Hustle Culture, Bikin Hidup Makin Hancur

 

Oleh. Susi Ummu Ameera
(Ibu Peduli Negeri)

 

Hustle Culture atau Workaholism adalah istilah yang harus kita kenal karena sudah menjangkiti banyak kalangan, khususnya kaum muda. Hustle culture dimaknai sebagai suatu keadaan bekerja terlalu keras dan mendorong diri sendiri untuk melampaui batas kemampuan hingga akhirnya menjadi gaya hidup. Dengan kata lain, tiada hari tanpa bekerja, hingga tak ada lagi waktu untuk kehidupan pribadi.

Penganut Hustle Culture ini memahami bahwa pengorbanan untuk kesenangan hidup sudah selayaknya di korbankan, seperti healing (jalan- jalan), liburan, waktu untuk keluarga, waktu untuk mengejar karir bahkan parahnya waktu untuk tidurpun harus dikorbankan, apalagi hal itu bisa meningkatkan gaji.

Apakah standar hustle culture ini benar dan mampu meningkatkan kebahagiaan hidup dan kesuksesan? Psikolog dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Indrayanti mengatakan, media sosial dapat memengaruhi generasi muda terjebak hustle culture yang pada akhirnya berdampak pada kesehatan mental. Di antara ciri-ciri yang bisa dikenali dari hustle culture adalah terus memikirkan pekerjaan di setiap waktu dan tempat sehingga terjadi ketidakseimbangan antara kehidupan kerja dan kehidupan pribadi (9/06/2023).

Sejatinya manusia diciptakan Allah sesuai fitrah. Pada diri manusia ada yang namanya kebutuhan jasmani (hajatul udhawiyyah) dan juga naluri (Gharizah). Kebutuhan jasmani wajib terpenuhi, seperti makan, minum, tidur dll.jika kebutuhan ini tidak terpenuhi maka bisa menyebabkan kematian. Sedangkan naluri adalah sesuatu yang datang dari luar, dengan kata lain karena adanya rangsangan maka ia akan muncul dan jika tidak terpenuhi maka tidak sampai menyebabkan kematian. Misal, ingin menikah, ingin beribadah, ingin Menang, ingin bekerja, ingin marah dll.
Dalam Islam pemenuhan kebutuhan jasmani dan naluri ini telah diatur dengan jelas dan lengkap. Sehingga manusia bisa membedakan dan menetapkan apa yang harus ia lakukan yang bersifat wajib dan mana yang tidak wajib. Dengan ketaqwaan kepada Allah manusia akan memahami bahwa tubuh kita memiliki hak untuk dipenuhi sehingga tidak boleh untuk dizalimi meskipun tuntutan kerasnya hidup dihadapi.

Sedangkan hustle culture ini sering kali membuat orang tidak menyadari jika dirinya telah terseret dalam arus, karena hal itu telah menjadi bagian dari kebiasaan sehari-harinya yang menjadi toxic ( racun) karena gila kerja, agar tidak dinilai buruk sehingga akhirnya orang tersebut tidak memiliki waktu untuk diri sendiri atau keluarga dan ini jelas menyalahi fitrah sebagai manusia.

Memang kita tidak bisa menutup mata akan betapa kerasnya dunia kerja di alam kapitalisme. Para tenaga kerja sudah biasa tidak diposisikan sebagai manusia. Istilah Mitra kerja yang saling terikat untuk sepakat melaksanakan pasal-pasal kontrak kerja sudah dibuang. Manusia (pekerja) dalam sistem kapitalis lebih pantas disebut serombongan budak bertopeng profesionalitas kerja.

Kembalilah kepada fitrah. Hustle culture hanya membuat hidup makin terimpit. Kita butuh cara untuk mengatasinya, pertama, kita harus mengganti paradigma mengenai kesuksesan dan produktivitas itu berdasarkan Islam. Allah Taala berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.” (QS Al-Kahfi: 7)

Ayat diatas menggambarkan bahwa standar perbuatan harus berasal dari Islam, karena akan dinilai oleh sang Maha Pencipta. Ketaatan seseorang kepada Allah adalah ketaatan yang dilakukan karena kesadaran akan dimintai pertanggungjawaban. Sehingga amal ( perbuatan) terbaik yang selalu dipersembahkan dalam kehidupan.
Allah Taala berfirman, “Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Berkatalah ia, ‘Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?’ Allah berfirman, ‘Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan.’” (QS Thaha: 124—126)

Allahu a’lam bishawab.

Dibaca

Loading

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terbaru

Konsultasi