Investasi Asing Bikin Masyarakat Pusing

Oleh. Shofiyah Hilyah
(Kontributor MazayaPost.com)

Miris, sejumlah investasi asing akan kembali ditanamkan di Indonesia. Namun, rencana ini justru menimbulkan kesengsaraan bagi para tenaga kerja sipil. Karena, mereka bekerja pada industri dalam negri dengan skala kecil. Sehingga banyak tenaga kerja yang harus di-PHK akibat banjirnya produksi impor.

Dikutip dari bisnis.com (27/6/2024), segenap serikat buruh tekstil merencanakan akan melakukan aksi demonstrasi besar-besaran. Mereka menuntut pemerintah untuk mengambil langkah penyelamatkan pada industri padat karya tersebut. Selanjutnya, Ketua Umum Indonesia Pengusaha Konfeksi Berkarya (IPKB), Nandi Herdiaman, menyampaikan bahwa industri tekstil khususnya produsen pakaian skala kecil tengah menghadapi situasi sulit disebabkan oleh membanjirnya produk impor.

Selain itu, Menko Maritim dan Investasi Luhut B. Pandjaitan mengungkapkan adanya keinginan perusahaan tekstil asal China menanamkan modal. Ia menyingkap rencana investasi itu berupa pendirian dua pabrik di Kertajati, Jawa Barat dan Sukoharjo, Jawa Tengah. Luhut memastikan jumlah tenaga kerja yang terserap dari investasi itu akan menembus 108.000 orang.

“Semua kita minta investasi yang berorientais ekspor, kalau mau tumbuh 6,5%-7% harus minta kepada investasi orientasi ekspor. Ini ekspor dia [perusahaan garmen China] bisa sampai US$18 miliar, wah ini saya bilang karpet merah,” pungkasnya.

Investasi asing dianggap pemerintah sebagai solusi atas banyak nya pengangguran di Indonesia. Padahal faktanya selama ini beberapa industri tekstil terpaksa harus gulung tikar karena rendahnya daya beli masyarakat. Masyarakat cenderung memilih produk impor dari pada produk dalam negri. Sebab, produk impor lebih berkualitas dan juga terjangkau.

Sayangnya, investasi asing sama sekali tidak bisa menjadi penyelesaian ketenagakerjaan (pengangguran) di Indonesia. Investasi asing ini hanya membuka lapangan kerja bagi warga sipil dengan upah yang rendah. Belum lagi, berbagai kebijakan tenaga kerja sesuai UU Cipta Kerja yang mencekik masyarakat. Pada akhirnya, kesejahteraan masyarakat tak lagi dipedulikan dan diabaikan.

Investasi asing sejatinya hanyalah alat untuk menguasai ekonomi negara lain. Karena Indonesia belum mampu untuk menopang kebutuhan masyarakatnya. Nasib Indonesia pun juga akan semakin parah sebab SDA dalam masih dikuasai asing. Alhasil pemerintah pun selalu lepas tangan dari kewajibanya kepada masyarakat karenakan ketidakstabilan kondisi negara.

Berbeda dalam Islam, paradigma pembangunan dalam islam bukanlah paradigma kapitalistik. Dalam Islam, regulasi pembangunan berjalan berlandaskan pada kebutuhan dan kepentingan rakyat dalam negara, bukan hanya untuk meraih keuntungan semata. Oleh karena itu, paradigma ini hanya bisa dihasilkan oleh negara dengan perekonomian yang kuat.

Pada prinsipnya, paradigma dalam Islam adalah paradigma industri berat. Di mana paradigma ini akan mendorong terbukanya industri lain dengan startegis dan membuka lapangan pekerjaaan secara nyata. Maka secara langsung, persoalan ketenagakerjaan ini akan terselesaikan.

Di samping itu, Negara Islam pasti akan mengelola sumber daya alam (SDA) secara mandiri. Pengelolaan ini adalah salah satu faktor terbukanya lapangan pekerjaan bagi masyarakat dan tertutupnya jalan bagi investor asing.

Demikianlah, Islam mengatur segala aspek dalam kehidupan, baik persoalan dalam negeri maupun hubungan dengan luar negri. Setiap regulasi yang diberikan adalah aturan terbaik untuk manusia dalam menjalani kehidupan dan menyelesaikan seluruh permasalahan. Wallahualam bisshawwab.

Dibaca

Loading

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terbaru

Konsultasi