Vibes Ukhuwah, Dijalin Jangan Ditinggalin

Oleh. Afiyah Rasyad

إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara.”

Firman Allah dalam surah Al-Hujurat ayat 20 di atas menjadi sebuah tanda paten bahwa setiap orang yang beriman (mukmin) adalah saudara. Ikatannya adalah ikatan akidah Islamiyah. Setiap muslim dengan latar belakang berbeda, apakah suku, ras, dan bangsa tetaplah saudara. Tentu saja di dunia ini banyak sekali perbedaan, hal itu sudah menjadi sunnatullah.

Perbedaan yang terjadi di tengah-tengah umat bukanlah suatu hal yang menjadi problem besar, dan seakan-akan sulit untuk mencari solusinya. Di dalam Islam, perbedaan itu adalah rahmat, agar kita bisa saling mengenal. Sebagaimana dulu saat Rasulullah saw. memimpin daulah Islam pertama di Madinah, beliau tidak hanya mengatur urusan umat Islam saja, tetapi urusan umat yang lain pun menjadi tanggung jawab yang juga diwajibkan di dalam Islam.

Vibes ukhuwah Islamiyah seharusnya terus dijalin di tengah serpihan perbedaan yang ada. Namun, saat ini sangatlah miris. Hanya karena sebuah “anggapan” seorang muslim atau tokoh Islam berbeda pandangan, muslim yang lain langsung menghujat, mencela, ataupun merespons dengan perbuatan yang tak terpuji. Seorang Ustaz yang dianggap berbeda mazhab, langsung dipersekusi. Muslim yang memiliki pandangan bahwa Islam saja yang layak diterapkan dalam bermasyarakat dan bernegara langsung dicapai radikal bahkan terorisme.

Vibes ukhuwah kini seakan sirna ditelan perbedaan dan anggapan-anggapan tak berdalil. Tuduhan dan stigma dilekatkan pada kaum muslim yang terus mendekat pada Sang Pencipta untuk taat. Bahkan, perbedaan teritorial pun membuat mayoritas kaum muslim diam saja saat ada saudaranya yang dijajah dan disiksa.

Sebut saja muslim Palestina yang hingga detik ini masih diintai serangan keji Zionis Yahudi. Sementara negeri tetangganya yang sesama muslim justru membangun pagar tembok karena khawatir dituduh membantunya. Kaum muslim secara personal membantu doa dan dana meski hanya sedikit yang tersalurkan karena blokade Zionis merata. Penguasa muslim banyak yang bungkam dan diam seribu bahasa.

Krisis kemanusiaan lainnya adalah terombang-ambingnya muslim Rohingya di tengah lautan. Sementara respons kaum muslim di negeri ini beragam dan kebanyakan yang mencemooh, mencibir, bahkan menolak dengan penuh hinaan. Sungguh ini adalah tamparan yang sangat keras, betapa hari ini kita tak berdaya, ukhuwah Islamiyyah hanyalah konsep yang terukir dalam catatan.

Vibes ukhuwah harus dijalin, jangan ditinggalin agar persatuan umat Islam segera terwujud. Dari ukhuwah ini kebangkitan Islam akan bergema di seluruh penjuru dunia. Kebangkitan dalam arti meningkatnya taraf berpikir umat yang kemudian menjadi umat yang sadar akan hakikat hidup, menjadi berpengaruh. Kebangkita. Islam akan sulit diraih tanpa modal ukhuwah Islamiyah.

Terukir dalam tinta emas sejarah, 1400 tahun silam, syariat Islam berhasil mempersatukan orang-orang Arab yang dan mengeluarkan mereka dari kejahiliahan. Rasulullah berhasil mempersaudarakan kaum Anshar dan Muhajirin. Beliau juga berhasil menghimpun bangsa Arab dan non-Arab dalam ikatan akidah Islam dan melebur mereka dalam bingkai yang satu. Sehingga, terbentuklah umat yang memimpin dunia lebih dari seribu tahun. Islam juga menyatukan manusia secara intelektual dan emosi, kaum muslim saling mencintai dan mengasihi karena Allah.

Kenapa vibes ukhuwah harus terus dijalin dan jangan pernah ditinggalin? Menurut Ajengan Ustaz Yuana Ryan Tresna, ada beberapa keutamaan dalam menjaga ukhuwah Islam, antara lain:

Pertama, menjaga darah, kehormatan, dan harta sesama muslim. Seorang muslim wajib menjaga darah, kehormatan dan harta muslim yang lainnya. Dalam banyak hadits disebutkan bahwa pada asalnya darah seorang muslim haram untuk ditumpahkan. Hancurnya dunia lebih ringan di sisi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang muslim.

Kedua, kaum muslim tidak boleh saling menzalimi. Sebaliknya, sesama muslim harus saling menjaga haknya. Para ulama mendefinisikan al-zhulm dengan menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya atau lawan dari kata al-adl.

Ketiga, dengan ukhuwah, kaum muslim tidak akan membiarkan muslim dizalimi. Bukan hanya tidak boleh saling menzalimi, seorang muslim juga tidak boleh membiarkan saudaranya dizalimi atau menjadi korban kezaliman orang lain. Bahkan harus melindunginya, menghibur dan membantunya, jangan sampai menghina dan meremehkannya. Inilah wujud dari pemisalan dalam hadits Nabi bahwa umat Islam itu bagaikan bangunan yang saling menguatkan.

Keempat, tidak akan membuka aib (keburukan) saudaranya. Diantara kewajiban yang juga dibebankan kepada kita sebagai muslim adalah menjaga kehormatan saudaranya dengan tidak membuka aibnya. Salah satu bentuk kasih sayang Allah Taala adalah menutup aib kita. Maka, tidak pantas manusia justru membuka aib saudaranya. Maksud di sini adalah menutupi kesalahan orang-orang yang baik, bukan orang-orang yang sudah dikenal suka berbuat kerusakan. Kanjeng Nabi mengingatkan dengan qarinah (indikasi) yang tegas,

«وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ»

“Dan barang-siapa yang menutupi (‘aib) seorang muslim, maka Allah akan menutupi ‘aibnya di hari kiamat.” (HR. al-Bukhari)

Kelima, tidak akan saling berprasangka buruk. Tidak jarang perpecahan antar sesama muslim bermula dari adanya prasangka buruk. Pada konteks inilah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam sangat menekankan akan hal ini,

«إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ وَلَا تَحَسَّسُوْا وَلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا تَحَاسَدُوْا وَلَا تَدَابَرُوْا وَلَا تَبَاغَضُوْا وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا»

“Janganlah kamu berprasangka (buruk), karena berprasangka buruk itu adalah perkataan yang paling dusta. Dan janganlah kalian mencari-cari dan memata-matai kesalahan orang lain, janganlah iri hati satu sama lain, janganlah memutuskan hubungan satu sama lain, jangan saling membenci dan jadilah kalian hamba Allah yang saling bersaudara.” (HR. Muttafaq ‘Alayh)

Dan masih banyak lagi keutamaan menjaga ukhuwah Islamiyah. Maka dari itu, setiap muslim wajib menjaga vibes ukhuwah. Wallahu a’lam.

Dibaca

Loading

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terbaru

Konsultasi