Marak Perilaku Kriminal Anak, Buah Sistem Kapitalisme

Oleh. Rosyidatuzzahidah (Aktivis Muslimah/ Duta Mabda’ Islam)

Kasus anak berkonflik hukum meningkat pada periode 2020-2023 menurut data yang bersumber dari Direktorat Jenderal Permasyarakatan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, per 26 Agustus 2023 tercatat hampir 2.000 anak berkonflik dengan hukum. Sebanyak 1.467 anak di antaranya berstatus tahanan dan masih menjalani proses peradilan. Sementara 526 anak sedang menjalani hukuman sebagai narapidana.

Dilansir dari laman METROJAMBI.com (04/05/2024), santri Pondok Pesantren Raudhatul mujawwidin, Kabupaten Tebo, Jambi, berinisial AH (13) telah dibunuh oleh seniornya. Fakta baru yang ditemukan polisi ini telah membawa dua tersangka ke Pengadilan Negri, dengan vonis hukuman 7 tahun 6 bulan penjara bagi AR (15) dan RD (14) divonis lebih ringan yaitu 6 tahun 6 bulan panjara. Pihak kepolisian akan terus mengusut kasus kematian AH.

Di sisi lain, tepatnya di daerah Sukabumi, bocah 6 tahun menjadi korban pembunuhan dan sodomi. Polres Sukabumi mengungkapkan bahwa mayat bocah tersebut ditemukan dijurang perkebunan, dekat dengan rumah neneknya di wilayah Kec. Kadudampit. Polisi berhasil menagkap pelajar usia 14 tahun sebagai tersangka dan berstatus Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH).

Kapolres Sukabumi kota AKBP Ari Setyawan menjelaskan bahwa mayat korban ditemukan pada minggu 17 Maret 2024 setelah pencarian warga. Menurut Ari, setelah melakukan pemeriksaan terhadap pelaku, ternyata sebelum pelaku menyalurkan Hasrat bejatnya, pelaku mengaku pernah menjadi korban pencabulan atau sodomi.

Solusi pemerintah yang diatur dalam UU Nomor 11 Tahun 2012 pasal 5 ayat 1, bahwa keutamaan dari proses hukum bagi anak yaitu melalui pendekatan keadilan restorative. Artinya, lembaga peradilan harus mengupayakan pemulihan relasi antara pelaku san korban serata fungsi sosial pelaku supaya dapat dikembalikan ke masyarakat dan tidak mengulangi perbuatannya lagi.

Kurangnya Peran Orang Tua dalam Pendidikan Anak

Pendidikan yang diterima anak dalam lingkungan keluarga sangat penting bagi masa depan anak itu sendiri karena akan menentukan sifat dan karakter anak pada masa yang akan datang. Keluarga merupakan pendidik yang pertama membangun kreativitas anak.

Jika sejak kecil anak kurang mendapat pendidikan dari keluarga, akan timbul dampak negatif bagi anak. Faktor penyebab kurangnya peran orang tua dalam nenberi pendidikan bagi anak antara lain; orang tua terlalu sibuk pada pekerjaan, broken home, kondisi ekonomi kurang, kurangnya kesadaran orang tua terhadap pentingnya pendidikan.

Tumbangkan Sistem Batil Kapitalisme.

Menyorot sistem pendidikan yang diterapkan saat ini (kapitalisme-sekuler) tidak dapat menjamin lahirnya generasi penerus bangsa yang baik. Berbagai fakta menunjukkan bahwa peran sekolah tidak lagi tepat pada dasar dan tujuannnya. Maraknya kriminalitas oleh anak-anak merupakan gambaran buruknya output dalam sistem pendidikan kapitalisme.

Tekanan ekonomi yang dialami masyarakat, membuat orang tua tak lagi dekat dengan anaknya. Orang tua hanya dianggap sebagai pihak pemberi materi. Mereka sibuk mencari materi karena tuntutan sistem sebagaimana yang ditanamkan oleh kapitalisme. Sanksi yang diberikan pemerintah pun tidak membuat efek jera terlebih jika pelakuanya dibawah 18 tahun.

Semua kasus yang terjadi pada anak tidak terlepas dari minimnya pemahaman agama. Sehingga mudah lupa dan terseret pada jalan kemaksiatan. Padahal belajar agama adalah kewajiban yang harus dilakukan oleh setiap orang. Juga negara wajib menfasilitasi, memotivasi, dan mendorong masyarakat belajar agama. Ini yang tidak kita temui sekarang.

Sistem Islam Solusi Hakiki

Hal mendasar yang perlu dievaluasi pada sistem pendidikan sekuler saat ini adalah diputusnya pola pikir dan pola sikap yang berasaskan agama Islam. Seharusnya, negara bertanggung jawab membuat sistem pendidikan yang menghasilkan generasi yang bertakwa dan berilmu pengetahuan berdasarkan akidah Islam. Selain itu, negara harus memfilter media dari tayangan kekerasan, kriminalitas dan tontonan yang tidak mendidik.

Negara pun harus menghapuskan game online yang berbasis peperangan. Awalnya, game tersebut menstimulasi anak untuk cerdas menyerang dan membantai dalam dunia maya. Akhirnya, anak pun merealisasikan dalam dunia nyata.

Semua langkah-langkah ini tak mungkin terlaksana dalam sistem saat ini. Oleh karena itu, saatnya kita beralih pada sistem Islam. Sistem Islam akan diterapkan dalam kehidupan di bawah naungan institusi negara (Khilafah). Tentunya dengan pimpinan seorang khalifah yang menanamkan akidah pada dirinya dan masyarakat.

Sistem pendidikan Islam berdasarkan akidah Islam, akan menghasilkan peserta didik yang berkepribadian Islam, bukan kriminal. Peran orang tua dalam pendidikan anak sangat penting. Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya, pencetak generasi emas, para mujahid dan penemu.

Negara akan menyejahterakan rakyat, terkhusus para ibu. Islam menetapkan sanksi tegas dan tidak membedakan usia selama sudah baligh atau dilakukan dalam keadaan sadar. Jangan biarkan kapitalisme sekuler merusak segalanya. Selamatkan ibu, selamatkan keluarga, selamatkan masyarakat dengan penerapan syariat Islam secara kaffah dalam naungan Khilafah. Nashrullahi wa faathun qariibun. Wallahu a’lam bi ash-showab.

Dibaca

Loading

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terbaru

Konsultasi