Konten demi Eksistensi, Wujud Rendahnya Taraf Berpikir Generasi

Oleh. Ainun Afifah

Media sosial dijadikan sebagai hiburan dari penatnya dunia nyata. Sehingga hampir seluruh perhatian terpusat pada media sosial. Warganet Indonesia terkenal aktif dalam memproduksi konten. Sayangnya, konten-konten yang ada jauh dari edukasi. Prinsip dasarnya, yang penting eksis, yang penting viral. Meskipun di luar nalar bahkan sampai membahayakan diri.

Baru-baru ini, ramai di beritakan seorang wanita yang hendak bikin konten bunuh diri justru tewas terlilit kain. Dikutip dari CNN Indonesia (3/3/2023), korban berinisial W (21 tahun) tersebut tewas saat membuat konten candaan gantung diri di hadapan teman-temannya via video call di rumah kontarakannya Leuwiliang, Kabupaten Bogor.

Demi Eksistensi
Hari ini eksistensi diri menjadi hal yang diprioritaskan. Eksistensi dikalangan pemuda hari ini sudah sangat parah seiring dengan berkembang pesatnya teknologi. Jadilah berbagai konten dibuat, bahkan termasuk dengan cara yang membahayakan jiwa atau berlagak kaya.

Mereka rela menyakiti diri sendiri untuk mendapatkan angka viewers dan like agar kontennya trending. Semakin banyak yang nonton, maka semakin senanglah ia.

Tak bisa dimungkiri memang, ketika terkenal atau berprofesi sebagai youtuber, selebgram, dan artis medsos sangat menggiurkan. Terlebih jika sudah populer, uang mengalir deras di setiap konten yang diunggah. Sehingga, ini yang membuat orang membuat konten yang unik dan nyeleneh.

Taraf Berpikir Rendah ala Kapitalis
Perilaku ini sejatinya adalah perilaku rendah, yang muncul dari taraf berpikir yang rendah pula. Mindset ala kapitalis yang memandang dunia sebagai tempat untuk mendapatkan kepuasan sebanyak-banyaknya, termasuk mempunyai sesuatu yang bisa dipamerkan, menjadikan materi sebagai nilai sakral dan menjadi tolok ukur kebahagiaan.

Mindset kapitalis juga akan membuat orang menyisihkan halal dan haram untuk meraih yang dia inginkan. Orang akan dianggap keren ketika memiliki banyak uang sehingga banyak yang haus akan pujian dan mengejar hal ini tanpa memikirkan hasil dari perbuatannya.

Sistem hari ini gagal menunjukkan kemuliaan manusia melalui ketinggian taraf berpikirnya dengan bermindset dan berperilaku islami. Karena pendidikan yang diterapkan adalah pendidikan sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Maka tidak heran, generasi nampak PD menghalkan segala cara untuk mendapatkan keinginannya.

Butuh Support System
Sistem hari ini menggiring kita untuk menjadi generasi yang haus eksistensi dan lupa jati diri kita sebagai muslim. Karenanya, kita butuh sistem yang mendukung kita yaitu sistem Islam yang hanya bisa diterapkan oleh institusi negara.

Negara akan menyuasanakan generasi menjadi generasi berkepribadian Islam. Salah satu caranya adalah menerapkan sistem pendidikan Islam. Tujuannya selain untuk membentuk generasi yang cerdas, juga mantap kepribadian Islamnya.

Negara juga akan mengondisikan media supaya tidak membuat masyarakat berlomba-lomba memamerkan eksistensinya. Ketika ada konten yang tidak sesuai syariat, maka negara akan secepat kilat menghentikan. Sehingga, masyarakat tidak akan teracuni mindset kapitalis.

Begitulah Islam menjaga generasi, penerapan ini harus diwujudkan jika kita ingin menyelamatkan generasi sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah ketika menerapkan sistem Islam di Madinah dulu yang menghasilkan pemuda yang tangguh seperti Imam syafi’I, Al khawarizmi, Muhammad Al fatih, Shalahuddin Al ayyubi, dan yang lainnya.

Dibaca

Loading

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terbaru

Konsultasi