Perkembangan Teknologi Selaras Tingginya Kriminalitas, Apa yang Salah?

Oleh. Kemala
(Relawan Opini)

Seolah mengikuti perkembangan zaman, semakin ke sini tindak kejahatan semakin merebak dan banyak ragamnya. Salah satunya, seperti yang saat ini sedang menjadi hot topic, aksi penipuan kotak amal yang terjadi dengan memanfaatkan perkembangan teknologi, yaitu sistem pembayaran berbasis QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) di daerah Jakarta Selatan. Mirisnya lagi, kejadian ini terjadi di lingkungan masjid.

Pelaku yang diketahui adalah seorang laki-laki berusia 39 tahun bernama Mohammad Iman Mahlil Lubis, ternyata seorang mantan pegawai bank pelat merah di Indonesia. Pelaku melancarkan aksinya dengan menempelkan barcode QRIS palsu pada tiap kotak amal di area masjid. Barcode yang telah dibuat sedemikian rupa tersebut akan secara otomatis mengalirkan dana ke rekening tersangka dari para jemaah yang hendak bersedekah dengan men-scan.

Menurut penuturan Kompol Irwandhy, Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan, terindikasi lebih dari satu lokasi pemasangan QRIS palsu ini. Tidak tanggung-tanggung, pelaku melancarkan aksinya mulai dari masjid, pusat perbelanjaan hingga bank juga menjadi target lokasi pemasangan QRIS palsu buatannya (tirto.id, 12/04/23).

Namun, apa yang kemudian menjadi titik perhatian lain adalah bahwa tindak kejahatan ini dilakukan saat bulan suci Ramadan. Ketika umat muslim lainnya belomba-lomba dalam beramal kebaikan, yang terjadi oleh pelaku malah sebaliknya. Salah satu tempat kejadian perkara (TKP) yang notabenenya merupakan tempat beribadah serta kehadiran bulan Ramadan tidak mampu menjadi penghalang pelaku dalam melakukan aksi kejahatan.

Kejadian ini menambah daftar panjang tindak kriminal yang kian merebak di tahun 2023. Kekerasan remaja, pembunuhan, korupsi, dan ragam kejahatan lainnya termasuk yang melibatkan perkembangan teknologi. Sesuatu yang di satu sisi memberikan kemaslahatan dan kemudahan dalam mendukung berbagai aktivias kebaikan. Di sisi lain dapat kapan saja menenggelamkan penggunanya ke dalam jurang kemungkaran ketika tidak dimanfaatkan dengan akal sehat.

Kondisi individu yang melakukan sesuatu tanpa merujuk pada tuntunan, hingga bayangan jeruji besi dan ancaman hukuman yang setia menanti sebagai imbalan perbuatan buruk pun tidak mampu menjadi pengurung niat jahat dan memberi efek jera. Jangankan pada aturan manusia, terhadap larangan Pencipta saja sudah tak dihiraukan keberadaannya. Semua dilakukan hanya demi pencapaian kebutuhan dunia dan kesenangan sementara.

Merebaknya kriminalitas di antara banyaknya aturan yang telah diberlakukan, nyatanya semakin menunjukkan kerusakan moral yang kian terpampang nyata. Bak gayung bersambut, keadaan ini ditepuktangani oleh lingkungan hidup yang serba materialistik dalam rangkulan sistem sekuler.

Sekularisme adalah sistem yang memisahkan urusan agama dengan kehidupan individu sehari-hari dalam keluarga, masyarakat, dan bernegara. Maka, tidak mengherankan jika keberadaan nilai moral dan agama semakin hari kian terkikis habis. Dalam sistem ini, kebebasan berperilaku dan asas kebermanfaatan dijunjung tinggi, sehingga menjadi lumrah ketika bermunculan orang-orang yang berbuat bebas sekehendaknya dengah dalih kebebasan dan selama tidak mengusik kenyamanan orang lain.

Manusia dengan akal yang lemah dan terbatas, lantas sombong menganggap mampu menyelesaikan segala persoalan hidup tanpa melibatkan Pencipta, Allah Subhanahu wa Ta’ala. Lemahnya pemahaman tentang Islam berdampak besar pada perilaku individu muslim yang hanya melibatkan agama sekadarnya saja dan sebagai ritual semata. Tak ayal, Islam pun tidak dijadikan standar ketika mengambil keputusan dalam melakukan sesuatu tindakan, melainkan berdasar pada hawa nafsu semata.

Minimnya pengakuan atas keberadaan Allah dan menafikkan hubungannya dengan Sang Pencipta, melahirkan sikap acuh tak acuh terhadap perintah dan larangan-Nya. Bertindak semau hati, memilah hanya untuk sesuatu yang mendatangkan kesenangan dan kepuasan diri, demi orientasi materi. Padahal, telah dikabarkan oleh-Nya, sebagaimana termaktub dalam surah Az-Zalzalah ayat 7 dan 8 bahwa setiap kebaikan dan kejahatan sekecil biji zarah pun akan ada balasan atasnya.

Segala sikap dan perbuatan yang diambil, kelak dihadapkan atasnya hisab, akan diminta pertanggungjawabannya. Sehingga, pentingnya kontrol diri atas tiap-tiap keputusan yang akan dipilih. Kontrol yang lahir sebagai salah satu wujud peranan akidah.

Ketika seorang individu telah terbentuk padanya akidah yang kokoh, maka akan terbentuk pula ketakwaan pada dirinya. Inilah kemudian yang menjadi alarm dan rambu-rambu dalam berbuat. Mempunyai landasan shahih ketika hendak mengerjakan atau meninggalkan suatu perkara. Akidah akan menuntun pada kebaikan-kebaikan yang diperintahkan-Nya dan mencegahnya dari berbagai bentuk keharaman yang dilarang-Nya.

Keberadaan individu yang berakidah Islam yang kokoh secara langsung melakukan kontrol terhadap segala aktivitas kesehariannya, baik yang berhubungan dengan kebutuhan dan kepentingan dirinya sendiri, individu lainnya, dan dengan Pencipta. Keadaan yang kemudian mendorong terciptanya lingkungan bermasyarakat yang memiliki kesamaan visi dan misi dalam menjalani kehidupan dunia juga akhirat. Padanya, percikan-percikan tindak kemungkaran oleh individu mendapat respon langsung dari sistem kontrol yang terbentuk, diingatkan, diberi nasihat, dicarikan jalan penyelesaian sebagaimana syariat yang berlaku.

Negara hadir dengan peranannya sebagai pilar perwujudan atas ketaatan pada syariat secara formal demi tercapainya masyarakat taat aturan yang bernapaskan Islam, berdasarkan undang-undang dasar dan Al-Qur’an dan Sunah. Negara juga yang menerapkan sistem sanksi tanpa pilih kasih bagi pelanggar syariat agar semakin meminimalisir kriminalitas. Layaknya satu bangunan utuh yang kokoh, ketika ketiga unsur ini telah menjadi satu kesatuan, maka secara otomatis tercipta perlindungan atas keamanan dan ketenteraman kehidupan berbangsa dan bernegara.

Wallahu a’lam.

Dibaca

 27 total views,  2 views today

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terbaru

Konsultasi