Fenomena FOMO: antara Prestasi dan Jati Diri

Oleh. Afiyah Rasyad

“Sudahlah jatuh, tertimpa tangga pula.” Inilah pribahasa yang menggambarkan keadaan generasi muslim di negeri yang mayoritas muslim. Betapa potret buram generasi muslim menghiasi penjuru negeri. Bukan hanya kenakalan yang wajar dilakoni generasi, banyak kenakalan yang jatuh pada kriminal dan kemaksiatan yang melekat pada perilaku generasi muslim.

Baru-baru ini, fenomena Fomo sedang digandrungi kawula muda. Artinya, generasi muslim ikut-ikutan alias latah dengan tren FOMO ini. Meski bukan kriminalitas, tetapi FOMO jelas memberikan gambaran kecenderungan generasi masuk ke dalam pusaran kemaksiatan. Tak dimungkiri, gempuran budaya Barat begitu besar. Bahkan, saat ini impor budaya dan gaya hidup dari mancanegara seakan digalakkan.

Keviralan akan sebuah peristiwa dan barang, apakah itu makanan, pakaian, kosmetik, ajang pencarian bakat, konser, dan lainnya akan diikuti dengan sukarela oleh generasi muslim. Mereka tak akan berpikir panjang untuk melakukan suatu hal. Keviralan dan tidak kudet (kurang update) seakan menjadi sebuah penyakit atau sesuatu yang bisa memperbesar ruang eksistensi dan jati diri mereka.

Fenomena FOMO Menjerat Generasi Muslim

FOMO atau fear of missing out adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan perasaan takut untuk tertinggal dengan orang lain. Namun, istilah ini lebih sering dijumpai penggunaannya di jagat media sosial. Saat FOMO mulai menyerang, maka akan menyebabkan generasi muslim melakukan tindakan kompulsif untuk menyusul ketertinggalannya. Menilik dari kasus mencicipi daging babi, polemik resto seputar masakan babi nyatanya menjadikan generasi muslim latah dan tak mau ketinggalan untuk mencicipinya.

Lain makanan, lain prestasi di ajang pencarian bakat. Baru-baru ini, Indonesia dihebohkan oleh seorang biduwanita yang mendapakan Golden Buzzer di panggung AGT (American Got Talent). Keberhasilan itu mengguncang jagat media sosial. Semua memberikan ucapan selamat, mulai masyarakat, artis, politisi, hingga pejabat.

Usai viral dan mendapatkan pujian serta ucapan selamat dari para warganet, Putri Ariani juga mendapatkan ucapan selamat dari para politisi. Beberapa di antaranya adalah Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno, dan Ketua Umum (Ketum) Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Sebagaimana dilansir pinterpolitik.com (12/6/2023).

Magnet FOMO begitu kuat. Lantas apa itu FOMO? Dilansir dari Verywell Mind, fear of missing out atau FOMO adalah perasaan atau persepsi takut tertinggal dari orang lain yang terlihat lebih bahagia, memiliki kehidupan, atau melakukan hal-hal yang lebih baik. Rasa takut ketinggalan ini jamak dirasakan pengguna media sosial, karena di media sosial kita relatif gampang melihat atau mengikuti kehidupan orang lain yang aktif mengunggah aktivitas atau kehidupan pribadinya. Beberapa orang tidak mengalami masalah tertentu dengan unggahan tersebut, namun ada juga orang yang memiliki kecenderungan untuk membandingkan, sampai menimbulkan rasa tidak percaya diri dan cemas (17/3/2023).

Dengan atmosfer yang begitu wah di jagat medsos, generasi muslim yang tak memiliki prinsip hidup yang kuat akhirnya terbawa arus. Dengan adanya geliat FOMO kalangan papan atas, menjadi sebuah keabsahan generasi muslim untuk ikut-ikutan tanpa batasan. Walhasil, fenomena FOMO melenggang bebas untuk menjerat generasi muslim.

FOMO Mengaburkan Jati Diri dengan Capaian Prestasi

Kreasi dan prestasi memang perlu digali, dikembangkan, diinovasi, dan diarahkan agar mekar dan harum dengan cara yang tepat. Sayang berjuta sayang, prestasi dan kreasi yang ada saat ini adalah kreasi dan prestasi yang banyak mengeksploitasi sosok personal, bukan sebatas kemampuan otak dan fisiknya. Prestasi dan kreasi terpaku pada bagaimana gaya hidup Barat yabg eksis di jagat media sosial.

Sikap latah dan fenomena FOMO yang menjerat generasi muslim akhirnya mengaburkan jati diri dan eksistensi diri. Betapa banyak generasi muslim yang kehilangan arah dalam menapaki perjuangan hidup yang sebenarnya. Fenomena FOMO yang berembus begitu besar pengaruhnya pada masyarakat luas, terutama generasi muda.

Generasi muslim sudah tidak mampu menatap visi misi hidup yang sebenarnya. Bagi mereka, eksistensi diri hanya sebatas ketenaran, keviralan, dan berlimpahnya materi. Hidup bebas menjadi sebuah kelumrahan. Sehingga, pergaulan tak senonoh mendunia dengan mudahnya. Wajar, kebebasan menjamur karena asas sekularisme mengakar kuat. Sistem kapitalisme mencengkeram tiap-tiap negeri muslim dengan menetapkan pemisahan agama dari kehidupan dan daei negara.

Dengan atmosfer kapitalisme ini, fenomena FOMO semakin sukses mengaburkan hakikat hidup dan jati diri generasi muslim. Jelas, fenomena FOMO tumbuh subur di alam kapitalisme. Dengan demikian, hal itu memberikan pengaruh besar bagi cara pandang generasi muslim.

Lingkungan yang serba permisif, serba boleh menjadi tantangan dan rintangan bagi generasi untuk jernih menerapkan prinsip hidup halal haram. Soal pakaian yang islami, soal tata pergaulan dengan lawan jenis, berbahasa yang ahsan, dan sebagainya menjadi PR besar bagi generasi, para orang tua, para guru, dan pemangku kebijakan. Generasi muslim tidak paham hakikat hidup dan kehilangan jati dirinya.

Generasi Muslim Menyikapi Fomo dengan Sistem yang Sahih

Ketaatan generasi di zaman sekarang ibarat mencuci pakaian bersih untuk dipakai di tempat berlumpur. Generasi muslim butuh kerja keras untuk selalu menjaga dan mencucinya tetap bersih kembali. Alam kapitalisme tak memberi banyak ruang bagi mereka untuk taat total.

Meskipun demikian, membentuk pribadi taat tetaplah kewajiban, apalagi bagi generasi yang sudah akil balig. Dalam keadaan seperti ini, menjadi sebuah tugas yang makin penting bagi generasi untuk bangkit dengan pemikiran. Apabila generasi muslim kemudian mengendurkan pendidikan agamanya, niscaya kebinasaan menimpa. Prestasi, gaya hidup, pergaulan, dan kreasi yang liberal sudah cukup membuat ketaatan pemuda babak belur. Mereka akhirnya banyak terjerumus pada fenomena FOMO unfaedah dan justru haram, kriminalitas, dan kemaksiatan. Itulah justru yang diharapkan oleh musuh-musuh Islam.

“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan salat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (QS. Maryam: 59)

Apa yang harus dilakukan generasi muslim untuk bangkit dengan sistem yang sahih di zaman now?

Pertama, generasi muslim perlu mencari jati diri yang sesungguhnya. Sebagai hamba, mereka tentu punya bekal naluri tadayun. Maka, generasi muslim wajib mengasah naluri tadayunnya agar mampu menjumpai jati diri sebagai hamba Allah untuk taat dan patuh secara total pada Allah. Hakikat hidup akan dijumpai saat jati diri sebagai muslim telah disandang. Sehingga, tak ada ruang untuk memberi celah bagi FOMO menguasai diri.

Kedua, generasi muslim harus mencari teman yang sefrekuensi atau se-circle. Teman dan lingkungan amatlah besar pengaruhnya bagi tumbuh kembang pemikrian dan perilaku mereka. Maka, tak usahlah neko-neko mencari kebahagiaan semu yang justru membawa pada dosa. FOMO pada satu hal yang menjurus pada maksiat dalam lingkaran pertemanan, termasuk idola harus segera dihindari.

Ketiga, mengkaji Islam secara intens kepada guru yang kompeten. Mengkaji ini bukan sebatas menonton di YouTube saja, tetapi generasi muslim harus mencari guru yang sesungguhnya agar mendapatkan keberkahan ilmu. Selain itu, mereka juga bisa bertanya secara langsung. Bahkan, mereka akan mendapat nasihat dan petuah berharga tentang kehidupan dari sang guru.

Keempat, bergabung dalam komunitas atau jemaah dakwah. Kawula muda yang identik dengam geng, sudah seharusnya beralih komunitas. Komunitas dakwah akan memperkuat langkah ketaatan. Di dalam komunitas tersebut, ada suasana amar makruf nahi munkar sehingga generasi akan sulit tergelincir pada kesalahan, salah satunya terjerat fenomena FOMO. Bergabung dengan komunitas dakwah juga menjadi salah satu konsekuensi keimanan untuk mewujudkan institusi yang menerapkan Islam secara kafah.

Kelima, mendekatkan diri kepada Allah dengan melaksanakan yang wajib, memperbanyak yang sunah, mengurangi yang mubah, menjauhi yang makruh, dan meninghalkan yang haram. Sehingga, ketajaman pemikiran dan perilakunya akan berimbang dan terbentuk syakhsiah Islam. Jika demikian, FOMO tak akan sempat mampir ke dalam memorinya.

Keenam, generasi muslim harus senantiasa melangitkan doa pada Zat Yang Maha Kuasa. Dengan doa, insyaallah generasi akan semakin mendapagkan akses kemudahan dalam menapaki segala urusan.

FOMO dan segala turunan buah sistem kapitalisme tak akan menjamur dalam sistem Islam yang sahih. Sebab, generasi muslim tak akan sendiri berjuang memahami hakikat hidup dan realitas kehidupan. Orang tua, guru, dan negara akan bersinergi untuk membersamai generasi menjadi pribadi yang taat tanpa tapi dan tanpa nanti. Selain itu, negara akan bertanggung jawab memelihara urusan rakyat.

Dalam kehidupan pemerintahan, politik, dan sosial, negara akan menerapkan sistem yang sahih untuk menjaga suasana keimanan tiap individu di lingkungan keluarga dan masyarakat. Dalam sistem pendidikan, negara akan menetapkan akidah Islam sebagai kurikulum pendidikan di seluruh wilayah agar terbentuk peserta didik yang bersyakhsiah Islam.

Dalam urusan media, negara akan memblokir dan memberikan sanksi tegas pada siapa pun yang menyuguhkan tayangan atau konten yang merusak dan menjauhkan umat, khususnya generasi dari syariat Islam. Negara hanya akan menyuhuhkan konten atau tayangan yang meningkatkan kualitas keimanan rakyat, terutama generasi muslim. Demikianlah, generasi muslim akan mudah menyikapi FOMO dalam naungan Islam.

Wallahu a’lam.

Dibaca

Loading

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terbaru

Konsultasi