Harga-Harga Terus melambung, Kapan Rakyat Bahagia?

Oleh: Fitriyah Permata

Dua tahun rakyat harus menanggung situasi mencekam karena pandemi covid 19. Selama masa itu, rakyat dibuat bingung dengan keberadaan masker yang sempat langka dan harganya mahal. Lalu saat varian delta menyerang, rakyat dibuat kelimpungan dengan langkanya tabung oksigen. Hingga banyak korban yang berguguran karena situasi tersebut. Belum lagi rakyat dikuras kantongnya dengan aturan tes PCR dan antigen yang harganya selangit.

Setelah pandemi mulai mereda, pariwisata dan perekonomian mulai kembali normal. Rakyat tak lantas berbahagia, sebab rakyat harus kembali menghadapi situasi sulit, sulit menemukan minyak goreng. Mendadak minyak goreng menjadi barang langka, bahkan harus antre panjang demi mendapatkan 1 liternya. Melihat kondisi itu, bukannya malah iba dengan rakyat. Justru rakyat dikejutkan dengan harga minyak yang naik hampir 2 kali lipat.

Harga minyak goreng yang melambung tinggi sudah cukup membuat harga berbagai olahan makanan gorengan naik. Pedagang dibuat pusing untuk menyiasati kenaikan harga tersebut. Di tengah pusingnya masyarakat akan harga minyak goreng, bahan pokok lain serentak ikutan naik harganya. Sebut saja mentega, tepung terigu, dan gula. Sungguh rakyat kian tercekik.

Belum habis kisah pilu rakyat, kini harus menghadapi kenaikan dan kelangkaan BBM. Serta kenaikan LPG 3 kg sebagaimana telah diumumkan oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Indonesia, Luhut Binsar Panjaitan yang dilansir kompas.com (1/4/2022).

Cengkeraman kapitalisme oleh para oligarki kian mengganas. Kebijakan yang dilahirkan kian mencekik rakyat. Nasib rakyat tak lagi diperhatikan. Para oligarki hanya peduli dengan nasib pundi-pundi kekayaan mereka. Padahal negeri ini kaya, harusnya rakyat sejahtera, tapi justru kian menderita.

Indonesia adalah negeri dengan sumber daya alam luar biasa. Penghasil sawit terbesar di dunia, penghasil minyak bumi dan tambang lainnya. Memiliki hasil perkebunan dan kekayaan laut yang melimpah. Harusnya kondisi itu membuat negeri ini menjadi kaya, namun faktanya justru sebaliknya.

Sistem ekonomi kapitalis yang diterapkan membuat sumber daya alam dikeruk habis-habisan. Sistem kapitalisme juga mengizinkan pihak asing yang melakukan eksploitasi tersebut. Namun, hasilnya bukan untuk rakyat, melainkan untuk kepentingan para pemodal. Padahal jika diekelola dengan sistem yang benar, niscaya kekayaan alam itu akan dirasakan oleh seluruh rakyat.

Berbeda jika di dalam sistem Islam. Sumber daya alam yang menyangkut hajat hidup umum akan dikelola oleh negara dan tidak boleh dikelola oleh asing. Pengelolaan sumber daya alam digunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat. Jika seluruh rakyat di Daulah Islam telah terpenuhi hajatnya, maka jika masih terdapat kelebihan hasil alam barulah boleh diekspor. Itu pun dengan beberapa syarat perjanjian kerjasama jual beli yang sangat ketat dengan negeri lain. Kerjasama yang tidak membahayakan kedaulatan negara.

Sistem Islam menjadikan perekonomian sebuah negeri yang mandiri. Perekonomian yang tidak bergantung kepada negeri asing. Dengan begitu, perekonomian negara tidak terintervensi pihak asing. Harga minyak dan sumber daya alam lain bisa untuk ditentukan sendiri tanpa harus mengikuti standar harga negara asing.

Negeri ini jika dikelola dengan sistem yang benar, yaitu Islam. Maka, bukan hal mustahil jika negeri ini akan menjadi negeri yang paling kaya. Kesejahteraan rakyat akan merata. Perekonomian mandiri yang diterapkan akan membuat negara lebih mudah mengatur harga pangan dan kebutuhan pokok rakyat lainnya.

Dibaca

 38 total views,  1 views today

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

Artikel Terbaru

Konsultasi