Kapitalisme Menghasilkan Perusahaan yang Abai Terhadap Keselamatan Pekerja

Oleh. Devy Wulansari, S.Pd.
(Aktivis Muslimah-Tinggal di Malang)

Anggota Komisi VII DPR Mulyanto meminta pemerintah menghentikan sementara semua operasional smelter nikel asal Cina di Indonesia. Hal ini buntut insiden ledakan di PT Indonesia Tsingshan Stainless Steel (ITSS) dikawasan Indonesia. Beliau menyampaikan keprihatinannya atas kecelakaan kerja terjadi lagi. Beberapa waktu sebelumnya juga terjadi kecelakaan di smelter PT GNI yang mengakibatkan dua orang meninggal dunia.

Pemerintah perlu mengaudit semua smelter tersebut secara ketat. Beliau juga menyampaikan bahwa mesti dilakukan secara profesional, objektif dan menyeluruh terhadap aspek keamanan dan keselamatan kerja. Menurut Mulyanto, kualitas barang yang digunakan untuk menunjang operasional smelter juga mesti dicek. Apalagi sebagian besar alat kerja di smelter milik Cina diimpor dari Cina juga. “Kita perlu tahu. Jangan-jangan barang dan suku cadang yang dipakai tidak memenuhi syarat yang ditentukan.” Lebih lanjut, Mulyanto mengatakan insiden di PT ITSS pagi ini mesti menjadi pelajaran berharga yang benar-benar dipahami. Apalagi, ledakan ini menjadi ledakan terbesar dalam sejarah pengoperasian smelter milik perusahaan Cina di Indonesia (tempo.co, 24/12/2023).

Berulangnya kecelakaan kerja mengindikasikan adanya kelalaian perusahaan dalam menjamin keselamatan dan abainya upaya pencegahannya. Ini meneguhkan potret Perusahaan dalam Sistem Kapitalisme, yang mengutamakan keuntungan dan abai akan tanggung jawabnya terhadap pekerja. Selain itu, hal lain yang berpengaruh yakni regulasi sistem sanksi negara Kapitalisme cenderung tidak tegas kepada para investor meski mereka melakukan pelanggaran. Tidak aneh kezaliman dalam sistem kapitalisme terus berulang. Negara akan terus berada di bawah kendali para pemilik modal (investor), baik asing maupun aseng.

Harga nyawa tak berarti dalam sistem kapitalisme. Kecelakaan kerja terus terjadi, tidak ada satu pun buruh yang mengharapkan itu terjadi pada dirinya. Mereka selalu berharap bisa bekerja dengan kondisi yang sehat dan pulang kerja dalam kondisi selamat.

Hilangnya Peran Pemimpin sebagai Pelindung

Pemimpin adalah pelindung untuk umatnya. Di mana seorang pemimpin mestinya menjadi garda terdepan ketika ancaman menimpa umatnya. Selain itu, juga akan memastikan setiap perusahaan menjalankan Konsep Kesehatan Kerja (K3) dan akan tegas memberikan sanksi kepada perusahaan yang lalai dari tanggung jawabnya. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw,

“Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll)

Akan tetapi, dalam Sistem demokrasi saat ini, sosok pemimpin sebagai pelindung seperti halusinasi semata karena terbukti penguasa begitu abai bahkan melindungi rakyatnya dari serangan musuh atau asing. Sehingga, lagi-lagi rakyatlah yang menjadi umpan atas tidak tegasnya pemimpin dalam mengurusi urusan rakyat bahkan nyawa rakyat yang menjadi taruhannya.

Beginilah jika pemimpin tidak memiliki ikatan kuat akidah yang menancap dan bahkan meninggalkan hukum syara dalam aturan kehidupan. Maka, imbasnya akan menimbulkan kemudhorotan yang terus terjadi.

Jika dalam sistem kapitalisme pekerja hanya dianggap sebagai budak, di mana kesehatan, keselamatan, dan kesejahteraannya tidak begitu diperhatikan oleh negara, lain halnya dalam sistem pemerintahan Islam. Dalam Daulah Khilafah, para buruh akan begitu diperhatikan, baik secara teknis maupun nonteknis. Secara teknis, Khilafah akan selalu berusaha menciptakan kondisi lapangan kerja yang aman, nyaman, dan kondusif bagi pekerja. Khilafah juga akan selalu memperhatikan setiap kondisi peralatan yang digunakan, apakah masih layak pakai ataukah tidak.

Jikalau pekerja mengalami kecelakaan kerja Khilafah yang akan menanggung semua pengobatan dan kebutuhan pekerja tersebut bersama keluarganya sampai ia benar-benar sembuh. Khilafah melakukan itu semua tanpa ada perhitungan sama sekali karena Khilafah adalah sistem pemerintahan yang benar-benar meriayah urusan umat dengan penuh amanah.

Secara nonteknis, pekerja akan selalu diingatkan agar bekerja dengan hati-hati menjaga kesehatan dan keselamatannya saat bekerja. Kecelakaan kerja merupakan kondisi yang diluar kendali manusia, untuk itulah mereka juga selalu diingatkan untuk tidak lalai saat mengoperasikan peralatan kerja. Sebisa mungkin mereka harus menghindari hal-hal yang dapat menyebabkan kecelakaan kerja yang bisa mencelakakan dirinya sendiri dan orang disekitarnya.
Rasulullah saw. bersabda,

“Tidak boleh melakukan perbuatan yang dapat membahayakan diri sendiri dan orang lain.” (HR. Ibnu Majah)

Yang terpenting daripada itu semua, pekerja selalu diingatkan agar bekerja untuk ibadah agar mendapatkan ridha Allah Swt. Beginilah cara Khilafah memperhatikan para buruh. Khilafah dan seluruh stakeholders perusahaan tidak pernah menganggap pekerja sebagai budak, melainkan mereka dianggap sebagai saudara yang telah membantu pekerjaan disuatu perusahaan. Khilafah bersama stakeholders perusahaan akan benar-benar menjaga aset berharga mereka yaitu para karyawan.

Prinsip K3 seperti inilah yang dirindukan setiap buruh, setiap aturan K3 pun akan benar-benar diperhatikan dan diterapkan secara tegas. Setiap aturannya pun bukan untuk membebani pekerja tetapi melindungi pekerja dan bernilai ibadah. Lantas masihkah kita berharap dengan pemimpin buah dari sistem kapitalisme yang bahkan perannya pun tak kita rasakan keberadannya, yang ada malah kezaliman yang terus berangsur-angsur terjadi. Maka dari itu, sudah saatnya bagi kita untuk menerapkan syariat Islam secara Kaffah, karena itulah solusi satu-satunya untuk permasalahan umat hari ini. Wallahu a’lam bish-shawab.

Dibaca

Loading

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terbaru

Konsultasi