Marwah Pendidikan Tergadaikan, Islam Menjamin Kesejahteraan

Yani,
Bogor

Rendahnya gaji dosen saat ini, menggambarkan rendahnya perhatian dan penghargaan negara atas profesi yang mempengaruhi masa depan bangsa. Dosen adalah profesi mulia, menyebarkan ilmu dan membangun karakter mahasiswa sebagai agen perubahan dan calon pemimpin masa depan. Tenaga pendidik baik dosen ataupun guru, adalah seseorang yang memiliki kompetensi mendidik, mengajar, mengarahkan, mengevaluasi peserta didik. Masa depan suatu bangsa terletak pada kualitas pendidikannya. Pendidikan yang berkualitas pastinya menjadi dambaan setiap bangsa. Akan tetapi, jika seorang tenaga pendidik menerima gaji yang tidak sesuai dengan jasa yang dicurahkan, dikhawatirkan kualitas pendidikan akan kritis (12/5).

Hasil penelitian Serikat Pekerja Kampus atau SPK mengungkap, mayoritas dosen menerima gaji bersih kurang dari 3 juta pada kuortal pertama 2023. Termasuk dosen yang telah mengabdi selama lebih dari 6 tahun. Sekitar 76 persen responden atau dosen mengaku harus mengambil pekerjaan sampingan karena rendahnya gaji dosen. Pekerjaan itu membuat tugas utama mereka sebagai dosen menjadi terhambat dan berpotensi menurunkan kualitas pendidikan (tempo.co, 12/5/2024).

Polemik gaji rendah untuk dosen di Indonesia adalah sebuah ironis, sebab hal ini terjadi di tengah mahalnya biaya pendidikan di perguruan tinggi. Padahal gaji rendah bagi dosen tidak hanya berdampak bagi kehidupan pribadi, tapi membawa konsekuensi serius bagi masa depan bangsa. Bagaimana bisa menghasilkan anak didik yang unggul dan mampu bersaing di tingkat global, jika tenaga pendidik tidak merasakan kesejahteraan. Kondisi ini sungguh membuat kita prihatin, sebab gaji yang diterima oleh para dosen sebagai pendidik para generasi justru di bawah UMR. Belum lagi beban kerja dan administrasi yang wajib dilakukan setiap dosen jelas tidak sepadan. Apalagi untuk menjadi dosen rata-rata harus mengenyam pendidikan S2 bahkan S3.

Kondisi ini makin memperlihatkan, betapa hidup dalam sistem kapitalisme tidak memposisikan dunia pendidikan dengan posisi yang layak. Kemuliaan pendidikan seharusnya menjadi aspek penting yang harus didapat oleh setiap rakyat, dan menjadi tanggung jawab negara. Namun dalam sistem kapitalisme untuk mengenyam pendidikan harus dibayar dengan harga mahal. Nyatanya, harga mahal itu hanya untuk keuntungan segelintir orang, bukan mensejahterakan para pendidik dan meningkatkan mutu pendidikan. Hal ini sangat wajar terjadi dalam sistem kapitalis, pada akhirnya yang dirugikan adalah peserta didik. Negara dalam sistem kapitalis ini telah gagal mensejahterakan para dosen. Tidak ada penghargaan terhadap jasa yang telah mereka curahkan.

Sangat berbeda jauh dengan sistem Islam, yang memuliakan dan menghargai seorang pendidik. Kedudukannya sangat dihargai karena mereka mendidik dengan ilmu, membina akhlak yang rendah jadi mulia dan mencetak generasi penerus peradaban. Contohnya pada masa pemerintahan Khalifah Uman bin Khattab, guru pada saat itu digaji sebanyak 15 dinar/bulan (1 dinar setara 4,25 gram emas). Jadi, jika saat ini harga 1 gram emas Rp1 juta, maka 15 dinar sebesar Rp63.750.000. Hal ini dilakukan sebagai bentuk memuliakan tugas guru. Karena sejatinya di dalam sistem khilafah seluruh aspek kehidupan di sejahterakan, bukan hanya aspek pendidikan saja.

Posisi dosen sebagai pendidik calon pemimpin peradaban seharusnya mendapat perhatian lebih dari para penguasa dan pemerintah negara. Sejarah Islam mencatat bagaimana cara memuliakan para guru, dosen dan tenaga pengajar. Hal itu merupakan bukti kegemilangan penerapan syariat Islam secara kaffah. Sesungguhnya hanya dengan kembali kepada syariat Islam kaffah, kita akan mendapatkan jalan keluar terbaik untuk masalah dan problematika kehidupan. Hanya dalam sistem Khilafahlah para pendidik akan mendapatkan kesejahteraan yang hakiki. Wallahu a’lam bishshowab.

 

 

Dibaca

Loading

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terbaru

Konsultasi