Bunuh Diri pada Anak, Bukti Rapuhnya Mental Generasi

Oleh. Ummu Fatimah, S.Pd.

Seorang bocah berusia 10 tahun dan masih duduk di bangku kelas 5 SD di Pekalongan, Jawa Tengah memilih mengakhiri hidupnya dengan gantung diri di kamar pada Rabu, 22 November lalu. Diduga penyebabnya adalah karena ditegur orang tuanya saat dia terus-menerus bermain HP.

Bunuh diri yang dilakukan oleh anak bukan kali ini saja terjadi. Sebelumya, telah ada kasus serupa. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menerima aduan sebanyak 37 anak mengakhiri hidup sepanjang 2023. Hal ini disampaikan oleh anggota KPAI Diyah Puspitarini dalam Rapat Koordinasi Nasional Klaster Perlindungan Khusus Anak KPAI 2023 di siaran YouTube KPAI dikutip Kamis, 30 November 2023. Kasus ini cukup menyita perhatian mengingat usia anak yang memutuskan bunuh diri masih sangat belia apalagi bunuh diri saat ini sudah mulai menjadi fenomena di tengah masyarakat. Jangan sampailah kasus seperti ini jumlahnya terus bertambah. Ada banyak pertanyaan yang muncul di benak kita, sebenarnya apa yang menjadi penyebab anak melakukan bunuh diri, dari mana mereka mengetahui cara bunuh diri dan sejauh ini bagaimana peran keluarga, lingkungan dan sekolah dalam membentuk mental anak?

Anak dan Circle Sosialnya

Orang tua sebagai sekolah pertama bagi anak seharusnya mampu menyiapkan anak memiliki pandangan hidup yang benar. Yang akan mengantarkan anak mempunyai pegangan dalam bersikap atau berperilaku. Dengan cara menanamkan akidah dan mengajarkan anak tentang aturan dan norma yang ada dalam kehidupan. Namun disayangkan, keluarga sebagai harapan pertama dalam membangun karakter generasi justru dikalahkan dengan urusan materi. Ayah dan ibu, keduanya telah disibukkan dengan pekerjaan, disibukkan dengan urusan mendapatkan penghasilan. Keduanya banyak yang telah tergerus budaya materialistik yang menganggap bahwa materi adalah sumber kebahagiaan. Alhasil, banyak anak yang tidak mendapat bimbingan dan perhatian.

Di sisi lain, masyarakat yang terbentuk hari ini adalah masyarakat sekuler kapitalis yang individualis. Mereka cenderung membiarkan kebiasaan-kebiasaan buruk yang banyak dilakukan oleh anak seperti bermain HP hingga mengakses konten-konten yang tidak mengedukasi atau merusak. Kebiasaan saling mengingatkan sudah mulai luntur bahkan menghilang. Banyak yang hanya diam ketika melihat kemunkaran.

Pendidikan di sekolah yang diharapkan mampu mencetak generasi terbaik sepertinya masih jauh dari harapan. Dekadensi moral pada generasi cukup menjadi bukti bahwa ada yang salah dalam sistem pendidikan kita. Merdeka belajar dan proyek moderasi telah menggerus nilai religi. Sehingga anak lebih bebas melakukan apa saja sesuka hati.

Masalah bunuh diri pada anak bukanlah masalah yang dapat diselesaikan satu atau dua pihak. Tidak cukup hanya dengan mengkampanyekan gerakan antibullying di sekolah atau penguatan mental dengan pendampingan guru konseling. Tetapi lebih dari itu, harus menyertakan peran keluarga, masyarakat dan negara.

Islam sebagai Solusi

Sebagai seorang muslim, sudah selayaknya menjadikan aturan Islam atau syariat Islam sebagai satu-satunya sumber aturan dalam mengatur kehidupan. Dalam Islam, individu, keluarga, masyarakat, maupun negara saling melengkapi membentuk tatanan sosial yang kondusif. Ketiga pilar ini juga wajib memperhatikan tumbuh kembang anak dan menjaga kekuatan mental anak. Tidak boleh ada satupun pilar yang boleh mengabaikan pembentukan generasi berkualitas sebab generasi adalah estafet peradaban.

Keluarga harus menjalankan perannya dengan baik yaitu mengasuh, menyayangi, dan mendidik anak sesuai dengan akidah Islam sehingga anak tidak akan kurang kasih sayang dan dapat tumbuh menjadi pribadi takwa dan berkepribadian mulia.

Permasalahan ekonomi yang menjadi alasan orang tua lalai dalam mengasuh dan mendidik anak akan menjadi perhatian negara. Negara selalu memperhatikan kecukupan kebutuhan pada tiap-tiap keluarga. Menyediakan kebutuhan masyarakat dengan harga terjangkau. Menyediakan lapangan kerja seluas-luasnya bagi para suami. Agar para ibu tidak perlu bersusah payah membantu mencari nafkah. Ibu bisa menjalankan perannya sebagai ibu, pengatur rumah tangga dan pendidik generasi. Sehingga tidak ada orang tua yang menelantarkan anak karena urusan nafkah.

Masyarakat akan menjalankan fungsi kontrol sosial yaitu dengan aktivitas amar makruf nahi munkar sehingga suasana di lingkungan masyarakat akan diwarnai nasihat yang baik. Tidak akan ada perundungan, perkelahian, pergaulan bebas, dan berbagai masalah sosial lainya karena masyarakatnya adalah masyarakat yang peduli.

Selain itu, negara akan menerapkan sistem pendidikan Islam yang berasaskan Aqidah Islam. Sehingga remaja akan dicetak menjadi generasi berkepribadian Islam, menguasai saqofah Islam dan mumpuni dalam IPTEK. Negara juga akan mengelola media sosial sehingga informasi yang beredar di masyarakat adalah perkara dakwah dan kebaikan. Informasi tentang bunuh diri dan segala sesuatu yang melanggar syariat tidak akan dibiarkan tayang.

Dengan begitu, mindset generasi agar selalu tersuasanakan dalam kondisi takwa. Mereka paham bahwa segala hal yang ia lakukan di dunia akan dipertanggungjawabkan. Mereka akan tumbuh menjadi individu yang bersyukur atas nikmat dan sabar akan ujian dari Allah Swt. Tidak akan terbesit untuk melakukan aktivitas bunuh diri. Apalagi bunuh diri merupakan dosa besar yang akan diganjar dengan siksa oleh Allah Swt. Sungguh, hanya Islam yang mampu membentuk generasi shalih bermental kuat. Wallahu a’lam bishowab.

Dibaca

Loading

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terbaru

Konsultasi