Pemberantasan Tindak Pidana Narkoba Hingga Akarnya: Sebuah Ilusi dalam Sistem Kapitalisme Global

Oleh. Afiyah Rasyad
(Aktivis Peduli Umat)

Makin hari, kasus usang dan kelam narkoba kian merajalela. Penggerebekan dan penangkapan pemakai, pengedar, petani ganja, hingga produksinya kerap mewarnai pemberitaan di jagad nyata ataupun maya. Meski banyak penggerebekan terkait sindikat narkoba, pengguna narkoba dari hari ke hari terus bertambah dan selalu ada. Latar belakang penggunanya kian beragam, bukan hanya artis dan orang berduit saja, tetapi pelajar, ibu rumah tangga, dan masyarakat dengan level ekonomi menengah ke bawah pun banyak yang kecanduan narkoba.

Beberapa hari lalu, Epy Kusnandar, artis senior ditangkap polisi di warungnya di wilayah Kualiatas dugaan pemakaian narkoba. Setelah proses pemeriksaan dan tes urine, ternyata positif memakai ganja (liputan6.com, 12/5/2024). Sementara di wilayah Bogor, Kepolisan Resor Kota (Polresta) Bogor menangkap enam pelaku tawuran di Gang Aut, Gudang, Bogor Tengah, Sabtu (11/5/2024). Dua dari enam pelajar yang ditangkap karena aksi tawuran positif metamfetamin narkoba jenis sabu-sabu. Diserahkan ke Sat Narkoba (kompas.com, 11/5/2024).

Cara peredaran narkoba juga sangat beragam. Baru-baru ini, Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) berhasil menguak sindikat penjualan narkoba dalam bentuk kemasan makanan. Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri mengungkapkan kasus peredaran gelap narkoba selama delapan bulan terakhir, mulai dari September 2023 hingga Mei 2024, dalam periode tersebut, Satuan Tugas Penanggulangan, Penyalahgunaan, dan Peredaran Gelap Narkoba (P3GN) telah berhasil menangkap 28.382 tersangka terkait dengan kasus penyalahgunaan narkoba. Sebanyak 23.333 tersangka sedang menjalani proses penyidikan, sementara 5.049 tersangka lainnya tengah menjalani rehabilitasi. Selama periode yang sama, polisi telah menerbitkan 19.098 laporan terkait kasus-kasus narkoba (wartaekonomi.com, 11/5/2024).

Banyak sekali temuan kasus narkoba di tengah masyarakat. Ini saja yang terungkap ke permukaan, belum lagi yang belum terendus oleh aparat kepolisian, tentu lebih banyak lagi. Kasus narkoba kian menggurita. Apa yang diupayakan aparat kepolisian dalam mengungkap sindikat narkoba patut diapresiasi meski tak semua sindikat narkoba bisa diberantas secara tuntas dan masih menjadi ilusi.

Ilusi Pemberantasan Narkoba dalam Sistem Kapitalisme

Sejauh ini, aparat kepolisian sudah begitu aktif melakukan upaya pemberantasan narkoba. Hanya saja, upaya tersebut seakan kalah dengan perkembangan liar para pengedar, pemakai, dan produsennya. Tampaknya pemberantasan secara tuntas sulit diberangus di negeri ini, bahkan di dunia ini.

Narkoba seakan menjadi tren kekinian dalam pandangan kapitalisme Barat. Penyalahgunaan narkoba sejak dikampanyekan “Say No to Drug” awal tahun 2000-an nyatanya tak mengurangi jumlah pengguna. Bahkan pertanian ganja di negeri ini kian merebak. Fakta terbaru, di Badung, Bali terjadi penggrebekan vila milik si kembar dari Ukraina. Di lantai atas ada kebun ganja hidroponik, sementara di lantai bawah ada pabrik produksi narkoba jenis sabu-sabu dan ekstasi alias pil setan (radarbali.id, 8/5/2024).

Beberapa bulan lalu, kasus Fredy Pratama melibatkan banyak orang. Meski Bareskrim Polri membongkar keberadaan pabrik gelap pembuatan narkotika jenis ekstasi milik gembong narkoba Fredy Pratama di kawasan Sunter, Jakarta Utara, nyatanya polisi baru bisa menangkap kaki tangan Fredy Pratama (detik.com, 13/5/2024). Sementara dalang intelektual masih dalam penelusuran.

Hal ini jelas menunjukkan betapa rumitnya pemberantasan narkoba di negeri ini. Adanya satu penangkapan tak lantas melenyapkan kasus penyalahgunaan barang haram tersebut. Sehingga, pemberantasan narkoba hingga ke akarnya seakan menjadi ilusi saja.

Ilusi pemberantasan narkoba hingga ke akarnya tentu buka tanpa sebab. Pemberantasan narkoba masih menjadi PR besar negeri ini. Ilusi Pemberantasan narkoba menjadi ilusi dalam sistem kapitalisme karena beberapa hal, antara lain:

Pertama, kejahatan narkoba memiliki karakteristik yang berbeda dari kejahatan lainnya. Daya rusaknya dahsyat hingga bisa menyebabkan satu negara bisa lumpuh. Serangan narkoba makin gencar menyasar kawula muda. Bahkan, kejahatan narkoba jauh lebih berbahaya daripada tindak terorisme. Efek kecanduannya tak semua bisa selesai dengan rehabilitasi karena akan menyeret kejahatan lainnya.

Kedua, pandangan khas kapitalisme yang menjadikan materi sebagai asas dan banyaknya materi sebagai sumber kebahagiaan. Alhasil, individu mudah terjebak dengan arus kejahatan dan kriminalitas. Asalkan bisa kaya, cara apa pun dihalalkan meski harus menjadi pelaku kejahatan. Maka bisnis narkoba dipandang sebagai resep jitu mendatangkan harta. Narkoba adalah bisnis yang menggiurkan bagi para bandar dan gembongnya. Berbisnis narkoba menjadi pilihan tepat bagi mereka yang ingin cepat kaya secara materi. Bisnis ini menggurita bahkan di pasar-pasar gelap internasional.

Ketiga, akidah dalam sistem kapitalisme adalah sekuler, yakni memisahkan agama dari kehidupan dan negara. Jelas ini membuat manusia memiliki paradigma keliru tentang kehidupan. Banyak manusia yang salah dalam membuat visi hidup. Mereka hanya mencari kesenangan materi dan duniawi. Meski dengan cara yang diharamkan dan merugikan banyak orang, seperti penyalahgunaan narkoba, hal itu akan dijalani. Dalam kehidupan sekuler yang kapitalistik, kesenangan dan kekayaan materi adalah pencapaian tertinggi. Nahasnya, aparatur negara juga banyak yang terbelenggu penyalahgunaan narkoba ini.

Itulah beberapa sebab pemberantasan narkoba hingga ke akarnya begitu sulit dilakukan. Sehingga menjadi ilusi yang berkepanjangan. Kondisi negeri ini benar-benar darurat narkoba.

Dampak Ilusi Pemberantasan Narkoba Hingga Akarnya bagi Kehidupan

Darurat narkoba disandang negeri ini. Sindikat dan lingkaran setan kasus penyalahgunaan narkoba yang tak terselesaikan hingga akarnya tentu akan memberikan dampak negatif bagi kehidupan, terutama generasi muda penerus bangsa. Adapun dampak negatifnya antara lain:

1. Kejahatan akan kian kompleks dari penyalahgunaan narkoba. Narkoba bisa membuat suatu negeri lumpuh karena kehilangan SDM terbaiknya. Narkoba yang membuat siapa pun yang mencobanya kecanduan akan memberikan kerusakan akal yang luar biasa dan kejahatan lainnya seperti pencurian dan pembunuhan akan terjadi karena kurangnya biaya untuk membeli barang haram tersebut. Sehingga kriminalitas akan makin marak.
2. Bisnis haram narkoba akan kian menggurita di tengah kehidupan, di semua kalangan masyarakat. Apabila pemberantasan narkoba tidak sampai akarnya, bisnis haram ini akan merambah ke perkampungan yang terpencil sekalipun.
3. Ketegangan interaksi sosial akan terjadi. Hubungan antarmasyarakat tidak akan harmonis dan bisa menimbulkan permusuhan ataupun dendam yang berkepanjangan.
4. Kesehatan fisik dan mental jelas akan terganggu bagi siapa pun yang terlibat sebagai penggunanya. Sebab, narkoba adalah barang haram yang mengandung zat adiktif yang bisa mengganggu dan merusak fungsi tubuh dan akal hingga bisa menyebabkan kematian.

Itulah beberapa dampak apabila pemberantasan narkoba tak tuntas hingga ke akarnya. Dengan kondisi darurat ini, perlu upaya lebih serius dari semua pihak, terutama negara dalam memberantas kasus narkoba ini.

Upaya Tepat Memberantas Narkoba dengan Tuntas Hingga Akarnya

Berharap pada sistem kapitalisme dalam pemberantasan narkoba jelas kesalahan besar. Nyatanya, upaya pemberantasan selama ini tak sampai menyentuh akar permasalahan. Apalagi sistem kapitalisme lahir dari pandangan manusia, aturan-aturan di dalamnya berasal dari pemikiran manusia yang lemah, terbatas, dan butuh pada yang lain.

Oleh karena itu, upaya tepat memberantas narkoba hingga ke akarnya harus dilakukan dengan cara yang benar dan kembali pada sistem yang berasal dari Zat Yang Maha Benar, yakni sistem Islam. Islam bukan hanya agama yang diturunkan Allah Swt. kepada Rasulullah saw. melalui Malaikat Jibril, tetapi juga berisi seperangkat aturan hidup, berupa sistem dan hukum. Dalam kasus narkoba penyalahgunaan narkoba, Islam juga memiliki tata cara khas yang sahih.

Narkoba dalam kacamata Islam jelas adalah benda yang haram dari zatnya. Narkoba dalam istilah fiqih kontemporer disebut “al mukhaddirat.” Para ulama bersepakat bahwa narkoba adalah haram dalam berbagai jenisnya, baik itu ganja, opium, morfin, mariyuana, kokain, ecstasy, dan sebagainya.

Penyalahgunaan narkoba jelas termasuk kriminalitas yang harus diberantas hingga tuntas sampai ke akarnya. Islam memiliki mekanisme pencegahan (upaya preventif) dan penanganan (kuratif) yang menyeluruh dan fundamental. Upaya tersebut antara lain:

Pertama, Islam mewajibkan negara melakukan edukasi fundamental dan komprehensif dengan membangun ketakwaan individu dalam lingkungan keluarga, ketakwaan masyarakat, dan juga ketakwaan negara itu sendiri. Untuk mewujudkan ketakwaan ini, sistem pendidikan harus berbasis akidah Islam. Pola asuh (hadlonah) dan pendidikan Islam akan membentuk kesadaran individu untuk senantiasa taat kepada Allah Taala, baik baik dalam keramaian ataupun kesendirian. Dengan ketaatan dan suasana keimanan yang kondusif karena dijaga dan dikontrol oleh negara, seseorang akan menjauhi segala hal yang dilarang dalam Islam, termasuk narkoba. Terlebih penguasa dan aparatur negara, mereka akan amanah dengan suasana keimanan yang terjaga sehingga tidak akan tergiur apalagi terlibat dalam bisnis dan penyalahgunaan barang haram tersebut.

Kedua, Islam menetapkan amar makruf nahi mungkar sebagai kewajiban di tengah umat. Islam mewajibkan negara menjadikan suasana amar makruf sebagai bi’ah (kebiasaan) di tengah masyarakat. Ketika ada indikasi menyimpang dari perilaku individu seperti penyalahgunaan narkoba, masyarakat bisa menasihati dan langsung melaporkannya ke pihak yang berwenang. Adapun standar nilai yang berlaku adalah halal-haram, bukan menurut pandangan manusia. Dengan demikian, masyarakat memiliki kesamaan dalam menilai perbuatan seseorang.

Ketiga, Islam memiliki sanksi tegas dalam tiap jarimah. Negara akan memberikan sanksi bagi pelanggar aturan Islam tanpa pandnag bulu. Sistem Islam mengatur sanksi dalam penyalahgunaan narkoba, yaitu sanksi takzir. Dalam ulasan Ustaz Shiddiq Al-Jawi, hukuman takzir adalah sanksi yang jenis dan kadarnya ditentukan oleh kadi (hakim). Sanksi takzir bisa berbeda-beda sesuai tingkat kesalahannya. Hukuman pengguna narkoba yang baru berbeda dengan pengguna lama. Hukuman juga bisa berbeda bagi pengedar dan bahkan produsen narkoba. Takzir sampai pada tingkatan hukuman mati (Saud Al Utaibi, Al Mausu’ah Al Jina`iyah Al Islamiyah, 1/708-709; Abdurrahman Maliki, Nizhamul Uqubat, 1990, hlm. 81 & 98).

Sanksi yang tidak main-main ini jelas akan memberikan efek jera dan rasa takut pada pelaku ataupun masyarakat luas untuk melakukan hal yang sama.

Penutup

Demikianlah, Islam memiliki upaya yang tepat, teratur, dan terperinci dalam mencegah dan menangani permasalahan kejahatan besar, seperti narkoba dan lainnya. Pemberantasan narkoba harus dimulai dari menghilangkan paradigma sekuler kapitalisme yang menjadi akar masalahnya, lalu menggantinya dengan sistem Islam secara kaffah. Dengan begitu, pemberantasan narkoba takan akan menjadi ilusi.

Dibaca

Loading

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terbaru

Konsultasi