Kedaulatan Terancam atau Belum Merdeka?

Oleh. Wafi Mu’tashimah
(Siswi SMAIT Al-Amri)

Bagi negara menyandang gelar merdeka, kedaulatan adalah segalanya. Sebab di dunia ini setidaknya ada dua katagori negara. Negara berdaulat dan negara terjajah.

Maka aneh, apabila hari ini ada negara yang mendeklarasikan bahwa dirinya telah merdeka, namun masih tunduk pada keinginan bahkan gertakan negara lain. Katanya, ia merdeka, tapi apakah kekuasaan negara itu nyata berada di tangan anak bangsa semata?

Negara yang berdaulat meniscayakan seluruh kebijakan dalam maupun luar negerinya nihil dari campur tangan asing. Ia bebas bertindak sesuka hati tanpa adanya tekanan dari pihak manapun. Namun, hari ini sangat sulit bagi kita semua yang mau membuka mata untuk menemukan sebuah negara yang kebijakannya nol dari campur tangan negara lain. Tak perlu jauh-jauh, lihat saja lndonesia. Negeri yang kita banggakan karena telah merdeka dari penjajah kenyatannya tidaklah sedemikian manis.

Nyatanya, negeri ini masih terjajah. Negeri kita masih sering berada di bawah tekanan pihak asing. Bahkan, kebijakannya masih sarat kepentingan mereka yang malah terlihat sebagai tuan rumah sebenarnya.

Kedaulatan negeri kita luntur rasanya, saat negeri ini tidak mampu menahan kapal perang Cina masuk ke Natuna yang notabene adalah wilayah lndonesia, bahkan menuntut lndonesia memberhentikan proyek pengeborannya di sana. Karena, mereka mengklaim daerah tersebut adalah bagian dari Cina. Kita mengetahui bersama apabila daerah Laut China Selatan yang termasuk juga Natuna, saat ini tengah menjadi arena pergulatan negara-negara di dunia. Namun, akan diletakkan di mana kedaulatan negara ini jika ia tak berhasil mempertahankan Natuna.

Ini membuktikan satu hal, lndonesia gagal menjaga kedaulatan negerinya. Ya, negeri kita tidak mampu lepas dari gertakan negara lain. Indonesia masih diremehkan oleh dunia.

Tidak Anehkah?

Hingga sistem kapitalis hengkang dari dunia, keadaan seperti ini tidaklah aneh. Negara-negara di dunia pasti akan selalu mengekor pada permainan politik negara-negara di dunia. Posisi yang saat ini dipegang oleh Amerika dan mengikuti setelahnya China. Maka, wajar apabila lndonesia merinding dengan ancaman langsung darinya.

Selama kapitalis yang berkuasa, kedaulatan negara-negara dunia akan terus dipegang oleh negara utama pengemban kapitalis sekaligus negara adidaya saat ini. Jangankan kedaulatan, boleh jadi sejak awal negara tersebut sejatinya tidak pernah merdeka. Namun, hanya berganti dari pendudukan secara fisik menuju penjajahan dari balik layar.

Misalnya saja apa yang terjadi pada lndonesia. Memang, pada tanggal 17 Agustus tahun 1945 secara historis lndonesia telah terbebas dari penjajahan Belanda, akan tetapi secara defacto, lndonesia hingga kini masih menggunakan hukum pidana Belanda. Jangankan hukum pidana, kebijakan pun masih terikat dengan kepentingan asing. Terbukti dengan adanya UU Omnibus Law dan lain-lain yang sudah jelas menyengsarakan rakyat, namun masih saja disahkan.

Islam Menjaga Kedaulatan Negara

Keadaan hari ini akan berbeda jauh dengan Islam, apabila suatu saat nanti ideologi lslam yang menjadi mercusuar dunia. Tidak akan ada lagi negara yang terjajah, baik secara langsung maupun tidak langsung, serta tidak ada negara yang terancam kedaulatannya. Sebab, seluruh negara bergabung dalam satu kepemimpinan. Di mana derajat negara yang dibuka maupun tidak adalah setara.

Dalam mencegah hilangnya kedaulatan sebuah negara, lslam memiliki mekanisme sebagai berikut:

Pertama, tidak menjadikan kaum kafir sebagai wali. Allah SWT. berfirman dalam surat An-Nisa’ ayat 144 yang artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang kafir sebagai wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kalian mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)?”

Wali pluralnya auliya’ yang artinya teman yang akrab, pelindung, pemimpin, maupun penolong. Artinya, kaum Muslim baik pemimpin maupun rakyatnya haram menjadikan negara imperialis sebagai pelindung ataupun mengekor pada rencananya.

Kedua, memata-matai kedutaan asing dan menghukum pengkhianat. Campur tangan negara lain atas politik suatu negeri tak terlepas tanpa adanya para antek mereka di dalam negeri (komprador). Rasulullah Saw. telah mengajarkan pada kita cara menyikapi mereka. Islam melarang ummatnya untuk memata-matai sesama mereka (tajassus). Namun, memata-matai kedutaan asing dan lembaga-lembaga asing di dalam negeri sangat diperbolehkan.

Misalnya Abdullah Bin Ubay. Dia memiliki hubungan erat dengan dengan kafir muharib (yang memerangi lslam), kaum Yahudi Madinah dan musuh lslam lainnya. Karena itu, Nabi Saw. membiarkan Zaid Bin Arqam melakukan spionase terhadapnya. (HR Muslim, 4976)

Ketiga, memperkokoh kekuatan militer. Untuk mencegah ancaman militer dari asing, diperlukan kekuatan militer yang tangguh. Allah SWT. berfirman yang artinya:

“Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka 2dengan kekuatan yang kamu miliki dan dari pasukan berkuda yang dapat menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; tetapi Allah Mengetahuinya.” (QS Al-Anfal: 60)

Makna yang bisa diambil dari ayat di atas adalah bahwa kaum Muslim dalam menghadapi musuh-musuh Allah harus bersiap semaksimal mungkin hingga bisa menggetarkan mereka. Kalau dulu, kuda yang ditambatkan sudah mampu menggetarkan musuh, sekarang nuklir merupakan senjata yang paling ampuh untuk menakuti musuh. Maka, menyediakannya sangat dianjurkan.

Dengan mekanisme tersebut tidak akan ada lagi negara yang kehilangan kedaulatannya. Ditambah dengan kenyataan, saat lslam termanifestasikan dalam sebuah negara, negara tersebut mampu menjadi negara adidaya, negara nomor 1 di dunia. Negara yang dalam sejarahnya ditakuti oleh seluruh dunia. Bahkan, ia merupakan mercusuar dunia yang tak tertandingi.

Maka, jangan hanya menunggu negara tersebut tegak dan lslam diterapkan secara kaffah dalam bingkai negara. Tapi, mari berjuang bersama untuk menyambutnya segera. Wabillahi taufiq wal hidayah.

Wallahu a’lam bishowab.

Dibaca

 94 total views,  1 views today

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

Artikel Terbaru

Konsultasi