Mendidik Jinsiyah Anak

Oleh. Afiyah Rasyad
(Aktivis Peduli Umat)

Maskulinitas dan feminitas memang harus diajarkan sejak usia dini. Kalau istilah orang modern pendidikan seks. Jinsiyah begitu urgen untuk diajarkan pada anak, tetapi bukan perkara hubungan suami istri yang perlu diajarkan. Dalam hal ini, saya memandang perlunya pendidikan jinsiyah usia dini dalam beberapa hal:

🌸 Memberi nama yang sesuai dengan jenis kelamin. Misal Mahbubah untuk perempuan dan Mahbub untuk anak laki-laki. Kalaupun sudah terlanjur nama ananda mirip dengan lawan jenisnya, panggillah dia dengan jenis kelaminnya, misal Novi. Jika dia laki-laki panggillah dengan Bang Novi atau Mas Novi pun sebaliknya jika dia perempuan panggillah dengan Mbak Novi.

🌸Aurat. Sangat penting mengajarkan anak tentan aurat. Kenapa? Karena aurat ini secara langsung akan menjadi maklumat (informasi) berharga dalam pemikiran ananda. Dengan memberi pakaian yang sesuai dengan jenis kelamin. Jika dia laki-laki, ajarkan dia pakai baju laki-laki dengan membiasakan menutup batas-batas auratnya. Pun dengan anak perempuan, ajarkan dia pakai baju anak perempuan dengan membiasakan menutup seluruh tubuhnya secara syar’i. Kerudung (An Nur: 31) & Jilbab (Al Ahzab: 59). Karena pembiasaan itu butuh start, consistance & repetation. Jadi, kitalah sebagai orang tua harus all out dalam mendidik dan mengasuh ananda.

🌸Izin. Urgen mengajarkan ananda masuk ke kamar kita untuk izin dalam tiga waktu aurat, bakda zuhur, bakda isya, dan qobla shubuh. Ini juga berkorelasi dengan penyapihan usia 2 tahun. Sehingga kita sudah mengajarkan ananda sejak dini berlepas dari umminya. Sama urgennya mengajarkan ananda izin saat berkunjung ke rumah saudara, teman, dan tetangga. Tidak boleh mengintip ke dalam rumah. Tidak nyelonong masuk. Salam 3x, jika tidak ada sahutan maka pulang.

🌸Memisahkan kamar anak laki-laki dan perempuan sejak dini. Ini juga hal patut kita laksanakan.

🌸Mengarahkan ananda sesuai jenis kelaminnya hal apa saja yang boleh dilakukan. Dan menggali potensinya sesuai skill yang dimilikinya. Misal: memasak. Bukan hal tabu sebenarnya jika anak-anak laki-laki gemar memasak membantu ummi. Karena dia sering telibat di dapur saat ummi masak. Maka, abi dan ummi harus rajin sounding mengarahkan bahwa banyak chef/koki itu laki-laki. Dan itu bisa menjadi washilah ananda mencari nafkah kelak. Seperti abi mencari nafkah. Karena itu kewajiban. Sebaliknya jika ananda perempuan dan doyan dengan dunia mesin karena sering membantu abi atau terlibat saat abi memperbaiki motor, kipas, kulkas dll, maka jangan dipatahkan ya, Abi wa Ummi. Itu bukan hal buruk yang menimpa ananda. Arahkanlah dia dan soundinglah bahwa itu mubah bagi dia. Dia bisa bantu ummi mempebaiki motor mengganti busi saat abi tidak di rumah, membantu ummi memperbaiki mixer yang macet, dsb. Atau sounding ke dia bahwa dia bisa mengajarkan ilmunya pada adiknya atau anaknya kelak. Justru penting bagi kita para ortu memberi mainan yang sesuai dengan jenis kelaminan ananda. Tentu dengan membersamai ananda all out. Jiwa, raga, hati dan pikiran. Tidak menemani sambil hape-hapean.

🌸Infishol, ananda harus dibiasakan bermain dengan teman yang sama jenis kelaminnya. Perempuan dengan perempuan. Laki-laki dengan laki-laki. Agar kelak tidak campur baur.

🌸Hadirkan sosok Ummi dan Abi dengan peran sebagaimana mestinya. Jika abi jarang di rumah, hadirkan sosok laki-laki lain seperti kakek, paman, dll.

Jadi anak usia dini sudah bisa diarahkan jinsiyahnya sesuai dengan fitrahnya. Wallahualam bisshawab.

Dibaca

Loading

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terbaru

Konsultasi