Kasus Kekerasan di Pesantren, Mengapa Bisa Terjadi?

Oleh. Bunda Hanif
(Pendidik)

Sungguh tragis nasib Bintang Balqis Maulana, remaja 14 tahun yang tengah menuntut ilmu di Ponpes Tartilul Quran (PPTQ) Al-Hanifiyyah, Mojo, Kediri. Bintang meninggal dengan kondisi mengenaskan pada Jumat (23-2-2024). Atas kejadian ini, kepolisian menetapkan empat orang tersangka yang tak lain adalah senior korban di pesantren.

Pihak pesantren mengatakan bahwa penyebab kematian Bintang karena terjatuh di kamar mandi. Namun, saat jenazah diangkat, terdapat tetesan darah keluar dari keranda korban. Lebih mengenaskan lagi, saat kain kafan dibuka, kondisi jenazah lebam dan terdapat bekas kekerasan fisik lainnya (BBC Indonesia, 29/2/2024).

Pada saat pemeriksaan, para pelaku mengatakan kalau Bintang susah diatur, seperti susah saat disuruh salat jemaah dan mengaji, (Detik.com, 28/2/2024). Korban sempat dilarikan ke RS Arga Husada Branggahan Luwih setelah mengalami kekerasan, namun sesampainya di RS, ternyata korban sudah meninggal (Tirto, 29/2/2024).

Kasus Bintang bukanlah kasus kekerasan pertama yang terjadi di pesantren. Hampir setiap tahun ada laporan kasus kekerasan yang terjadi di lingkungan pesantren. Masih di bulan yang sama, seorang santri (15) ponpes di Makassar meninggal setelah mendapatkan luka serius di kepala akibat dianiaya seniornya. Masih banyak lagi kasus serupa yang terjadi di daerah lain seperti di Kuningan, Jawa Barat, di Bangkalan, Madura, dan Ponpes Modern Gontor.

Selain kasus kekerasan, yang tak kalah miris adalah kasus pelecehan seksual hingga pemerkosaan terhadap santri perempuan. Pelakunya justru orang-orang yang seharusnya menjadi pelindung korban, seperti guru, pengasuh, dan pimpinan ponpes.

Dari sekian banyaknya kasus kekerasan dan pelecehan yang terjadi di pesantren, banyak pihak mengusulkan pembubaran pesantren. Usulan ini tentu berlebihan dan tidak solutif. Sebenarnya, jasa pesantren dalam mencerdaskan bangsa sangatlah besar. Selama ini, pesantren sudah meluluskan alumni yang tidak sedikit jumlahnya yang tersebar di seluruh Indonesia. Mereka bahkan memberi manfaat yang luar biasa bagi kemajuan negeri ini.

Bahkan para alumni pesantren banyak yang melanjutkan pendidikan agama ke luar negeri, seperti Madinah, Mesir, Sudan, Turki, Yaman, dll. Saat pulang, mereka menjadi ahli tafsir, hadis, fikih, dll. Dengan ilmu yang mereka miliki, mereka menjadi ulama yang “menerangi” umat.

Namun, pesantren tidak hidup di ruang kosong. Pesantren berada di tengah-tengah masyarakat dan sistem yang sekuler sehingga berdampak pada kinerja pesantren. Sistem sekulerisme telah melahirkan generasi yang rusak. Sehingga anak-anak yang dianggap “nakal” oleh orang tuanya dimasukkan ke pesantren dengan harapan bisa tobat dan menjadi baik di bawah bimbingan kyai dan para ustadz di ponpes. Namun, kenakalan mereka bukan berkurang justru makin parah dan mereka melakukan perundungan pada temannya, karena dari seluruh penjuru tanah air berkumpul anak-anak “nakal.”

Perundungan dan kekerasan akan terus terjadi selama sistem pendidikan dan sistem kehidupan di negeri ini masih sekuler. Sekularisme telah menjauhkan manusia dari standar perbuatan dalam Islam, yaitu halal atau haram. Manusia sekuler tidak peduli pahala dan tidak takut dosa. Perbuatan mereka didasarkan pada hawa nafsu, asalkan mereka puas dan senang, mereka akan melakukan apapun sekalipun itu mengancam nyawa orang lain. Sistem rusak inilah yang seharusnya dibasmi hingga ke akar-akarnya.

Pengurus pesantren yang bersalah tetap harus diproses secara hukum demi tegaknya keadilan. Pelaku juga harus diberi sanksi tegas. Namun, semua itu tidak cukup. Kita butuh solusi sistemis untuk mencegah kasus kekerasan terjadi lagi di ponpes.

Pesantren adalah sebuah lembaga pendidikan yang berada di bawah sistem negara ini. Oleh karena itu, untuk menghentikan kekerasan di pesantren harus diawali dengan perubahan mendasar terhadap sistem pendidikan di negara ini. Asas sekuler telah nyata melahirkan budaya kekerasan dan generasi rusak. Sudah semestinya asas sekuler diganti dengan asas yang sahih yaitu akidah Islam.

Penanaman akidah Islam akan melahirkan generasi yang taat pada Allah Swt. Generasi yang taat pada Allah Swt. akan menjadikan halal/haram sebagai standar perbuatannya. Generasi muslim pastinya memiliki sikap penyayang pada orang lain dan tidak akan melakukan kekerasan untuk menyelesaikan masalah. Generasi muslim yang demikian adalah hasil dari sistem pendidikan Islam yang bertujuan membentuk syahsiah (kepribadian) Islam.

Sistem pendidikan Islam, tidak hanya mengurusi murid/santri, tetapi juga guru dan lembaga pendidikannya. Lembaga pendidikan harus mengikuti kurikulum dan aturan-aturan yang sudah ditetapkan negara, yakni kurikulum Islam berbasis akidah Islam dan aturan sesuai syariat Islam.

Negara juga memberikan pendidikan gratis karena pendidikan merupakan kebutuhan dasar masyarakat. Para guru, pengurus sekolah dan lembaga pendidikan akan dibina oleh negara agar mereka memahami visi, misi, strategi, dan kurikulum pendidikan Islam. Negara juga bersikap proaktif mendata, mengurusi, mengevaluasi dan mengawasi semua lembaga pendidikan.

Upaya yang dilakukan negara secara profesional dalam mengarahkan dan mengawasi semua lembaga pendidikan agar tidak ada murid/santri yang terabaikan bahkan mengalami penganiayaan. Inilah gambaran negara dalam sistem Islam. Melakukan upaya pencegahan sebelum terjadi kasus. Bukan hanya bergerak memadamkan api ketika kebakaran sudah meluas. Wallahu a’lam bissawwab.

Dibaca

Loading

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terbaru

Konsultasi