Alarm HIV/AIDS Terus Berbunyi, Lonceng Kematian Generasi Menuju Puncak Tertinggi

Oleh. Afiyah Rasyad

Seperti biasa, setiap 1 Desember diperingati sebagai Hari HIV/AIDS. Peringatan ini tentu dilakukan ada tujuannya, yakni mencegah dan mengurangi angka HIV/AIDS yang menimpa penduduk negeri, terutama kalangan remaja sebagai generasi bangsa. Dewasa ini, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyampaikan laporan bahwa selama periode Januari-Juni 2022, sebanyak 1.188 anak Indonesia positif HIV.

Laporan itu juga menyebut kelompok usia 15-19 tahun yang dikategorikan sebagai remaja menjadi kelompok paling banyak terinfeksi HIV, yakni sebanyak 741 remaja atau 3,3%. Mirisnya, cara penularannya sangat memprihatinkan. Mayoritas penularan HIV pada generasi bisa disebabkan oleh penggunaan narkoba suntik dan seks bebas, terutama dengan sesama jenis. Kasusnya mulai bermunculan di kalangan remaja, meskipun memang bukan kasus mayoritas. Namun demikian, harus diwaspadai.

Indonesia sendiri termasuk negara dengan kasus tinggi HIV/AIDS, bahkan tertinggi di Asia Tenggara. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyampaikan, hingga Juni 2022, total pengidap HIV yang tersebar di seluruh provinsi mencapai 519.158 orang. Provinsi tertinggi adalah Jakarta dengan angka nyaris 100 ribu, disusul Jawa timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan urutan ke-5 adalah Papua (CNN Indonesia, 01/09/2022).

Baru-baru ini pun publik dikagetkan dengan tingginya kasus mahasiswa di Jawa Barat terkena HIV/AIDS. Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) mengatakan, per Desember 2021, terdapat 12.358 pengidap HIV/AIDS di Jabar. Sebanyak 414 di antaranya berstatus mahasiswa ber-KTP Kota Bandung dan didominasi usia produktif (20—29 tahun) (Detik, 29/08/2022).

Bahkan, Jogjakarta yang terkenal sebagai Kota Pelajar, sedang menggodok Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang penanggulangan HIV/AIDS sebagai revisi atas Perda 12/2010. Menurut KPA DIY, per 2022, tercatat 6.058 kasus HIV dan 1.931 kasus AIDS, sedangkan dominasi usianya berada pada usia produktif (Detik, 26/08/2022).

Serentetan fakta yang terungkap di atas menjadi bukti bahwa alarm HIV/AIDS terus berbunyi. Kondisi ini jika dibiarkan terus atau dicegah dengan cara yang salah kaprah, bukan tidak mungkin alarm itu akan semakin kencang berbunyi. Status awas mengintai dan bahkan akan menjadi lonceng kematian generasi.

Faktor-Faktor Penyebab Munculnya Kasus HIV/AIDS

Tak ada asap kalau tak ada api. Alarm HIV/AIDS yang terus berbunyi tentulah bukan tanpa sebab. Berbagai upaya penyelesaian telah dilakukan oleh negara bahkan oleh lembaga sosial yang peduli kasus ini. Namun demikian, harus dipahami faktor krusial penyebab kasus HIV/AIDS, antara lain:

1. Penularan HIV/AIDS terbesar adalah seks bebas. Seks bebas menjadi aktivitas yang makin membudaya di negeri yang mayoritas muslim ini. Munculnya seks bebas bukan semata karena person, tetapi adanya paradigma kebijakan yang mengadopsi liberalisme. Gaya hidup bebas dengan pacaran sangatlah tren di kaum muda sekarang, bahkan sudah sangat melampaui batas. Bukan sekadar panggilan sayang atau papi mami, tetapi berpelukan, bercumbu, kissing, dan bermesraan layaknya suami istri terpampang di pemandangan sekitar. Generasi tak sungkan lagi melakukan itu.

Pasangan yang tinggal bersama tanpa ada ikatan pernikahan juga makin marak. Tanpa sungkan mereka tinggal bareng. Msyarakat juga cenderung cuek dan membiarkan aktivitas kumpul kebo. Mirisnya, aktivitas kumpul kebo ini dianggap lebih baik daripada berganti-ganti pasangan. Padahal, aktivitas kumpul kebo ini jelas perbuatan zina yang masuk dosa besar.

2. Sistem kapitalisme dengan segala derivasinya membawa atmosfer kehidupan yang rusak, seperti fenomena L613T di beberapa kota besar, seperti Jakarta, Karawang, Gresik, Cianjur, dll., lelaki s3ks lelaki (LSL) menjadi penyumbang tertinggi tertularnya HIV/AIDS. UNAIDS, badan organisasi naungan PBB yang khusus menangani masalah yang berkaitan dengan HIV/AIDS, menyatakan bahwa peningkatan risiko tertular HIV terbesar adalah kelompok LSL (22 kali) dan transgender (12 kali).

3. Faktor lainnya adalah kenakalan remaja seperti narkoba, yaitu dengan menggunakan jarum suntik bergiliran. Budaya nyabu juga menjadi potret buram bagi generasi. Mirisnya, negeri ini juga kerap diwarnai dengan kasus penyalahgunaan narkona. Indonesia termasuk negara tertinggi penyalahgunaan narkoba dan disebut “surga narkoba.” Generasi mudah mengakses barang haram tersebut. Wajar jika anak usia remaja dan masih sekolah mudah mendapatkan narkoba. Inilah yang juga mengantarkan alarm HIV/AIDS kerap berbunyi.

Kenakalan remaja yang makin tidak karuan ini tidak bisa terlepas dari arus liberalisasi yang sengaja dicangkokkan oleh Barat ke negeri-negeri muslim. Freedom of behavior atau kebebasan bertingkah laku dinarasikam dan dikampanyekan sebagai sumber kebahagiaan dan kesuksesan. Sehingga, generasi akan super kreatif yang kebablasan dan menikmati apa pun yang mereka inginkan tanpa adanya pedoman norma dan agama.

Manusia dianggap paling paham terhadap apa yang terbaik buat dirinya sendiri. Apalagi generasi yang jiwanya selalu bergelora dan membara dengan kelabilan tingkat tinggi, memandang dunia adalah tempat hip-hip hura. Padahal, manusia secara umum, tidak pernah tahu secara utuh apa yang terbaik buat dirinya. Buktinya, saat kebebasan berkibar, mereka justru rusak dan hilang arah.

Dampak Negatif HIV/AIDS

Mengerikan memang penyakit kelamin ini. Tak ada dampak negatif lainnya bagi generasi selain kematian dan suramnya masa depan. Jajan sembarang bagibpara lelaki hidung belang akan merembet pada kematian generasi. Para suami yang berzina sembarangan akan berpeluang besar membawa penyakit mematikan itu pada istrinya, kemudian pada anaknya.

Menurut Satgas HIV, 90% penyebaran HIV pada anak, penularannya vertikal lewat ibunya, baik dari kehamilan maupun persalinan. Baru-baru ini pun kita juga digemparkan dengan fakta banyaknya ibu rumah tangga mengidap HIV/AIDS. Mayoritas tertular dari suami yang sering “jajan” sembarangan.

Banyak dari para ibu tersebut yang tidak menyadari dirinya tertular HIV/AIDS sehingga para dokter menyatakan bayi-bayi yang mereka lahirkan atau susui juga mengidap HIV. Menurut IDAI, pada 2022, terdapat 275 kasus pada bayi di bawah empat tahun. Tingkat kematian bayi terinfeksi HIV/AIDS pun tinggi. Sungguh malang nasib generasi, sudahlah terancam malnutrisi karena kurang gizi, mereka pun kini terancam mengidap HIV/AIDS.

Sebagaimana data yang ada, kasus HIV/AIDS juga menimpa generasi muda. Mereka banyak terpapar dan akhirnya terkapar HIV/AIDS. Memilukan, remaja dan pemuda yang seharusnya memiliki masa depan cemerlang dan bahkan bisa mengubah sebuah peradaban, bahkan membawa estafet risalah Islam ke seluruh alam harus fokus dalam proses penyembuhan karena infeksi HIV/AIDS. Mereka yang sudah terkena HIV/AIDS akan terbatas ruang geraknya. Nahas memang, tinggal di negeri yang mayoritas muslim, justru alarm HIV/AIDS berbunyi nyaring.

Solusi Islam dalam Menghilangkan Bunyi Alarm HIV/AIDS

Generasi jamak diketahui sebagai agent of change. Betapa banyak mutiara umat yang berasal dari remaja. Sebut saja Zayd bin Haritsah, Ali bin Abi Tholib, hingga Muhammad Al-Fatih. Para generasi adalah calon pengukir peradaban selanjutnya. Baik buruknya peradaban, mulia hinanya peradaban bergantung pada sosok dan kualitas generasi. Hal yang paling utama bagi penjagaan generasi adalah penjagaan terhadap akhlaknya, yakni dari sisi perilaku, moral, dan adabnya.

Akhlak sejatinya buah ketakwaan, maka pakem dari adab atau akhlak yang menjadi icon pola sikap seorang muslim harus berdasarkan aspek ruhiyah. Yakni, menjadi konsekuensi keimanan atas hubungan manusia dengan dirinya sendiri. Dari sana, akhlak yang dibangun berdasarkan kesadaran, maka generasi akan berkhidmat pola sikapnya sesuai dengan adab seorang muslim terhadap orang lain. Tentu saja seorang individu bertanggung jawab atas konsekuensi keimanan atas akhlak ini, namun kontrol masyarakat amatlah diperlukan terlebih negara. Negaralah yang akan menjaga suasana keimanan seluruh rakyat, termausk generasi.

Penjagaan tumbuh kembang generasi, baik akal, fisik, jiwa, dan sikapnya adalah tanggung jawab negara. Negara menjamin pendidikan dan pengajaran yang berasaskan akidah Islam untuk membentuk pola pikir dan pola sikap yang islami (bersyakhsiyah Islam). Sementara lembaga penerangan (media) akan dikontrol ketat oleh negara. Siaran yang berbau porno ataupun yang merangsang jinsiyah (seksualitas) akan dilarang keras. Bahkan, pelakunya akan disanksi. Seks bebas akan dilibas, tak diberi setitik pun velah. Sehingga, otak porno tak akan menggejala. Generasi tak akan dihantam badai pornografi.

L613T juga tak akan sedikit pun diberi ruanh. Mereka akan diseru kembali pada fitrahnya. Namun, jika sudah terlanjur berbuat zina atau seperti kaum sodom, maka hukuman akan ditegakkan dengan adil tanpa pandang bulu sesuai syariat Islam. Jika kasus HIV/AIDS terlanjur menimpa salah satu rakyat. Negara akan menelusuri apa penyebabnya dan dari mana asal mulanya. Jika memang dari darul kufur yang menulari rakyat lewat jarum suntik, negara akan menyiapkan layanan kesehatan terbaikan dan akan diisolasi agar tak menjadi mata rantai berkepanjangan. Namun, jika kasus itu karena adanya zina atau kemaksiatan lainnya. Maka had zina akan ditegakkan. Sehingga, alarm HIV/AIDS tak ada kesempatan berbunyi meski hanya sekali. Maka, saatnya kaum muslim menerapkan syariat Islam di bawah naungan institusi negara.

Wallahu a’lam bissawab

Dibaca

 37 total views,  2 views today

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terbaru

Konsultasi