Secret

Oleh. Afiyah Rasyad

Emak tersenyum bahagia menatap segala perkakas masak yang sedari tadi menumpuk sudah bertengger indah di rak dapur. Dengan semangat, emak membersihkan sisa-sisa adonan di wilayah kompor. “Alhamdulillah, cling dah.” Gumam emak.

“Jagalah hati, jangan kaunodai
Jagalah hati, lentera hidup ini
Jagalah hati, jangan kaukotori
Jagalah hati, cahaya Ilahi”

Emak tergopoh masuk kamar. Mencari sumber suara yangbm memang sudah terkenal.

“Assalamu’alaykum,” sapa Emak dengan senyum, seolah yang menelpon ada di hadapannya.

“Iya, Mi, sudah pulang sejam yang lalu. Selesai salat maghrib. Subhanallah, belum nyampe rumah?” Wajah Emak berubah pias, ikut ketar ketir.

“Iya, Ummi, tadi salat magrib berjemaah dengan saya. Pulang pas lampu sudah nyala. Baik, Ummi, akan saya kabari jika ada berita. Wa’alaykumussalam warohmatullah.”

Emak terduduk lesu di dipan dapur. Lututnya lemas, keringat dingin mengalir tanpa permisi. Abi dan dua putranya belum pulang dari Masjid. Biasanya jam 19.15WIB sudah di rumah. “Ah, mungkin sebentar lagi, aku sholat isya dulu.” Emak bergegas ke kamar mandi.

Lepas Isya, emak merasa baikan. Pikiran emak melayang dengan kisah Seroja tadi. Bukan hal yang aneh memang di sistem sekarang ini. Tetapi, Emak begitu sedih, ngeri, marah dengan kejadian ini. Itu bocah lanangnya malah homo. Tidak terbayang lagi jika tetiba azab Allah datang menghampiri. Lindu yang hanya menggeser etalase saja sudah membuat ketakutan yang merinding ngeri. Apalagi sampai likuifaksi seperti Palu beberapa waktu lalu. Ah, Emak menangis dalam diam.

“Assalamu’alaykum,” Abi memberi salam super romantis meski raut wajahnya agak pias.

“Wa’alaykumussalam warohmatullahi wabarokatuhu,” Emak menyambut tangan Abi begitu takzim. Diciumnya tangan itu, lalu dikecup kening kedua putra emak.

“Ini kopinya, Kanda, minumlah. Biar Dinda menemani Ghilman dan Wildan.” Emak menyodorkan kopi dan dua potong kue pada abi.

Sementara Ghilman dan Wildan bercerita belajar mengaji dan tahfidz di Masjid bersama Ustaz Faruq. Emak antusias mendengarkan. “Abang sudah sampai surat An-Naba, Ummi,” Ghilman menjelaskan.

“Alhamdulillah, kalau kak Wildan?” Senyum emak lebar menatap kedua buah hatinya.

“Kakak sudah surah At-Takwir, hehe …” Wildan cengengesan. “Tadi abang sama kakak nunggu Abi lama, Ustaz Faruq menemani kami sampai abi datang. Kami sudah mengantuk. Lalu abi datang.” Wildan menjelaskan.

“Sudah mengantuk? Ayo, tidur. Cuci tangan, cuci kaki dulu. Salim sama abi!” Emak mengantarkan kedua buah hatinya itu. Rutinitas Emak sejak mereka berusia 4 tahun. Dan emak tak pernah mengeluh.

Abi masih duduk tafakur di ruang tengah. Kuenya masih utuh, hanya kopi sisa separuh. “Ada apa, Kanda, kok sepertinya gundah gulana?” Suara mesra emak menyapa.

“Ah, tadi ada kejadian tragis dinda, sewaktu mau beli air buat Ghiwil. Di persimpangan masjid ada yang teriak-teriak. Aku langsung mencari sumber suara, bersama ketua remas yang juga kebetulan keluar,” Abi masih menunduk, “besok aku harus ke Polsek memberikan kesaksian.”

“Ada apa sebenarnya, Kanda?” Emak menggigit bibir ketar-ketir.

“Tadi ada gadis dibunuh, Dinda, yang teriak-teriak, mereka orang yang pertama kali melihat jasadnya. Aku, tiba di TKP darah sudah tercecer. Motornya terseret sekitar 4 meter. Gadis itu sepertinya dipukul dari belakang ketika berkendara. Dan diseret … Di persimpangan itu memang agak sepi. Loh dinda kenapa?” Ganti Abi yang shock lihat emak berderai air mata.

“Innalillahi wainna ilaihi roji’un… Kanda, apakah motor korban itu motor yang sama dengan tamu kita tadi yang ambil pesanan.” Emak sesenggukan mencoba mencari kepastian.

“Astaghfirullah, iya, Dinda. Pantas saja saya merasa dejavu dengan motor itu. Ghilman sebelum berangkat sempat menaiki motor itu. Ah tapi bisa jadi yang lain, Dinda.” Abi mencoba menenangkan Emak.

Emak sudah beranjak mengambil HP. Langsung menghubungi Ummi Saroh. “Assalamu’alaykum ummi, apa sudah tiba Neng Seroja? Oh, begitu. Baik Ummi, akan saya kabari jika saya bertemu. Semoga segera tiba di rumah. Assalamu’alaykum.” Emak menahan suara paraunya sendiri. Seroja gadis malang korban pergaulan bebas. Apakah gadis yang dibunuh itu Seroja yang ditemuinya di ujung senja. Allah, betapa kejamnya sistem yang ada ini. Membentuk karakter kriminal tanpa urat malu dan belas kasih. Emak memejamkan mata dengan menghembuskan nafas panjang. Abi hanya memperhatikan saja, menunggu emak tenang.

“Kanda, gadis itu sekarang ada di mana?” Emak buka suara.

“Tadi aku mengantarnya ke RSUD bersama aparat untuk dilakukan visum.” Jelas abi.

“Ayo, Kanda, antar aku ke sana!” Emak bergegas masuk memakai Jilbab dan kerudung, tak lupa kaos kaki juga dipakainya.

“Dinda, tunggu sebentar sebenarnya ada apa?” Abi berusaha menenangkan.

“Neng Seroja putri ummi Saroh yang tadi ambil kue ke sini, belum juga sampai di rumah. Tadi dia kan lama di sini. Sebenarnya aku ingin cerita tentang dia pada kanda, mencarikan solusi juga. Tapi nanti lah ceritanya. Sekarang antarkan ke RSUD dulu. Mau memastikan dia Neng Seroja atau bukan.” Emak sudah mulai tenang.

“Baik, tapi Ghiwil bagaimana? Mau dibangunkan atau ditinggal?” Abi mengingatkan emak dengan buah hatinya, “atau begini, Dinda telpon lagi Ummi Saroh, tanyakan apa sudah tiba. Kalau belum tanyakan plat nomornya.”

Emak sigap menelpon Ummi Saroh dan sibuk mencatat nopol motor Neng Seroja. Lalu menyerahkan nopol itu pada Abi.

“Berarti belum pulang ya …” pertanyaan retoris Abi lebih pada diro sendiri.

“Aku akan telpon Pak Heru. Beliau polisi yang menangani kasus ini,” Abi beranjak mengambil HP dan mengeluarkan kertas kecil dari kantongnya. “Apa tadi tidak ada kue-kue yang aku bikin di jalan?” Emak teringat apa yang dibawa Neng Seroja.

“Aku tak melihatnya, Din. Tetapi, gadis itu tidak membawa identitas apa pun. HP-nya juga hancur. Polisi juga meminta tolong kami jika ada yang tahu anggota keluarganya untuk segera menghubungi beliau.” Jelas Abi.

“Kalau begitu, tanyakan apakah gadis korban pembunuhan itu sedang hamil? Memakai kerudung warna pink dan memakai gelang yang ada mainannya, mainannya si tikus. Eh maksudnya miki mus.” Emak memberikan ciri-ciri deteil. Dan kerutan di dahi Abi tampak jelas.

“Aku kecepatan menjelaskan kanda?” tanya Emak.

“Bukan, hamil?” tanya Abi dijawab anggukan emak.

“Baik akan saya tanyakan, sepertinya tadi gadis itu juga pendarahan di area paha ke bawah.”

Abi menelepon Pak Heru. Dan memang betul ciri-ciri yang emak sebutkan adalah gadis itu. Nopol yang dicatat emak juga nopol motor gadis korban itu. Emak terduduk lemas, bernapas lebih cepat. Abi memberi emak minum air putih dengan penuh kasih sayang. “Di mana rumahnya? Pak Heru sebentar lagi tiba di sini mau minta antar ke rumah korban.” Jelas Abi. Emak menatap abi sendu.

“Aku tak perlu kabari Ummi Saroh kanda?” tanya emak parau.

“Biar polisi saja dinda yang menjelaskan,” Abi menenangkan.

“Kasihan gadis itu, sudah terjerumus pergaulan bebas. Dikasih janji palsu. Eh sekarang dibunuh.” Emak bergumam.

“Siapa pembunuhnya, Kanda?” tanya emak penuh antusias.

“Tidak tahu, Dinda, pelakunya masih dilacak oleh pihak kepolisian. Semoga segera ketangkap, kalau Dinda berkenan nanti Pak Heru juga bisa mencari informasi pada Sinda.” Abi menjelaskan.

Abi membangunkan Ghiwil. Digendong keduanya saat Pak Heru sudah di rumah. Mereka naik mobil polisi ke rumah Seroja. Emak baru saja ngobrol dengan Seroja. Kejadian ini begitu pahit, sungguh biadab apa pun motif pembunuhan itu. Nyawa begitu tak berharga, ditambah ada janin di dalam perut Seroja. Rasulullah saw. saja saat memimpin Negara Madinah tidak serta merta menghukum pezina. Saat seorang melaporkan dirinya berzina, Rosul benar-benar memastikannya. Lalu untuk yang wanita, diminta baginda Nabi untuk melahirkan anaknya terlebih dahulu tidak serta merta dirajam. Lalu setelah melahirkan, wanita itu kembali pada Rasul, namun masih disuruh kembali untuk menyusui bayinya hingga waktu disapih. Masyaallah, benar-benar mengerikan hidup di zaman bar-bar yang tak berperi kemanusiaan. Seroja yang masih mengandung sudah dibunuh. Emak kuat dzonnya pada ayah biologis anak yang dikandung Seroja sebagai pelaku.

Ah, masih secret. Emak benar-benar mengutuk pembunuhnya. Batin emak berkecamuk. Tangan lembut Abi mengembalikan Emak pada kenyataan, Emak memberi senyum terindah pada Abi yang dari tadi entah sembunyi di mana senyum itu. Mobil melaju pelan. Memasuki gang rumah Seroja.

Dibaca

Loading

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terbaru

Konsultasi