Maraknya Anak Durhaka, Pertanda Apa?

Oleh. Puji Yuli
(Kontributor MazayaPost.com)

Viral di sosial media, seorang pedagang ditemukan tewas di sebuah toko perabot di kawasan Duren Sawit, Jakarta Timur. Hasil penyelidikan polisi, pelaku nyatanya dua anak kandungnya sendiri. Kedua pelaku ditangkap di rumah kediaman yang tidak jauh dari Tempat Kejadian Perkara (TKP), yang masih berada di wilayah Duren Sawit, Jakarta Timur, pada Sabtu (22 Juni 2024) sore. Mereka menusuk ayahnya sendiri menggunakan sebilah pisau usai kedapatan mencuri (liputan6.com, 23/6/2024).

Kita turut prihatin kalau melihat fakta kriminalitas yang dilakukan oleh dua remaja yang tega membunuh ayahnya sendiri. Apalagi kasus ini viral di media sosial yang bisa diakses oleh anak anak dan remaja. Kita jadi bertanya maraknya anak durhaka saat ini pertanda apa? Mungkin pertanda adanya kerusakan karakter dan dekadensi moral mulai terjadi pada generasi muda di negeri ini. Sehingga kita bisa menemukan kasus kriminalitas seperti pembunuhan yang dilakukan oleh dua remaja kepada ayahnya sendiri dengan pisau.

Kasus ini menggambarkan rapuhnya keimanan maupun lemahnya akhlak dan budi pekerti di kalangan generasi muda. Hal ini terjadi karena kapitalisme dan sekularisme telah merusak dan merobohkan pandangan mengenai keluarga. Apalagi sekularisme melahirkan manusia manusia yang lemah keimanannya dan tidak bisa melakukan hubungan baik seorang anak dengan orang tuanya. Kondisi ini menyebabkan kurangnya rasa empati dan kasih sayang antara anak dengan orang tuanya baik ayah maupun ibu.

Kita juga jumpai adanya salah satu kasus dua anak remaja tega membunuh ayah kandungnya sendiri dengan pisau. Hal ini terjadi juga adanya pendidikan sekuler yang kurang mendidik dan memahami makna birul walidain antara anak kepada orang tua. Lahirlah generasi muda yang rusak dan tidak berakhlakul karimah serta rusak pula hubungannya dengan Allah Swt.

Kasus ini menunjukkan kepada kita maraknya anak durhaka itu pertanda apa?Pertanda adanya kerusakan generasi muda terkait norma agama maupun dekadensi moral. Hal ini terjadi sebagai buah dari liberal dan sekuler dalam kehidupan keluarga maupun lingkungan sosial masyarakat. Apa jadinya negeri ini sepuluh tahun mendatang jika maraknya anak durhaka yang tega membunuh orang tua? Maka dari itu, perlu adanya solusi untuk masalah ini agar bangsa ini bisa bermartabat dan bermoral.

Kita bisa merujuk kepada Islam dan Al-Qur’an dalam masalah ini. Di mana Islam mengatur terkait birul walidain antara anak kepada orang tuanya. Islam mendidik generasi muda agar berkepribadian Islam dalam pola pikir dan pola sikap.

Pendidikan Islam berdasarkan Al-Qur’an akan memunculkan adanya anak-anak muda yang saleh dan salihah. Mereka akan berbakti juga hormat kepada kedua orang tuanya, yaitu ibu dan bapaknya. Sebagaimana kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail maupun kisah lukman yang diabadikan oleh Allah Swt. dalam Al-Qur’an. Ini bisa dijadikan pedoman hidup bagi anak anak dan orang tua agar bisa mewujudkan birul walidain dan keluarga sakinah.

Selain itu, Islam memiliki mekanisme dalam menjauhkan generasi muda dari kriminalitas dan kemaksiatan. Islam melarang keras adanya anak-anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya baik ayah maupun ibunya. Islam menegakkan sanksi tegas bagi pelaku kekerasan maupun kriminalitas seperti pembunuhan yang dilakukan anak kepada ayah kandungnya. Sehingga Islam dan Al-Qur’an bisa mewujudkan adanya generasi muda sholeh sholehah yang berbakti kepada kedua orang tuanya dan menjadi generasi muda yang bermartabat juga berakhlakul karimah.

Dibaca

Loading

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terbaru

Konsultasi