Generasi Tanpa Iman: Potret Buram Pendidikan Sekuler


Oleh : Nining Septia Ningsi

Pendidikan adalah cara menjadikan manusia memahami eksistensi kehidupan. Dengan pendidikan kita mampu menempuh jalan melewati berbagai ujian dan konsekuensi kehidupan. Pendidikan adalah cara awal mengenal bagaimana menjadi manusia dan memperlakukan manusia. Namun kenyataan berbeda seperti cita yang sesungguhnya. Pendidikan yang seharusnya menjadikan manusia berakhlak dan beradab kini berbalik menjadi buram. Fakta gagalnya pendidikan memanusiakan manusia terpampang nyata.

Pemberitaan seringkali terdengar di dunia pendidikan, tentang pembully-an yang kerap berakibat pada kerusakan mental, fisik, bahkan sampai terjadi kematian. Kekerasan dalam pendidikan bukan lagi hal remeh namun sesuatu yang perlu di tangani dengan serius. Seperti kasus pembunuhan mahasiswa (UI) Depok, berinisial MNZ (19 Tahun) ditemukan tewas di dalam kamar kosnya di kawasan kukusan, Beji, Kota Depok, dan terungkap bahwa pelaku yang membunuh korban adalah seniornya berinisial AAB (23 tahun), pelaku mengaku bahwa ia kerap kali iri terhadap kesuksesan korban dan ditambah lagi karena sebab terlilit hutang, sehingga terjadilah pembunuhan” jelas AKP Nirwan pohan, Jumat (04/08/23).

Sungguh miris yang terjadi dalam pendidikan yang seharusnya menjadi penyokong dan pembentuk tabiat dan adab yang baik. Karena sebab iri dan benci terhadap seorang kawan dan terdesak oleh lilitan hutang seakan ilmu yang telah ditempuh bertahun-tahun tidak memiliki arti untuk mengubah seseorang.

Kasus yang serupa juga terdengar di SMAN Samarinda seorang anak yang masih duduk dikelas 10 melakukan tindakan percobaan pembunuhan berupa penusukan kepada teman sekelas yang menurut penuturan pelaku dan para saksi bahwasanya ia melakukan tindakan itu karena sebab pelaku tidak tahan dengan korban yang kerap kali membuly dan menghina, bukan hanya itu korban bahkan tidak segan melakukan tindakan kekerasan.

Federasi Serikat Guru (FSGI) akui bahwa kasus perundungan di pendidikan sangat marak terjadi. Di tahun 2023 terjadi 16 kasus pembuliyan di satuan pendidikan. Empat di antaranya bahkan terjadi saat tahun ajaran baru. Ketua FSGI mengatakan bahwa kasus perundungan yang paling besar terjadi di bawah naungan Kemendikbudristek sebanyak 87,5 persen. Sedangkan kasus perundungan yang terjadi di bawah naungan kewenangan Kementerian agama sebanyak 12,5 persen.

Kasus perundungan bukan tercatat hanya terjadi pada pelajar dengan pelajar saja. Melainkan banyak kasus yang terjadi antara siswa dan guru. Seperti kasus di sekolah Rejang, Lebong, Bengkulu, seorang siswa kedapatan merokok oleh seorang guru olahraga dan menegur siswa tersebut namun teguran itu di abaikan sehingga membuat guru kesal dan menendang bagian wajah siswa yang diduga merokok tersebut (Selasa,01/08/23).

Dengan kejadian itu, siswa tidak terima dan melaporkan kejadian tersebut kepada orang tuanya, dan akhirnya datang kesekolah dan membawa ketapel kemudian menyerang guru tepat di bagian mata yang mengakibatkan mata guru tersebut pecah dan buta permanen.

Masih banyak lagi kasus lain yang terjadi dalam dunia pendidikan, sebagai bukti betapa buram dan berantakannya pengelolaan sosial pendidikan oleh pemerintah. Hal ini tidak akan tuntas jika hanya menyalahkan satu pihak saja, melainkan kita perlu menggali lebih dalam akar permasalahan yang memicu terjadinya perundungan yang sampai saat ini belum mampu di tanggulangi. Penyebab terbesar yang meng triger hal ini adalah sistem yang sekuler kapitalis yang di adopsi oleh negara sehingga tidak mampu melahirkan manusia yang berakhlak sebagaimana yang telah di gaungkan.

Sekularisme Kapitalisme, Sebab Awal Rusaknya Sistem Pendidikan
Sebagaimana yang kita tahu bahwa dengan menempuh jalan ilmu, kita menjadi manusia yang lebih utama dibanding mahkluk lain. Dengan dibekali akal dan ilmu pengetahuan yang mudah terindra dan terakses oleh otak kita menjadikan diri kita mampu mengaplikasikan ilmu yang telah di tangkap oleh akal pikiran.

Akibat tidak memahami eksistensi ilmu dan jauhnya generasi dari agama menyebabkan Kasus pembulian kerap terjadi dan sebagai bukti bahwa pendidikan buram telah merongrong anak-anak dalam kegagalan. Pada tanggal 4 Mei diperingati sebagai hari Anti-Bulying internasional. Indonesia menempati urutan kelima untuk kasus bulying atau perundungan pada anak dan remaja. Kasus perundungan menurut KPAI mengalami peningkatan dari 30 hingga 60 kasus pertahun. kasus perundungan kerap terjadi dalam kehidupan sosial terutama di sekolah. fenomena bulying adalah kasus yang sangat mengerikan.

Fenomena bulying yang marak terjadi sebagai bentuk betapa rusak cara berfikir dan bersikap anak-anak dan remaja saat ini. Kerusakan pola pikir mereka tidak terlahir secara alamiah begitu saja, melainkan ada sebab mengapa hal ini terjadi. Kehidupan yang terlahir dari ide sekulerisme yang memisahkan antara kehidupan sosial dan agama menjadi pemicu rusaknya pola pikir generasi.

Sejatinya, sistem sekulerisme yang di anut dalam kehidupan seolah memberi jarak untuk masyarakat dalam bertindak sesuai dengan lingkungan. Jika berada dalam lingkup sosial masyarakat tidak dikenankan mencampur adukan dengan agama begitu pula sebaliknya.

Pendidikan yang lahir dari sistem kapitalisme sekuler seakan mendoktrin masyarakat bahwa nilai akademik adalah tujuan utama dalam pendidikan dan nilai akademik juga menjadi hal yang membanggakan bagi mereka dalam menempuh pendidikan di sekolah. Tanpa memikirkan tujuan mengapa mereka diciptakan sehingga mereka menjadi awam dalam memahami agamanya.

Cara pandang sekularisme hanya mengejar materi berupa eksistensi, kekuasaan dan popularitas semata, sehingga menyebabkan hancurnya kehidupan keluarga yang seharusnya menjadi madrasah pertama dalam mendidik generasi. Yang akan mengakibatkan gagal dalam menciptakan generasi cemerlang sesuai dengan pendidikan, Allah, dan Rasul-Nya.
Sistem sekularisme saat ini telah mereka percayakan untuk mengatur semua ranah kehidupan. Karena memberikan kebebasan berfikir dan berekspresi, padahal itu merupakan jebakan bagi mereka untuk menghancurkan pemikiran umat. Memberikan kebebasan kepada anak tanpa membatasi dengan aturan dan membiarkan anak bersikap semaunya akan memunculkan sikap arogansi. sehingga sikap ini akan terbawa dalam lingkup sekolah dan menjadikan tempat unjuk eksistensi diri semata.

Sistem kapitalisme sebenarnya tidak terlalu perduli dengan kualitas generasi, yang mereka pikirkan bagaimana mencari keuntungan dan hanya menjual janji-janji menuntaskan problematika masyakarat namun sampai saat ini kasus bulyingpun belum sanggup di tuntaskan.

Sudah jelas bahwa permasalahan kasus bulying telah sampai pada puncak darurat sebab menerapkan ide barat sekularisme memisahkan agama dengan kehidupan, sehingga umat tidak lagi memikirkan tujuan di ciptakan, mencegah kemungkaran dan menyeruh pada kebaikan melainkan berlomba-lomba untuk mendapatkan pujian dan penghormatan.

Lain hal jika potret pendidikan berada dalam naungan Islam. Yang tentu akan berbeda penanganan dan caranya. Pendidikan islam banyak melahirkan manusia-manusia hebat yang tidak di ragukan kualitas juga kehebatan mereka.

Pendidikan dalam sistem Islam dimulai dari menguatkan akidah generasi, memantapkan persoalan kenapa mereka berilmu dan menempuh ilmu. Metode pembelajaran di terapkan secara sistematis dengan berbagai ilmu pengetahuan namun penerapan ilmu yang paling utama adalah Menguatkan keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Islam memandang pendidikan merupakan aspek paling penting dalam kehidupan sehingga perlu perhatian besar yang dikerahkan. Yang bertanggungjawab atas keberlangsungan sistem pendidikan adalah khalifah atau pemimpin. Seorang khalifah paham betul tentang pentingnya mencetak generasi yang berkualitas sehingga dia akan menyediakan Pendidikan yang berkualitas pula. Seperti penyediaan jaminan pendidikan untuk umat, penyusunan kurikulum yang benar hingga fasilitas sarana dan infrastrukturnya.

Penyelenggaraan pendidikan Islam dilakukan dengan serius sehingga mampu menghasilkan generasi yang berkualitas, dan menghasilkan penemuan-penemuan hebat yang menjadi dasar teknologi modern saat ini.

Sistem pendidikan saat ini tidak pernah menyesuaikan pola bahasa dan penerapan pelajaran yang sesuai dengan daya tangkap pelajar. Mereka hanya mementingkan setiap materi mampu di selesaikan tanpa menengok kembali apakah sistem pengajaran nya mudah di pahami atau tidak. Begitu juga kurikulum pelajaran yang berubah-ubah menyebabkan kualitas pengajaran menjadi menurun.

Berbeda dengan metode pembelajaran yang diterapkan oleh Islam yaitu, pertama, metode pembelajaran islam akan menekankan pada penyampaian (khitab) dan penerimaan (talaqqi) pemikiran kepada pengajar. Dengan kata lain para pengajar harus mampu mentransfer pemikiran kepada peserta didik dengan makna-makna bahasa yang mudah di pahami. Para pengajar harus menghubungkan pemikiran atau informasi dengan fakta yang bisa di indera oleh anak didik sehingga anak didik bisa memahaminya sebagai suatu pemikiran bukan sekadar informasi.

Para pendidik dan yang terdidik pada sistem Islam memandang bahwa eksistensi diri bukanlah tujuan dari kehidupan yang dicapai, melainkan semua gerak langkah menuntut ilmu hanya untuk mendapatkan rida Allah semata.
Pendidikan dalam Islam hanya berfokus pada kebermanfaatan yang didapat sehingga mampu menyumbangkan hasilnya kepada manusia lain. Bukan sebaliknya, sebagai ajang arogansi individu untuk menyiksa individu lain.

Sistem Islam atau Khilafah akan berusaha untuk menstabilkan kodrat umat manusia dalam kehidupan agar tidak adanya kasus pembulyan dan perundungan. Khilafah akan memberikan upaya preventif (pencegahan) dan kuratif (pengobatan). Upaya preventif sendiri adalah mengembalikan peran keluarga, masyarakat dan negara sedangkan upaya kuratif adalah upaya untuk mengobati mereka yang kecenderungan melakukan perundungan dengan pendekatan mendasar yang akan mempengaruhi pola berpikir anak sehingga mereka akan meninggalkan sikap tersebut dengan penuh kesadaran.

Dalam Islam, benteng awal pertahanan adalah keluarga, maka Islam akan memberikan edukasi dan perbaikan kondisi keluarga dengan menganut kembali pemikiran Islam sampai setiap lini perbuatan mereka harus menggambarkan Islam. Begitu juga Islam memandang bahwa mendidik generasi adalah tanggung jawab masyarakat dan peran negara sehingga dengan hal ini akan mampu mewujudkan generasi yang cemerlang seperti generasi terdahulu.

Wallahu a’lam bishawwab.

Dibaca

Loading

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terbaru

Konsultasi