Anak Pelaku Kriminal, Peran Keluarga Mandul?

Oleh. Rahma
(Kontributor MazayaPost.com)

Berita tentang anak-anak menjadi pelaku kriminal makin sering terjadi. Di Sukabumi, bocah laki-laki berinisial MA usia 6 th menjadi korban pembunuhan yang sebelumnya juga telah menjadi korban kekerasan seksual sodomi. Terungkap pelaku utama pembunuhan adalah pelajar SMP berusia 14 tahun. Polisi pun kini menetapkan pelaku sebagai tersangka dan berstatus sebagai Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH). Sebagaimana dilansir Sukabumi.id (2/5/2024).

Di lain tempat, kepolisian juga menemukan fakta baru. Tiga anak berhadapan dengan hukum karena kasus pembunuhan santri di Jambi. Pelakunya adalah anak berusia 15 tahun (MetroJambi.com, 4/5/2024 ).

Maraknya kriminalitas oleh anak-anak merupakan gambaran buruk output sistem pendidikan kapitalisme. Sistem pendidikan yang berorientasi pada materi saja. Kebanyakan orang tua disibukkan dengan aktivitas mengejar materi.

Sebagaimana yang ditanamkan oleh kapitalisme. Orang tua hanya sibuk memburu materi. Di mana dengan materi itu, orang tua sudah merasa cukup memberikan tanggung jawabnya dengan memberikan makanan, pakaian, dan disekolahkan di tempat favorit. Karena tekanan ekonomi, orang tua juga sibuk bekerja sehingga anak-anak tidak mendapatkan pendidikan yang benar di dalam rumah. Di sekolah pun, anak-anak hanya dituntut mengejar prestasi tanpa diimbangi dengan bimbingan akhlak dan ketaatan. Inilah bentuk kurikulum pendidikan dari sistem saat ini yang belum jelas hasilnya.

Potret buram terus menyelimuti dalam ranah pendidikan dalam semua aspek baik yang dilakukan pelajar maupun guru sebagai pendidik. Banyak kemaksiatan yang terus terjadi. Apalagi sanksi tidak menjerakan apalagi jika pelaku anak-anak (usia kurang dari 18 tahun. Akibatnya, pelaku kejahatan anak-anak semakin meningkat jumlahnya.

Hal ini sangat berbeda dengan sistem pendidikan dalam Islam. Islam memiliki mekanisme pendidikan yang kongkret untuk mencetak generasi yang berkualitas baik dari segi keimanan, moral, akhlak dan pengembangan potensi diri. Islam memiliki sistem pendidikan berdasarkan akidah Islam, dan akan menghasilkan peserta didik berkepribadian Islam yang berkualitas bukan kriminal.

Islam menargetkan lahirnya generasi yang berkualitas, beriman, bertaqwa, terampil, berjiwa pemimpin serta sebagian problem solver. Keberhasilan pendidikan Islam yang mencetak generasi luar biasa ini tidak lepas dari landasan pendidikan Islam yakni akidah Islam. Salah satu kurikulum pendidikan dasar harus bisa mencetak generasi yang memiliki kepribadian Islam.

Tolok ukur ini dilihat dari pola sikap dan pola pikir. Hal ini akan mendorong anak untuk menjauhi kemaksiatan dan senantiasa menjaga ketaatan. Sehingga, akan terlahir generasi yang sudah siap mengemban amanah besar dalam kehidupannya, seperti menjadi orang tua. Mereka akan paham bagaimana membina sebuah rumah tangga kelak. Mereka akan paham bagaimana hak dan kewajiban orang tua dalam mendidik anak-anaknya kelak. Sehingga akan terlahir keluarga yang Islami yang berkepribadian Islam.

Islam memberi perhatian khusus pada keluarga. Keluarga adalah cikal bakal atau fondasi awal sebuah peradaban. Peran orang tua dalam pendidikan anak sangat besar. Ibu adalah sekolah pertama dan pendidik pertama. Didikan seorang ibu yang berlandaskan syariat Islam akan membentuk anak-anak yang saleh dan saluhah. Pemuda akan semakin kuat karakternya karena Islam mewajibkan ayah sebagai qawwam atau pemimpin keluarga.
Sinergi yang bagus antara peran ayah dan ibu akan memberi dampak yg besar bagi anak-anak.
Keamanan bagi anak akan terjamin karena
Islam menetapkan adanya sanksi tegas dan tidak membedakan usia selama sudah baligh atau dilakukan dlm keadaan sadar.
Islam tidak memberikan batasan umur dalam memberikan sanksi.
Islam hanya mengenal pembatasan usia berdasarkan baligh. Dimana selama belum mencapai baliqh maka mereka dihukumi sebagai anak-anak. Sedangkan jika mereka sudah balig maka mereka dihukumi sebagai mukallaf. Karena itu meski usia mereka baru 15 tahun tapi sudah balig maka uqubat Islam sudah berlaku buat mereka.

Tindakan yang sampai menghilangkan nyawa seseorang akan mendapat sanksi qishash. Pelaku pelecehan seksual akan mendapatkan sanksi had liwath atau dijatuhkan dari tebing atau tempat yang tinggi di daerah tsb. Dalam Islam, hukuman ini akan membawa efek jera bagi pelakunya, ada efek zawajir sebagai pencegah dan efek jawabir sebagai penebus dosa pelakunya.

Penerapan uqubat dalam sistem Islam inilah yang akan membuat seseorang enggan untuk melakukan sebuah tindakan kejahatan. Konsep ini akan terwujud jika keluarga, masyarakat dan negara menerapkan Islam secara kaffah dalam kehidupan yakni dalam naungan Khilafah. Wallahu a’lam.

Dibaca

Loading

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terbaru

Konsultasi