Bab II Qurrota A’yun

Oleh. Yulweri Vovi Safitria

“Bu, bangun, Bu, ini Bapak dan anak-anak,” suara Pri terdengar pelan, sambil memijit kepala Imah.

Anak-anaknya mengoleskan minyak kayu putih untuk merangsang penciuman Imah agar segera sadar.

“Kak Naswa, tolong ambilkan Ibu air putih ya, Nak,” ucap Pri kepada anak sulungnya.

Gadis yang dipanggil Naswa beranjak ke dapur, mengambilkan segelas air putih hangat untuk ibunya. Imah perlahan duduk dibantu Pri, mukanya pucat pasi, kantung matanya terlihat menghitam, layaknya orang yang kurang tidur.

“Ibu semalam nggak tidur, ya?” Todong Pri. Ia paham, jika istrinya sudah pingsan pasti semalam nggak tidur. Imah bergeming, pura-pura tidak mendengar pertanyaan Pri. Dalam sekejap, Imah sudah menghabiskan segelas air putih hangat yang disodorkan oleh Naswa.

Imah melepaskan mukenah dengan dibantu oleh putri sulungnya. Sementara si kembar Zahra dan Zahwa, serta 3 adiknya sedang bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Hari pertama ujian semester akhir.

Naswa merapikan tempat tidur Imah, agar sang ibu bisa beristirahat dengan nyaman. Hati Imah masih gelisah, alasan apalagi yang akan ia utarakan atas ketidakberdayaannya untuk melunasi tunggakkan sekolah keenam anaknya. Hatinya perih, sesuatu yang dulu tidak pernah ia bayangkan akan terjadi hari ini.

Naswa beranjak ke dapur, ia menyiapkan nasi untuk sarapan kelima adiknya. Nasi hangat dengan tempe goreng, menu seadanya.

Naswa lalu bergegas memetik daun bayam yang berada di sepetak tanah kecil di sebelah rumahnya. Sayuran tersebut awalnya tumbuh liar, Imah memindahkannya ke dalam polybag. Sayuran tersebut pun menjadi andalannya untuk memenuhi nutrisi anak-anaknya. Menjadi menu sederhana keluarga mereka, apalagi saat harga sayur semakin melambung.

Sementara Pri, beranjak ke luar rumah, duduk di teras sambil menghirup udara pagi yang sesungguhnya sudah tidak segar lagi.

Pembangunan gila-gilaan di kota industri ini, telah banyak merusak hutan, banyak pohon-pohon yang telah habis dibabat, hanya sebagian wilayah yang masih segar, di sekitar wilayah jembatan fenomenal, Barelang, dan tempat rekreasi di pinggir laut, masih segar dan asri. Meskipun sudah mulai tampak berbagai kompleks perumahan yang mulai berdiri dengan gagah.

Setelah istirahat sejenak, Imah merasa badannya sudah lebih baik. Ia beranjak dari ranjang dan menyusul Pri ke teras, sambil meraih khimar biru dongker yang tergantung di belakang pintu kamar.

“Bapak saja yang ke sekolah, ya, Ibu istirahat dulu,” ucap Pri seolah mengerti apa yang akan disampaikan Imah.

“Bapak mau bilang apa?” tanya Imah menggantung.

“Ya, bilang saja apa adanya, semoga ada keringanan dari pihak sekolah, sambil bapak mencari pekerjaan. Ibu tidak usah khawatir, doakan saja semoga ada jalan terbaik untuk keluarga kita.” Tambah Pri sambil menyeruput teh hangat tanpa gula yang dibuatkan putri sulungnya.

**
Matahari pagi baru naik, Pri melajukan motornya menuju sekolah. Meskipun sebelumnya sudah menelepon kepala sekolah terkait tunggakaan sekolah, namun Pri harus tetap menghadap untuk mengisi formulir atas keterlambatan pembayaran SPP yang sudah 6 bulan tidak dibayar.

Pihak sekolah pun tak bertanya banyak. Yang penting Pri komitmen, dan jika ada kendala, mereka pun diminta untuk bicara langsung. Meskipun sebenarnya pihak pemilik yayasan tidak memberikan kelonggaran yang berlarut-larut, namun pihak guru dan kepala sekolahlah yang memberikan jaminan. Sebab, anak-anak Pri dan Imah merupakan anak yang berprestasi dan juga berakhlak baik.

Urusan sekolah selesai, mumpung masih ada waktu, Pri berniat untuk kembali berkeliling, siapa tahu ada lowongan pekerjaan untuk dirinya. Tujuannya adalah Kawasan Bintang Industri yang tidak begitu jauh dari rumahnya.

“Meskipun harapannya tipis, tidak ada salahnya mencoba,” Batin Pri.

Pri berbaur dengan ratusan para pencari kerja yang tampak hilir mudik di kawasan tersebut. Berharap ada tulisan lowongan pekerjaan, namun semua nihil. Tidak ada lowongan, tulisan tersebut terpampang jelas di depan kantor security tiap perusahaan. Lelah, akhirnya Pri berbalik arah. Tujuannya hanya satu pulang.

Sayup-sayup azan salat zuhur berkumandang dari Masjid Agung Sultan Mahmud Riayadh Syah, Pri membelokkan motornya dan menuju parkiran yang berada di lantai bawah tanah masjid. Laki-laki itu mengeluarkan ponsel miliknya.

“Bapak salat di Masjid Agung ya, Bu, selesai salat, Bapak baru pulang.” Suara di ujung telepon mengiyakan ucapan Pri.

Jarak rumahnya dengan masjid tidaklah begitu jauh, hanya butuh waktu 10 menit. Maka Imah tidak perlu khawatir bila Pri belum pulang.

**
“Apa Ibu jadi TKW aja, ya Pak?” Suara Imah pelan tapi pasti, “setidaknya sampai seluruh tunggakan kita lunas.” Tambah Imah sambil membereskan piring bekas makan.

Pri bergeming, tidak tahu apa yang harus ia katakan saat ini. Ia buntu. Selama ini, Imah sudah berjualan kecil-kecilan, yang dititip ke warung-warung. Tapi, tentu tidak cukup untuk menghidupi 8 anak manusia yang ada di rumah. Meskipun anaknya yang kembar sudah ikut membantu, tetap saja, pengeluaran lebih besar ketimbang untung yang mereka dapatkan.

“Kalau Ibu pergi, anak-anak bagaimana? Apalagi dua anak kita yang masih kecil-kecil,” ucap Pri diplomatis.

“Sebentar saja Pak, dua tahun bukan waktu yang lama,” ucap Imah berargumen.

“Kita lihat nanti saja.” Bunyi handphone milik Pri menuntunnya untuk menyelesaikan pembicaraan dan beranjak meninggalkan Imah.

Imah lanjut berbenah. Menata dapur yang sebenarnya telah rapi, sambil bermain dengan pikirannya sendiri.
Berbagai pikiran dan harapan untuk hidup yang lebih baik terus berkelana. Ia tidak menginginkan sesuatu yang muluk-muluk, hanya ingin dibebaskan dari utang, utang riba yang terus berbunga, jangankan membayar bunganya, utang pokoknya saja tak sanggup ia bayar.

Utang riba yang sedari awal Imah tidak tahu itu kalau itu merupakan sebuah dosa besar. “Betapa bodohnya aku,” Batin Imah bersenandung.

Bersambung …

Dibaca

Loading

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terbaru

Konsultasi