Hilangnya Fitrah Anak dalam Belenggu Sistem yang Rusak

Oleh: Anis Fitriatul Jannah
(Pemerhati Remaja)

Setiap anak, fitrahnya baik. Namun, seiring berjalannya waktu, fitrah ini kian bergeser. Yang semulanya anak menjadi korban kekerasan karena ketidakberdayaan atau kepolosannya, kini menjelma menjadi ‘pelaku’ kekerasan pada orang lain.

Sebagaimana berita beberapa pekan lalu yang beredar di sosial media, bahwa beberapa siswa melakukan perundungan kepada teman sebayanya dengan melakukan penganiayaan. Peristiwa ini terjadi di 2wwzqga 2 Cimanggu, Cilacap. Akibat peristiwa ini, korban mengalami cedera yang cukup parah, yakni patah tulang rusuknya. (news.detik.com. Sabtu/30/09/2023)

Yang lebih disayangkan lagi, alasan yang melatarbelakangi peristiwa ini sangatlah remeh, yakni hanya karena si korban mengaku bagian dari kelompok si tersangka dan para tersangka tidak terima. Akhirnya terjadilah penganiayaan tersebut.

Inilah potret output pendidikan dalam sistem kapitalis sekuler, gagal dalam melahirkan generasi bangsa yang cerdas, beretika, amanah dan tangguh. Sebaliknya, generasi yang dilahirkan adalah generasi bermental strawberry, temperamen, dan mau menang sendiri. Inilah karakter sebagian besar gen-Z hari ini. Mental seperti ini tidak serta merta terbentuk sendiri. Namun, banyak hal yang menjadi faktornya.

Yang paling utama adalah faktor peran orang tua. Karena, pada dasarnya anak tergantung juga kepada siapa yang mendidik dan bersama siapa ia tinggal. Jika kedua orang tuanya menanamkan nilai-nilai ke-Islaman, maka akan seperti itulah kepribadiannya terbentuk. Namun, orang tua saja yang menjadi pendidik pun tak bisa menjamin anak berkembang sesuai fitrahnya. Karena, ada lingkungan masyarakat yang membentuk anak. Dan lingkungan ini tidak terbentuk sendiri, namun ada peran negara pula. Yaitu melalui mekanisme kurikulum yang ditetapkan.

Negara yang dimaksud bukan sembarang negara, namun negara yang menerapkan syariat Islam secara keseluruhan (kaffah). Negara inilah yang’ mampu mencetak generasi menjadi ‘insan kamil’. Tujuan pendidikannyapun tidak lain kecuali, terbentuknya syakhsiyah Islamiyah. Yakni pola pikir yang Islam (aqliyah Islamiyah) dan pola sikap Islam (nafsiyah Islamiyah). Jika sudah seperti ini, maka tindakan kemungkaran berupa perundungan atau pembullyan tidak akan terjadi.

Namun, negara yang menerapkan Islam kaffah tidak serta merta terwujud. Harus diperjuangkan dengan penuh kesungguhan. melalui sosialisasi (dakwah) Islam ke seluruh penjuru negeri. Dengan metode pembentukan pemikiran, yakni mengubah pemahaman umat.

Dengan tersebarnya dan diterimanya opini Islam kaffah di seluruh belahan bumi, insya Allah alam ini keluar dari gelapnya peradaban menuju terangnya peradaban. Dan meyakini bahwa, kemenangan Islam adalah keniscayaan dari Allah dan sudah dibisyarahkan (dikabarkan) oleh Rasulullah Muhammad Saw. Hendaknya, kita ‘tak ragu untuk memperjuangkannya.

Wallahu a’lam bis shawab.

Dibaca

Loading

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terbaru

Konsultasi