Mikrofon Saja dimatikan, Akankah Suara Rakyat Didengarkan?

Oleh: Rahma Nadia Mumtaza

Baru-baru ini, dunia perpolitikan dihebohkan kembali dengan ulah tak masuk akal calon presiden 2024, Puan Maharani. Aksinya yang sangat irasional tersebut mendapatkan respon buruk dari masyarakat Indonesia. Pasalnya, bisa-bisanya ia mematikan mikrofon Amin AK saat interupsi. Kejadian ini telah terulang sekian kali. Seperti inikah sosok yang akan memimpin negeri ini di kemudian hari? Akan jadi apa negeri ini bila pemimpinnya seperti ini?.

Menit.co.id melansir bahwa Puan Maharani matikan mikrofon selama Jabat Ketua DPR RI saat memimpin rapat paripurna kembali terjadi dan langsung mendapat sorotan. Aksi Puan Maharani matikan mikrofon anggota Dewan Perwakilan Rakyat atau DPR saat rapat paripurna bukan kali pertama. Ini rupanya sudah tiga kali ia lakukan.

Hal tersebut mengundang kontroversi saat ia kembali mematikan mikrofon saat sidang paripurna. Kejadian tersebut terjadi pada Selasa (24/5/2022) siang. Saat itu, anggota DPR RI Fraksi PKS Amin Ak tengah menyampaikan interupsi dan menyinggung ihwal penting. Amin mempersoalkan kekosongan hukum ketiadaan pengaturan mengenai L687 dalam KUHP.

Lantas bagaimana, jika anggota DPR dalam rapat paripurna saja bisa diabaikan, apalagi rakyat biasa yang hendak menyampaikan aspirasinya yang mana mereka tak memiliki jabatan dan wewenang? Padahal selaku pejabat publik atau wakil rakyat, seharusnya mereka siap menerima saran dan kritik dari berbagai kalangan, tak terkecuali rakyat biasa. Apalagi jika hal tersebut sifatnya positif dan dapat membangun ke arah yang lebih baik.

Hal itu pun seakan menampakkan kepada publik bagaimana sifatnya. Jadi, sebenarnya saat ini tidak sedikit dari pejabat publik yang menampakkan sendiri watak buruknya, sekalipun tanpa dicari-cari sisi buruknya oleh masyarakat. Tanpa perlu bersusah payah mencari titik kelemahan mereka, mereka pun telah menampakkan sifat buruk dengan sendirinya.

Selain itu, pada akhirnya masyarakat mengetahui bagaimana perilaku pejabat atau wakil rakyat mereka yang sesungguhnya. Maka dari itu, jangan salahkan rakyat jika kepercayaan mereka kepada pejabat publik saat ini makin menurun. Sebab, para pejabat sendiri yang menjadi penyebab turunnya kepercayaan rakyat kepada mereka.

Sepatutnya, para pejabat publik dapat menerima dengan lapang dada mendengar saran ataupun kritikan dari berbagai pihak. Karena itu, sudah sepatutnya pemimpin dapat menjadi teladan yang baik bagi rakyatnya. Seharusnya pemimpin tidak hanya ingin didengar, tapi juga mau mendengar. Akankan sosok Puan yang seperti ini pantas untuk dijadikan pemimpin negeri ini.

Dengan berbagai kerusakan yang telah terjadi di negeri ini, masyarakat membutuhkan pemimpin yang siap mendengarkan jeritan dan derita rakyat. Bukan pemimpin yang hanya mementingkan kepentingan pribadinya, ingin berkuasa, ingin mendapatkan banyak harta.

Sudah saatnya negeri ini merdeka dengan makna sesungguhnya. Masyarakatnya sejahtera di bawah pimpinan seorang pemimpin yang akan menyejahterakan negeri ini beserta seluruh rakyatnya.

Dalam Islam, satu-satunya yang berhak memimpin suatu negeri adalah seorang khalifah. Khalifah yang akan menyejahterakan rakyatnya, mengabdikan diri pada negara dan rakyatnya. Khalifah akan menyelesaikan segala problematika yang terjadi di tengah-tengah rakyatnya. Tanpa adanya khalifah, umat tidak akan pernah sejahtera. Sebagaimana yang terjadi hari ini.

“Sebaik-baiknya pemimpin kalian ialah orang-orang yang kalian mencintai mereka dan mereka pun mencintai kalian, juga yang kalian mendoakan kebaikan untuk mereka dan mereka pun mendoakan kebaikan untuk kalian.” (HR. Muslim)

Wallahua’lam bissawab.

Dibaca

 7 total views,  1 views today

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

Artikel Terbaru

Konsultasi