk suatu hasil karya. Sedangkan tujuan utama dari pendidikan berbasis keterampilan adalah untuk meningkatkan relevansi pendidikan dengan nilai-nilai kehidupan nyata atau mempersiapkan peserta didik agar memiliki kemampuan, kesanggupan dan keterampilan yang diperlukan untuk menjaga kelangsungan hidup serta mengembangkan dirinya. Tetapi apalah daya, jikalau masih ditemukan anak yang sudah seharusnya lulus dari sekolah dasar tapi belum bisa membaca.

Dikutip dari Republika.co.id, investasi awal di bidang pendidikan merupakan kunci dari perkembangan yang luar biasa di Asia Timur, termasuk investasi pada pengembangan guru. Setiap tahunnya sekitar 172 juta anak di 22 negara-negara berpenghasilan menengah di Asia Timur dan Pasifik terdaftar di sekolah dasar. Hanya saja meski terjadi kemajuan yang signifikan pada angka partisipasi sekolah anak-anak di beberapa negara dan di sebagian negara-negara tidak mendapatkan keterampilan pendidikan dasar sebagaimana yang dilaporkan dalam laporan Bank dunia.

Menurut laporan tersebut, tingkat ketidakmampuan belajar yang didefinisikan sebagai ketidakmampuan anak usia 10 tahun untuk membaca dan memahami bahan bacaan yang sesuai dengan usianya berada di atas angka 50% di 14 dari 22 negara termasuk Indonesia Myanmar, Kamboja, Filipina, dan Republik demokratik rakyat Laos. Sedangkan di Malaysia yang berpenghasilan menengah-atas, learning poverty mencapai di atas 40 persen. Sebaliknya, persentase learning poverty di Jepang, Singapura, dan Republik Korea hanya berkisar di antara 3 hingga 4 persen.

Dilansir dari Kupang.com, hasil assessment kognitif peserta didik baru SMPN 11 kota Kupang yang dilakukan pada bulan Juni 2023 menemukan sebanyak 21 pelajar tidak bisa membaca menulis hingga membedakan abjad.

Miris, wajah pendidikan di dunia Islam termasuk Indonesia berada di titik rendah. Dunia Islam mengalami “Krisis Pendidikan” yang sungguh mengerikan. Semua berawal dari penerapan sekularisme. Kapitalisme sekularisme adalah paham yang menjauhkan agama dari kehidupan sehingga lahirlah ideologi kapitalisme yang menjadikan materi sebagai tujuan utama dan manfaat sebagai asas perbuatannya dari konsep ini maka tidak heran kurikulum terus-menerus berganti setiap kepemimpinan menteri baru maka kurikulum pun akan berganti. Mari berpikir sejenak, berkali-kali negeri ini berganti kurikulum, tetapi faktanya output pendidikan tak kunjung mencetak generasi yang senada dengan slogan dalam dunia pendidikan Indonesia yakni mencerdaskan kehidupan bangsa.

Alih-alih diklaim akan semakin memperbaiki kualitas pendidikan untuk anak-anak. Namun nyatanya, kurikulum pendidikan terus-menerus disempurnakan untuk menyiapkan generasi sesuai dengan kepentingan para korporasi. Muatan agama sedikit demi sedikit ditinggalkan dan hanya tertuju pada pencapaian hasil materi berupa nilai keterampilan dan sejenisnya. Alhasil, anak-anak yang tidak bisa mengikuti perubahan kurikulum akan tertinggal.

Oleh karena itu, pergantian kurikulum berkali-kali tak membawa kebaikan yang signifikan bagi pelajar. Kondisi pelajar makin tahun malah semakin memprihatinkan kualitas pendidikannya.
Kini, masalah kurikulum pendidikan negeri-negeri muslim bukan lagi masalah internal kaum muslim yang dikelola oleh para ulama, pemikir, dan para pakar.

Namun, sebuah masalah global yang tunduk pada pengawasan Barat yang melakukan sekulerisasi dan kapitalisasi pendidikan. Berbagai forum global dialog antaragama merekomendasikan perubahan kurikulum di negeri-negeri muslim. Badan-badan internasional seperti IMF dan Bank Dunia menetapkan syarat perubahan kurikulum untuk perolehan dana hibah, pinjaman atau pembatalan hutang negara tertentu.

Hal ini pun diperparah dan berujung pada perbedaan sarana dan prasarana antara kota dan desa. Hal ini juga dikuatkan laporan fiksi in the foundation features and basic education yang dipublikasikan. Bank dunia menemukan kualitas pendidikan masih tergolong rendah di daerah pedesaan dan daerah miskin dibandingkan dengan daerah perkotaan dan daerah yang lebih kaya. Faktor ini bisa lahir karena adanya kapitalisasi dan liberalisasi sektor pendidikan yang legal dalam sistem saat ini. Oleh karena itu, sebaik apa pun program pendidikan, jika napas pendidikan masih berasas sekuler, tidak akan terwujud generasi berkualitas.

Sangat berbeda dengan sistem pendidikan Islam. Dalam pendidikan Islam, negara hadir menjamin kebutuhan dasar pubik, tidak diberikan kepada individu-individu rakyat melainkan ditanggung secara mutlak oleh Khilafah. Dalam hadis Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim. Dalam hadis tersebut dijelaskan bahwa seseorang dapat menerima atau menolak hidayah dan ilmu diidentikan dengan sebidang tanah dan air hujan. Air hujan adalah kebutuhan dasar bagi umat manusia yang jika tidak dipenuhi akan menyebabkan kebinasaan.

Pengidentifikasi ilmu serta hidayah sebagai air hujan dalam hadis ini menunjukkan bahwa ilmu dan hidayah merupakan kebutuhan mendasar sebagaimana air hujan. Selain itu, keputusan Rasul terhadap kawanan perang badar juga menunjukkan bahwa pendidikan adalah hak dasar bagi umat pada masa itu tawanan perang badar diwajibkan mengajari kaum muslimin membaca tulis bagi mereka yang masih buta huruf sebagai rumusan diri mereka inilah konsep dasar pendidikan dalam Islam yakni sebagai kebutuhan dasar.

Adapun dari segi tujuan pendidikan sekolah dasar Syekh Atha bin Kholil menjelaskan dalam kitabnya ‘Dasar-Dasar Pendidikan dalam Khilafah’ sebagai berikut, pertama pendidikan harus mencetak generasi memiliki kepribadian Islam yakni pola pikir dan pola sikap mereka sesuai dengan tuntunan syariah pendidikan harus menancapkan ajidah Islam kepada peserta didik karenanya mereka akan dibekali dengan Islam yang meliputi Al-Qur’an hadis bahasa Arab dan sejenisnya. Kedua, generasi dididik menjadi calon yang akan mampu menjadi problem solver atas permasalahan kehidupan sehingga peserta didik akan dibekali dengan ilmu-ilmu dalam kehidupan diberi keterampilan untuk menguasai teknologi dan sebagainya.

Dengan sistem Islam, maka tujuan pendidikan tersebut akan tercapai. Mereka tidak hanya kaya ilmu pengetahuan, tetapi kaya akan ilmu agama dan tsaqofah Islam sehingga kelak menjadi pemimpin yang akan memimpin perubahan ke arah yang lebih baik nan gemilang. Dalam pandangan Islam, pendidikan Islam akan melahirkan calon pemimpin peradaban yang siap memainkan perannya sebagai pemimpin. Oleh karena itu, diperlukan perhatian dari pemerintah agar pendidikan dapat mencetak calon pemimpin peradaban.

Dengan demikian, pendidikan Islam sangat dibutuhkan oleh para generasi menuju peradaban Islam gemilang. Tetapi semuanya itu hanya bisa terwujud dalam negara Khilafah yang menerapkan Islam secara kaffah dalam setiap aspek kehidupan dengan manhaj kenabian. Wallahu a’lam.

Dibaca

Loading

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terbaru

Konsultasi