Negara Gagal Memberi Jaminan Perlindungan terhadap Anak?

Sri Wahyuni
(Ibu Peduli Negeri)

Polisi telah menetapkan tersangka dalam kasus pencabulan siswi Sekolah Dasar (SD) berusia 13 tahun di Baubau, Buton, Sulawesi Tenggara (Sultra) yang dilakukan 26 orang, rata-rata anak di bawah umur alias masih berstatus pelajar. Kapolres Baubau, AKBP Bungin Masokan Misalayuk masih belum mau mengungkapkan identitas para tersangka karena mayoritas anak di bawah umur.

“Kita sudah ada penetapan tersangka cuman kita belum mau ekspos dulu, masih menunggu pengembangan terhadap tersangka yang lain itu. Ini juga kami lakukan hati-hati, karena rata-rata tersangka anak di bawah umur.” (23/6).

Kekerasan terhadap anak masih sering terjadi baik di lingkungan masyarakat, sekolah bahkan keluarga. Pelakunya beragam bisa orang dewasa termasuk orang tua dan guru atau teman sebaya. Saat ini, pendidikan anak oleh ibu sebagai madrasah di rumah sebagian besar tidak berjalan. Mirisnya, saat ini para ibu justru didorong bekerja di luar rumah atas nama pemberdayaan perempuan. Hal ini didukung oleh regulasi yang diterapkan pemerintah yang mendukung pemberdayaan perempuan dalam ekonomi. Alhasil generasi kehilangan masa pendidikan di dalam rumah oleh seorang ibu.

Sistem sekularisme telah menghasilkan pendidikan sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Sungguh sistem pendidikan ini gagal melahirkan individu yang berakhlak mulia. Sebaliknya, sistem ini justru menghasilkan generasi yang krisis jati diri. Remaja menjadi tidak mengenal siapa dirinya dan apa tujuan Allah menciptakannya di dunia. Walhasil, bukannya menjadikan syariat sebagai standar berperilaku. Remaja malah menjadikan kepuasan sebagai tujuan utama. Pendidikan sekularisme ini juga dibentuk dari lingkungan sekitar atau masyarakat.

Masyarakat hari ini cenderung individualis. Mereka tidak peduli atas apa yang terjadi dengan sekitarnya. Bila ada tetangganya yang melakukan kesalahan, masyarakat sekuler tidak terbiasa mengingatkan. Negara membiarkan masyarakatnya menjelma menjadi masyarakat sekuler dan kapitalis.

Sistem Islam sangat berbeda dengan sistem kapitalisme. Sepanjang Khilafah berdiri selama kurang lebih 1300 tahun lamanya, Khilafah terbukti mampu melahirkan generasi unggul, pemuda berkepribadian Islam, berakhlak mulia, dan beradab. Semua ini tidak lepas dari bentuk negara yang taat dan tunduk pada aturan Allah Swt. Khilafah memiliki sistem perlindungan anak dengan tegaknya tiga pilar, yakni adanya keimanan, ketakwaan individu, dan kontrol masyarakat.

Selain itu, Khilafah hanya akan menerapkan sistem pendidikan Islam. Dalam pendidikan Islam, peserta didik akan dicetak memiliki kepribadian Islam, sehingga mereka akan selalu berusaha berpikir dan bersikap sesuai dengan standar Islam. Mereka tidak akan berani bermaksiat karena sebelum melakukan mereka sudah terbayang betapa mengerikannya hari pertanggung jawaban nanti. Selain itu, mereka akan dididik untuk menjadi ulama handal sekaligus menguasai sains dan teknologi sehingga tidak akan ada remaja yang waktunya terbuang sia-sia untuk melakukan aktivitas maksiat termasuk kekerasan.

Masyarakat akan dibentuk oleh negara menjadi masyarakat islami yang memiliki pemahaman dan keyakinan bersandar pada Islam. Sehingga mereka tidak akan abai terhadap perilaku generasi. Bahkan akan mudah menasehati generasi jika menemukannya melakukan kemaksiatan. Demikianlah negara dalam Islam yang penuh tanggung jawab dalam membina generasi serta memiliki kepribadian mulia bahkan menjadi salah satu pilar peradaban Islam.

 

Dibaca

Loading

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terbaru

Konsultasi