Idul Fitri Tak Boleh Diidentikkan dengan Petasan


Oleh: Wida Nusaibah, Malang-Jatim

Puasa Ramadan dan hari raya Idul Fitri sebentar lagi tiba. Umat Islam bersuka-cita menyambutnya. Namun tragis, perasaan suka-cita ini diwarnai adanya tragedi memilukan yang terjadi akibat ledakan keras diduga bersumber dari petasan. Ledakan tersebut telah menghancurkan 25 rumah warga di Dusun Saeng, Blitar, Jawa Timur.

Menurut keterangan polisi, ada korban meninggal sebanyak 4 orang yang merupakan satu keluarga dan korban luka-luka hingga 23 orang yang rumahnya dekat dengan sumber ledakan. (20/2/23)

Diceritakan oleh warga sekitar bahwa korban meninggal telah terbiasa membuat petasan menjelang Bulan Ramadan dan hari raya Idul Fitri. Dari sini jelas, bahwa masih banyak masyarakat yang menganggap perayaan hari raya selalu identik dengan petasan.

Timbulnya korban dari ledakan petasan ini bukanlah satu-satunya. Bahkan sudah sering peristiwa semacam ini terjadi. Namun, kenapa masyarakat tak juga jera?

Peristiwa seperti ini mengingatkan pada kita untuk menegakkan amar makruf nahi mungkar. Masyarakat harus menjalankan perannya dalam memberikan kontrol terhadap individu yang lain agar tidak melakukan pelanggaran dan hal yang membahayakan.

Selain itu, pantauan dan teguran dari pejabat desa juga diperlukan. Jika aktivitas meracik petasan ini sudah biasa dilakukan, artinya ada pembiaran dari berbagai pihak. Apa pun alasannya, aktivitas yang membahayakan tidak boleh dibiarkan.

Oleh karena itu, seluruh elemen masyarakat harus bersinergi dengan pemerintah untuk menghentikan aktivitas membahayakan semacam ini. Negara harus memberikan edukasi yang tepat, kemudian memberikan sanksi tegas bagi yang melanggarnya. Dengan begitu, masyarakat akan paham bahwa hari raya seperti Idul Fitri tidaklah identik dengan petasan. Ada banyak aktivitas lain yang dapat dilakukan untuk menjalani puasa Ramadan dan merayakan Idul Fitri agar penuh makna. Hari raya akan tetap semarak meskipun tanpa petasan.

Lebih penting lagi, umat Islam harus dipahamkan bahwa esensi dari Bulan Ramadan adalah perjuangan untuk mendapatkan predikat sebagai hamba yang bertakwa yang kemudian Allah berikan kemenangan untuk dirayakan pada Idul Fitri. Di mana perayaan tersebut adalah sebagai bentuk syukur, bukan sekadar bersenang-senang.

Dibaca

 70 total views,  2 views today

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terbaru

Konsultasi