Tabula Rasa

Oleh. Afiyah Rasyad

Angin kepedihan tak berhenti menyapa Tanah Suci Palestina. Tak ada satu inci wilayah pun yang akan selamat dari rudal dan bom penjajah yang hina dina. Puluhan ribu nyawa seakan tak berharga. Penjajahan Zionis Yahudi terus melancarkan genosida.

Dari Gaza Utara hingga Raffah, langkah kaki tetap tak tentu arah. Kaum muslim di sana pontang-panting mencari keselamatan dan tak pernah menyerah. Mereka ters berjuang mempertahankan Palestina tanpa lelah.

Langkah kecil bocah usia 8 tahun itu penuh keseriusan. Pandangannya menyapu seluruh reruntuhan dan kamp pengungsian yang rata akibat serangan brutal. Bocah laki-laki yang tegar itu memancarkan semangat kehidupan yang membara. Bukan sekadar mencari anggota keluarga, dia meneliti bagaimana kondisi dan menyusun rencana.

Tekadnya sudah bulat untuk melawan penjajahan yang nyata. Dia memang sudah tertutup akses untuk mendengar ada kabar apa di dunia. Dia pun tak tahu tagar “All Eyes on Rafah” bergema. Namun, semangat juang tetap menyala karena cintanya pada Allah dan Rasul-Nya. Menjaga masjid suci di Palestina adalah tanggung jawabnya untuk saudara muslimnya di dunia. Dia tak akan pernah pergi meninggalkan Palestina meski sebentar seja kecuali Allah memanggilnya pulang ke kampung halaman sesungguhnya.

Kerikil dalam kantong kecil di kedua pinggangnya bergelantung menemani tiap langkah kecil sang bocah Palestina. Dia tak bersedih tak berjumpa keluarga, sebab kelak dia yakin Allah akan mempersatukannya di surga. “Hasyim, ayo segera kembali. Sebentar lagi magrib.”

Bocah itu mundur dan patuh pada panggilan bibinya. Magrib ini masih sama, tak ada makanan terhidang. Rasa lapar sudah menjadi sahabat setibanya dan Hasyim tak pernah menyalahkan Sang Pencipta. Dia juga tak pernah merasa menderita.

Di dalam dadanya, hanya ada satu kebencian yang terus menyala. Yakni, kebencian pada penjajah Zionis Yahudi yang telah merampas tanah kaum muslim di dunia. Magrib ini, Hasyim, sang bocah Palestina, membasahi lisannya dengan bait-bait zikir dan doa. Dia yakin, malam ini bisa bergerilya dengan kerikil-kerikil yang telah dikumpulkannya. Dia bukan anggota intifadhah. Namun, semangat juangnya tak kalah dengan pasukan itu. Dia hanya seorang diri, tetapi dia yakin Allah terus menyertai.

Malam kian larut. Hasyim telah diantar sang bibi dengan pandangan penuh harap. Harapan akan keselamatan dan kehidupan sang bocah. Hasyim mulai memahami titik-titik penyerangan. Dia pun mulai mengerti pola kebrutalan penjajahan. Dia telah lama memperhatikan ketinggian pesawat tempur itu. Katapel di tangan telah siap menemani aksinya.

Tak sampai 30 menit, raungan pesawat kembali hilir-mudik. Netra Hasyim meneropong dengan awas. Bunyi khas pesawat tempur penjajah tertangkap indra pendengarannya. Dengan cekatan, tangan mungilnya melepas kerikil-kerikil lewat katapel. Lafaz kalimat tayyibah mengudara bersama kerikil itu. Biiznillah, kobaran api menyala di udara tak jauh dari persembunyian Hasyim.

Pekikan takbir bergema di tempat-tempat pengungsian. Air mata berlinang mengiringi tabula rasa sebagai hamba. Bocah 8 tahun menapaki fitrah dan tabula rasa dengan menjadi sebaik-baik hamba.

Dibaca

Loading

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terbaru

Konsultasi