Maraknya Penista Agama, di Manakah Peran Negara?

Yani,
Bogor

Penistaan agama kembali terjadi. Umat pun terancam bahaya yang dapat merusak akidah Islam. Seorang pejabat Kementerian Perhubungan (Kemenhub) dilaporkan ke Polda Metro Jaya terkait dugaan penistaan agama. Beredar video seorang pria menginjak Al-Qur’an saat bersumpah di hadapan istrinya. Pria tersebut membantah berselingkuh dan melakukan sumpah dengan Al-Qur’an agar istrinya percaya.

Setelah ditelusuri, pria yang ada dalam video tersebut adalah pejabat kementerian perhubungan yang bertugas sebagai kepala otoritas Bandar Udara wilayah C Merauke. Sekertaris Direktorat jenderal perhubungan udara Cecep Kurniawan menyatakan, sebelum dilaporkan atas kasus penistaan agama Asep Kosasih juga dilaporkan atas kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Asep Kosasih telah dibebas tugaskan sementara sejak keterlibatan kasus (KDRT) (17/5/2024).

Penistaan terhadap agama adalah tindakan dengan maksud menjelekkan, menghina, mengotori, memperlakukan tidak dengan hormat sebagaimana mestinya terhadap suatu agama, tokoh-tokoh agama, simbol, ajaran, ibadah, rumah ibadah, kitab suci, dan sebagainya, dari suatu agama yang diakui sah di Indonesia. Dengan sistem kapitalisme yang diterapkan negara saat ini, mengakibatkan penista agama dapat tumbuh subur. Hal ini akan mudah terjadi, mengingat kebebasan berpendapat diakui dalam sistem sekuler kapitalisme. Sedangkan dalam Islam negara adalah sebagai penjaga akidah umat dan menetapkan semua perbuatan terikat dengan hukum syarak.

Bagaimanakah seharusnya peran negara dalam menghadapi kasus yang sering berulang-ulang terjadi di indonesia saat ini? Berulangnya kasus penistaan agama ini membuktikan, bahwa negara telah gagal menjaga kemuliaan agama juga Al-Qur’an sebagai kitab suci umat Islam.

Dalam Islam, kasus penistaan agama sangat jelas posisinya dan penangannya. Al-Qurthubi dalam tafsirnya mencatat, hukum larangan mencaci agama lain adalah hukum pasti dan tidak bisa diubah dengan alasan apapun. Pelanggaran hukum syara, adalah kemaksiatan dan harus ada sanksi tegas dari negara. Maka dari itu, solusi tuntas bagi penista agama adalah perubahan sistemik untuk menepatkan Islam agama yang berasal dari Allah dan Rasul-Nya sebagai sumber nilai hukum dan aturan untuk seluruh aspek kehidupan. Dan hanya dengan menerapkan sistem Islam kaffah akan terwujudnya negara yang bermasyarakat Islami. Karena Islam memiliki sistem pendidikan yang mampu membangun keimanan yang kuat, dan melahirkan generasi yang berkepribadian Islami yang selalu menjaga kemuliaan Islam dan umatnya.

Sistem sekuler tidak menempatkan agama pada tempatnya. Syariat Islam tidak dijadikan sebagai sumber aturan dan hukum. Selama negara masih mengabaikan syariat Islam dan bukan dijadikan sumber hukum yang berlaku, selama itu pula akan terus terjadi hal serupa dan berulang kasus penistaan agama. Maka untuk menghentikannya, negara harus mengembalikan posisi agama pada tempatnya, yaitu sebagai sumber hukum dalam mengatur semua urusan umat dan menjadikannya orientasi dalam membangun negara. Menerapkan sistem Islam secara kaffah, negara wajib melindungi kemuliaan Islam dengan adanya penjagaan yang tegas juga sanksi tegas yang menjerakan dari negara maka tidak akan muncul penista-penista agama yang baru. Wallahualam bishshowab.

 

Dibaca

Loading

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terbaru

Konsultasi