Miris, Semua Makin Sadis dalam Sistem Sekuler

Oleh. Latifah Wahyu S.

Akhir-akhir ini, Indonesia sedang digemparkan berbagai masalah yang disebabkan oleh para generasi muda. Tindak kekerasan yang dilakukan oleh para pemuda termasuk pelajar, semakin hari semakin meresahkan dan banyak jumlahnya. Dilansir oleh detikNews (08/04/2023), seorang perempuan di Kaliurang, Yogyakarta ditemukan dalam kondisi termutilasi menjadi 65 bagian, dan polisi telah menangkap pelaku tersebut, tak hanya itu.

Kasus lain yang serupa juga terjadi beberapa bulan terakhir sebelum kejadian ini dan beberapa waktu sebelum itu terjadi lagi kasus mutilasi lain dengan ditemukannya seorang Wanita dalam kondisi termutilasi menjadi 4 bagian di sebuah apartemen Tangerang, Banten yang dibuang di beberapa lokasi berbeda dan akhirnya polisi dapat memebekuk pelakunya. Terakhir polisi juga berhasil membekuk pelaku mutilasi di sebuah apartemen Taman Rasuna, Jakarta.

Tak berhenti sampai di situ, dilansir dari Viva Bandung (08/04/23), terjadi lagi tindak kekerasan yang dilakukan oleh seorang anak pejabat beserta teman-temannya yang menganiaya seorang anak pengurus GP Ansor hingga menyebabkan cedera serius pada otak sebab dilakukan pemukulan,tendangan pada bagian wajah, kepala belakang, leher hingga tak berdaya dan mengalami koma. Saat ini korban diketahui telah sadar, namun mengalami penurunan fungsi motorik dan trauma pada korban.

Rupanya tak hanya itu, polisi juga sempat menangkap 3 ABG di Sukabumi, Jawa Barat yang diketahui telah melakukan pembacokan yang menewaskan seorang siswi SMP. Dilansir detikJabar, Jumat (24/3/2023), peristiwa pembacokan ini geger karena korban merupakan target kedua kali dan pembacokannya ditayangkan secara langsung via Instagram, yang diikuti dengan kasus tawuran di kecamatan Purworejo, Jawa Tengah.

Dilansir dari Kompas.com pada (08/04/23), polisi berhasil menangkap 13 orang tersangka dan puluhan lain dinyatakan kabur dari perang sarung antar-geng yang terjadi pada pukul 01.00 WIB dini hari. diketahui sarung tersebut digunakan sebagai senjata tawuran yang sebelumnya telah di modifikasi. Dari kejadian ini telah diamankan dan menjadi barang bukti.

Melihat banyaknya kasus yang menimpa para generasi muda dan pelakunya juga merupakan dari kalangan mereka, berbagai motif yang dijadikan alasan sebagai dasar pembenaran dalam melakukan tindakan tersebut seperti masalah ekonomi, kisah asmara, pertemanan, hingga berbuntut dendam dalam diri mereka sehingga tak segan melakukan tindakan yang tak senonoh itu.

Indonesia Darurat Kenakalan Remaja
Banyaknya kasus tindak kekerasan, penganiayaan, hingga pembunuhan yang dilakukan oleh pemuda, khususnya di Indonesia saat ini, merepresentasikan bahwa kenakalan remaja berada pada level darurat. Fakta ini menunjukkan jika sistem pendidikan tak mampu menghasilkan para generasi yang berakhlak mulia, saling menghormati dan menyayangi antara satu dengan yang lainnya.

Padahal kita tahu, berbagai model pembelajaran yang telah di coba oleh pemerintah dalam memperbaiki kondisi ini, nyatanya tak mampu memperbaiki sedikit pun kebobrokannya, dan apabila di teliti lebih lanjut, masalah utama yang dialami dan tidak kunjung diterapkan adalah tidak ditanamkannya pemahaman ilmu agama dalam kurikulum kita. Tidak hanya itu, kondisi ini diperparah dengan adanya racun-racun dalam bentuk tontonan yang merusak akhlak, media sosial dengan konten tak berfaedah, hingga life style ala ala Barat yang saat ini digandrungi oleh banyak kalangan muda dengan alasan “biar kekinian dan tak ketinggalan zaman.

Semua itu semakin menghancurkan pola pikir dan akhlak generasi muda. Sementara negara tidak mampu memberikan solusi yang solutif untuk mengatasi hal ini, bahkan terkesan mendukung nya dengan memberikan kebebasan agar dinikmati oleh kalayak banyak sebagai bentuk kreativitas dan hiburan, sementara hukum yang berlaku tidak mampu memberikan efek jera dan malah terkesan lemah.

Akibat Sistem Kapitalisme-Sekuler
Sejatinya, sistem pendidikan berbasis kapitalis-sekulerlah yang menjadi akar masalah penyebab dari rusaknya moral dan akal para generasi muda. Yang mana kebebasan dan pola didikan dalam sistem ini akhirnya memberi banyak ruang bagi mereka untuk melakukan hal yang sia-sia, kenakalan hingga kejahatan secara bebas tanpa ada sisi kemanusiaan dan ketakutan mereka kepada Tuhannya. Terbukti dari banyaknya fakta yang saat ini kita indra, kepribadian mulia yang diharapkan pada terdidik nyatanya tidak mampu terwujud dari penerapan sistem pendidikan ala kapitalis-liberalis.

Sebaliknya, bobroknya moral dan akal dikalangan generasi saat ini malah di sebabkan karena penerapan sistem buatan manusia ini. Kurikulum yang katanya mampu memperbaiki kondisi generasi hari ini nyatanya tak mampu membuatnya menjadi sosok yang kelak mampu menjadi generasi yang mengagumkan bangsa. Alhasil, generasi yang dihasilkan mengalami penurunan taraf berpikir yang signifikan dan ternyata negara tak menyadarinya.

Dikatakan bahwa sistem ini sebagai akar dari masalah disebabkan karena pemisahan antara agama dan kehidupan yang selama ini digaungkan dan menjadi landasan bagi kapitalisme-sekuler yang diterapkan. Sistem pendidikan yang modern ala Barat, dengan berbagai metode yang diterapkan tak satu pun yang mengajarkan ketaatan kepada Sang Pencipta. Hal itu nyatanya mampu mengikis ketaqwaan individu, masyarakat, hingga negara. Sedang kebebasan karena paham liberal semakin memperburuk keadaan dan memiliki andil besar dalam membentuk karakter buruk seseorang.

Dari Individu yang seharusnya dididik lebih dulu dengan akidah oleh orang tuanya, nyatanya tidak dilakukan. Berharap sekolah mampu untuk membantu mendesain anak-anak nyatanya gagal juga dilakukan. Alhasil, bentukan dari didikan tersebut tumbuh menjadi seseorang yang tidak memiliki ketaqwaan kepada Allah Swt. sehingga dalam menjalani kehidupanya sang anak tidak mampu menentukan baik-buruk, salah-benar, boleh-tidaknya sesuai dengan syariat agama.

Ketika anak terjun di lingkungan masyarakat, tidak mampu lagi untuk memfilter apa yang harus di ikuti dan tidak. Sehingga, terbentuklah menjadi remaja yang gemar ikut-ikutan padahal yang dilakukan adalah sesuatu yang merugikan bahkan merusak masa depan mereka. Sementara negara, sekali lagi sebagai pelindung umat, nyatanya tidak mampu memberikan solusi yang cocok dalam masalah ini. Banyaknya modifikasi hukum yang di lakukan bersama wakil rakyat, tidak mampu menyelesaikan masalah ini bahkan masih terus berlanjut dengan kasus yang sama dan semakin parah.

Dari sini, kita yakini bahwa dengan memisahkan antara kehidupan mereka dengan agama ternyata semakin menjauhkan mereka dari jati dirinya. Para pemuda tumbuh tanpa arah, andaikan bercita-cita ingin menjadi apa, pada akhirnya standar keduniawian saja yang dijadikan tolok ukur pencapaian dalam hidup mereka. Gambaran seorang pemuda muslim yang bertaqwa lagi berilmu, para generasi peradaban yang berakhlak mulia lagi cerdas pemikirannya, dan generasi yang nantinya akan membangkitkan negara dari keterpurukan serta membawa peradaban menuju kegemilangan nyatanya tak mampu di torehkan oleh generasi yang dididik dalam system liberal ini.

Sistem dengan cara pandang liberal yang membebaskan individu untuk bertingkah laku, dan bebas dalam mengekspresikan diri tanpa memandang apakah agama mengaturnya atau tidak. Yang demikian itu, akan membentuk manusia menjadi sosok yang senantiasa mementingkan hawa nafsu dalam memutuskan sesuatu, termasuk dalam bertingkah laku

Negeri Mayoritas Muslim, Perlu Pembinaan Islam
Dengan melihat berbagai faktor yang menjadi akar masalah hari ini, akhirnya solusi yang harus diterapkan tidak boleh berpacu hanya dari satu lini saja, akan tetapi semua harus bekerjasama dalam membentuk para generasi yang berakhlak mulia. Mulai dari pembentukan individu oleh keluarga, sedari kecil harus diranamkan akidah Islam yang kuat sehingga hal ini akan membentuk fondasi kuat bagi kehidupan anak selanjutnya. Keluarga dalam proses mendidik tentunya harus belajar bagaimana syariat Islam itu sebenarnya, sehingga anak akan tumbuh dalam nuansa islami yang mulai menerapkan syariat sedini mungkin dalam lingkungan keluarga.

Kemudian seiring berjalannya waktu, anak akan dibina oleh didikan negara, tentunya sebagai negeri yang mayoritas penduduknya muslim, sudah semestinya setiap anak wajib mendapatkan pembinaan yang cukup dari sisi ajaran agama (Islam). Sebab, agamalah yang dapat menumbuhkan akhlak mulia. Sehingga, Ketika mereka terjun di lingkungan masyarakat, tidak akan terwarnai oleh kebiasaan yang tumbuh di sana.

Para pemuda akan menjadi sosok yang akan mewarnai lingkungannya dengan kebaikan-kebaikan, dan bukan malah terikut dengan kebiasaan buruk yang saat ini mewabah di lingkungan masyarakat kebanyakan. Keluarga, sistem didikan, dan masyarakat yang akan mendesain seorang individu mau menjadi apa. Jika dibentuk dengan ilmu agama (Islam), maka mereka akan tumbuh dengan akhlak mulia yang takut kepada Allah Ta’ala sehingga kenakalan maupun kejahatan yang dilakukan oleh pemuda dapat terhindarkan. Sebaliknya, jika mereka didesain dengan sistem liberal yang tidak menanamkan ilmu agama, maka mereka akan tumbuh menjadi sosok pemuda yang dekat dengan kemaksiatan.

Begitupun dengan negara, yang menjadi ujung tombak kekuasaan yang dimilikinya, harus melihat segala permasalahan dari berbagai sudut pandang. Bila sistem pendidikan yang kerap kali dimodifikasi, nyatanya tidak mampu sedikit pun memperbaiki keadaan, tentunya harus mengindra bahwa ada yang salah dengan sistem ini.

Pemerintah harus mengakui bahwa akar masalah yang terjadi karena sistem pendidikan liberal. Untuk itu, pemerintah pun harus menerapkan sistem pendidikan berbasis agama, baik jalur formal maupun informal. Formal melalui sistem pendidikan dengan kurikulum Islam kaffah. Informal dengan mengaruskan informasi yang baik saja via media massa, media sosial, maupun pembinaan langsung oleh lembaga dakwah dan ormas Islam. Negara harus mendukung penuh upaya ini.

Selain itu, tugas negara juga mengawasi kemungkinan hal-hal yang dapat merusak akhlak generasi, dari tontonan yang tidak mendidik, media sosial, media massa, fun, food, dan fashion yang saat ini tercemari oleh budaya Barat. Negaralah yang menerapkan hukum yang tegas dan menjerakan di tengah-tengah masyarakat bagi pelaku tawuran dan kejahatan.

Hal serupa dahulu dilakukan oleh Rasulullah Muhammad saw. dan para khalifah dalam membina generasi muda. Bagaimana hasilnya dapat kita lihat dari banyaknya para generasi Islam yang sedari kecil sudah menjadi penghafal Al-Qur’an. Pada saat itu, banyak juga para pejuang Islam yang mahir dalam berperang, menjadi ilmuwan, bahkan kegemilangan peradaban mampu ditorehkan pada masa kekhilafahan dengan pola didikan yang menghasilkan kecerdasan taraf berpikir di atas rata-rata generasi dari kebanyakan negara. Dan semua itu tercatat rapi dalam sejarah peradaban Islam.

Sayangnya, setelah keruntuhan Daulah Islam pada saat itu, menyebabkan dunia menerapkan sistem kapitalis-sekuler yang telah melahirkan penguasa yang gagal melindungi dan menjamin kemaslahatan rakyatnya.

Islam Mengatasi Kenakalan Remaja

Jika ada yang melakukan pelanggaran, maka negara Islam tidak akan segan-segan untuk memberikan sanksi. Sanksi ini diberikan semata-mata demi terwujudnya tujuan pendidikan Islam yakni membentuk kepribadian Islam dan mengokohkan pondasi keimanan.Islam. Sehingga pelanggaran tidak Kembali dilakukan karena tau bahwa syariat melarang, dan negara akan memberikan hukuman yang setimpal atas segala yang dilakukan. Generasi akan berfokus pada penempaan diri agar menjadi seorang pemuda yang tak hanya berakidah Islam tetapi juga mampu membawa perubahan bagi peradaban.

Budaya untuk membiasakan dalam beramar ma’ruf nahi mungkar juga tidak boleh dilewatkan dalam proses pembentukan karakter generasi, di tengah masyarakat. Sehingga, ketika ada yang melanggar syariat, umat tidak segan-segan untuk mencegah dan juga menasihatinya.

Negara tidak akan bekerja optimal tanpa dukungan dari sisi keluarga. Maka dari itu Negara harus memberlakukan penerapan sistem Islam juga di lingkungan keluarga agar akidah dapat tertanam dengan kuat sebab keluarga adalah salah satu pilar pembentuk kepribadian Islam. Dengan begitu, maka setiap individu akan menjadi pribadi yang berakhlak mulia dan senantiasa taat pada syariat.

Bukan hanya itu, penerapan aturan yang dilakukan oleh negara harus menyasar sekolah-sekolah untuk menerapkan kurikulum yang berbasis Islam. Tujuannya adalah agar pelajar semakin terkuatkan akidahnya, sehingga ketika sudah tertancap, sekolah akan mampu melahirkan generasi yang tak hanya berotak cerdas tetapi juga berakhlak mulia. Sehingga keinginan untuk menghabiskan waktu dengan sia-sia apalagi sampai melakukan kejahatan, tidak terbesit dalam benak siswa. Siswa akan fokus pada peningkatan kualitas diri mereka, dengan mengembangkan segala kemampuan atau skill yang di gemari dan negara mendukung penuh atas mereka dengan memfasilitasi segala apa yang dibutuhkan oleh siswa.

Terakhir, negara sebagai pemegang kekuasaan tertinggi yang memiliki kapasitas lebih dalam menjaga keamanan dan ketertiban rakyatnya juga harus memfilter apa saja yang boleh masuk dan tidak di negaranya. Semisal dengan senantiasa mengontrol media massa, media sosialdan hal-hal yang berpotensi merusak moral dan mental generasi Islam.

Dengan demikian, hanya Islamlah dengan segala aturannya yang ternyata mampu menjaga ummat nya agar menjadi seorang muslim yang berakhlak mulia. Sayangnya, saat ini sistem Islam tidak diterapkan secara sempurna di negeri ini.

Karena itu sudah semestinya kita menerapkan kembali sistem Islam secara sempurna dalam seluruh aspek kehidupan. Niscaya kasus tawuran dan kenakalan di kalangan remaja akan bisa diatasi sampai tuntas.

Wallahu a’lam bi ash-shawwab.

Dibaca

Loading

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terbaru

Konsultasi