Seroja di Ujung Senja

Oleh. Ummu Shofiyah

Listrik ini tak kunjung nyala. Enak kali ya, kalau pak La Nyala ada di sini, kagak perlu pakai apa itu, jenset atawa lampu surya isi 12 atau 24, sama saja asapnya saat dinyalakan menyesakkan dada, dan yang banyak jadi korban saat si penghisap tak tau tempat waktu. Loh, kok ke situ.

Ya … ya … ya …, padam ini sungguh lama, memang iya, Babang Peelen (terserah bacanya gimana) sedang berusaha sepenuh hati memperbaiki travo atau apa yang memang sedang diperbaiki. Tetapi, ini sudah 5 jam, air tandon sudah dari tadi habis. Buat wudlu sudah minim. Belum lagi buah hati yang senang dan becanda “so hard” dengan cahaya lilin, emaknya lihat dengan tersenyum, padahal jengkel akut, nih, lampu tak jua nyala.

Ah, sebulan ini sering sekali listrik padam. Entah, dasarnya, emak-emak kudet tak tahu pengumuman, ada apa gerangan kok dipadamkan. Yang emak tahu, listrik sekarang pandai sekali memanjat. Begitu memanjat, si listrik enggan turun. Malah panjatannya makin tinggi saja. Walhasil, tarifnya yang selangit seakan ingin menghilangkan senyum emak yang senantiasa berusaha bahagia. #mencekik … Hiks hiks hiks

Sebentar lagi masuk waktu magrib. Emak masih berjibaku dengan orderan untuk nanti bakda isya. Makanya, kenapa senyum emak berkurang, karena pekerjaan emak dengan padamnya listrik juga terkendala. Tuh, bahan yang harusnya dimixer pakai listrik, jadinya dimixer manual, alias lima jari. Bersyukur sang buah hati lagi sama abi. Tapi, ya tetap, harusnya asar sudah kelar. Ini menjelang magrib baru selesai. Mana tidak bisa langsung mencuci alat-alatnya lagi. Nestapa emak, tetap dihadapi dengan senyum.

“Assalamualaykum …!” Suara lembut itu membuat emak segara menjawab salam dan membukakan pintu.

“Waalaykumussalam, masuk, Neng. Alhamdulillah, baru saja selesai neng. Ummi ke mana, kok si eneng yang ke mari?” Sambut emak dengan senyum khasnya 2-1-2.

“Oh, iya mak, saya diminta ummi mengambil kuenya. Di rumah masih repot.” Jawab gadis yang dipanggil Eneng itu.

“Mari, Neng masuk, duduk dulu. Emak ambil pesanannya, Neng.” Emak mempersilakan.

Sebentar kemudian, bak pramugari yang sudah lihai, emak memberikan dua kotak kue pada si Eneng.

“Oh iya, Emak lupa. Neng Seroja ‘kan?” Emak coba mengingat nama putri Ummi Saroh.

“Iya, Mak, saya Saroja.”

“Masyaallah, udah gadis aja …. Padahal, pas Emak kuliah, kau masih TK, berarti emak ini udah makin tua ya. Hihihi.”

Seroja hanya diam saja dan menunduk makin dalam. Emak jadi tak enak hati, kenapa tetiba, nih, gadis sedih. Emak ke belakang dan segera kembali ke depan.

“Neng, ini diminum dulu. Barusan Emak salah ngomong, ya …? Maaf, ya.” Emak asal nyeplos takut omongannya nyakitin Neng Saroja.

“Oh, enggak, Mak. Bukan begitu, Mak. Maaf saya jadi melow di sini. Ini saya habis baca WA pas emak ke belakang ambil kue barusan.” jawab Seroja cepat.

“Alhamdulillah, kuatir emak yang buat Neng sedih.” jawab emak dengan senyum khasnya 2-1-2.

Emak bingung, Saroja masih duduk terpekur. HP-nya nyala-nyala di meja hanya dilihatin. Tetapi, ya, tak kunjung pulang juga. Sebentar lagi azan magrib. Hari makin gelap dan padam masih saja setia. Masak mau diusir. Bukan tipe Emak banget.

“Neng, salat di sini aja, ya! Ntar lagi magrib. Jamaah sama emak.” Emak mencoba cari jalan keluar dengan menawarkan salat jamaah. Seroja masih diam tak bergerak.

Emak tambah bingung. “Ini gadis dengar kagak apa yang dilafalkan Emak barusan?” HP Seroja kembali menyala, makin menampakkan wajah sedih gadis itu. Sangat jelas bagi Emak kesedihan gadis itu. Seperti orang patah hati.

Emak menyentuh bahu Seroja sembari berujar, “Sebentar lagi Maghrib neng. Ayo wudlu dulu.”

Senyum emak ditangkap Saroja begitu meneduhkan. Serta merta Seroja memeluk emak karena begitu perih hatinya. Tak tahu apa yang harus dilakukan. Mendapatkan Seroja melabuhkan badan di pelukannya, emak langsung memeluk balik, ingin memberi sedikit ketenangan pada gadis ini.

Dua menit kemudian, Seroja melepaskan pelukan. “Maaf Mak, saya memang lagi galau banget, sedih, dan merasa kotor.” Sambil sesenggukan, “saya hamil, Mak.”

Bola mata emak yang sudah bulat lebar, makin lebar. Emak menelan ludah, agak shock digampar kabar Seroja. Jauh lebih membuat Emak shock ketimbang padam yang tak kunjung menyala.

“Minum dulu, Neng, mumpung masih hangat.” Emak menyodorkan minuman pada Seroja. Tanpa penolakan, cangkir kosong sudah di atas meja.

“Neng, beneran hamil ini? Sudah berapa bulan?” tanya emak memastikan.

“Sudah 4 bulan, Mak, peristiwa nahas menimpa saya bertubi-tubi. Setahun lalu, pas hari nyantri saya mengenalnya. Saya ikut acara bersama teman-teman putri. Kami boleh keluar untuk merayakan hari nyantri itu. Dari situlah, hubungan kami berlanjut terus dan zina ini kami lakukan.” Seroja menatap kosong keluar.

“Dia berjanji akan menikah dengan saya, tapi tak ditepatinya. Jika diajak menemui Abi dan Ummi, ada banyak alasannya, Mak.” Seroja masih menatap kosong, “dan dua hari yang lalu, saya baru tahu, dia juga h0m0 mak.”

Emak lebih shock lagi, istigfar yang dari tadi menghiasi bibir emak, kini volumenya seperti suara azan yang melengking. “Astaghfirullah.”

“Iya, Mak, awalnya saya tidak percaya kabar itu. Setelah saya telusuri, kebetulan mau ada acara di rumah malam ini, saya bisa leluasa menelusuri. Dia memiliki pacar, Mak, salah satu teman SD, laki-laki dia, Mak. Beda RT dengan saya. Mereka satu kelas. Cuma teman SD saya itu tidak mondok. Saya melihat langsung mereka lagi bermesraan, Mak. Saya sudah sakit perih hati ini, tambah perih lagi, Mak.”

“Astagfirullah, innalillah ….” Emak tiba-tiba speechless. Seroja kembali berderai air mata.

“Saya takut, Mak sama abi dan ummi. Saya juga takut dengan azab Allah, Mak. Saya mengaku, saya melakukan dosa besar.”

“Bertobatlah, Neng, dengan sebenar-benarnya tobat! Memang di kehidupan sekarang ini banyak sekali peluang melakukan dosa. Kepada orang berilmu sekalipun. Karena kita hidup tidak diatur dengan aturan yang bukan berasal dari Sang Pemilik Kehidupan. Kita jauh dari aturan Islam. Apalagi perbuatan zina di negeri ini tidak dijadikan masalah besar oleh penguasa kita. Termasuk yang terbaru masalah l-6-8-7 sekarang sudah dianggap bukan perkara kriminal. Malah suruh dilindungi oleh orang yang ngerti agama. Nah, adzan magrib sudah tiba. Ayo salat dulu, Neng. Biar lebih adem.” Emak menarik lengan Seroja, membimbingnya untuk wudu.

Abi dan dua putra emak sudah berpamitan ke masjid. Tinggal emak dan Seroja berdua di rumah gelap gulitanya emak malam itu. Lepas salat dan zikir, Seroja masih saja berderai air mata. Cahaya lilin yang redup tak mampu menutupi air mata Seroja yang menganak sungai.

“Neng harus berani bilang sama abi dan ummi. Apa pun resikonya. Abi dan ummi insyaallah tidak akan membunuh, Neng, meski beliau-beliau mungkin marah besar ataupun merasa terpukul.”

“Iya, Mak, saya akan coba. Saya sungguh menyesal. Sangat menyesal, saya besok mau ke sini lagi, Mak, mau cari jalan keluar, itu pun kalau mak tak keberatan,” ucap Seroja.

“Oh, silakan, Neng. Silakan …. Semoga emak bisa bantu menyelesaikan,” jawab emak sembari tersenyum.

Mereka beranjak dari tempat salat dan saat itu lampu menyala. Ucapan tahmid menghiasi bibir emak dan Seroja. Seroja berpamitan pada emak sembari membawa pesanan. Emak masih merasa ngeri dengan peristiwa ini. Selama ini Emak hanya baca berita perzinhan, l687, dsj. saja sudah shock, marah, dan greget. Ini nyata di hadapan Emak.

Sambil mencuci perkakas kue, Emak berencana ceritakan sekuel kisah ini pada Abi. Dan Abi harus bantu mencari solusi untuk Seroja. Besok gadis itu akan kembali. “Ah, Seroja di ujung senja, kisahmu sungguh membuat panas dingin ….” Batin emak.

Dibaca

Loading

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terbaru

Konsultasi