Cincin Terakhir

Oleh. Indah Permatahati

Yus mematung, ia pandangi toko di hadapannya. Selangkah saja ia berjarak dengan pintu masuk toko itu. Bimbang, maju atau tidak, pikirnya melayang ke rumah, ia ingat anak-anak dan istrinya belum makan. Beras habis hingga butir terakhir, minyak goreng tak bersisa, sudah beberapa hari ini dapur keluarganya tak mengepul. Keempat anaknya pun harus bersabar menahan lapar. Dalam genggamannya tersisa satu-satunya barang berharga. Sebagai seorang lelaki, hatinya menangis melihat kesedihan dalam rumah tangganya. Hari ini, dikuatkan langkah kakiknya menuju sebuah toko perhiasan. Toko yang bertahun lalu didatanginya bersama istri tercinta.

“Ini barang berharga simpananku, tolong dijual di Toko Bulan yang ada di Pasar,” kata Yasna sembari menyerahkan sebuah cincin beserta suratnya. Yus tahu, istrinya menyerahkan cincin itu dengan hati yang bercampur dengan kesedihan. Cincin itu dibeli dari hasil mengumpulkan sedikit demi sedikit keuntungan berjulan kue. Sesekali juga ditambah dari honor tulisan-tulisan istrinya yang dimuat di media cetak.

Yus menerima cincin itu dalam genggaman. Hatinya meronta, akankah ia turuti permintaan istrinya untuk menjual cincin itu, ataukah ia urungkan saja niat itu, ia bimbang.

“Aku terima cincin ini, tapi izinkan aku meminjamnya. Nanti, jika gajiku keluar, kuganti,” janji Yus pada Yasna. Istrinya itu hanya mengangguk. Dipandanginya wajah anak-anaknya yang masih dalam lelap. Wajah-wajah tak berdosa yang sudah beberapa hari ini makan seadanya, sekadar untuk menegakkan tulang punggung mereka. Saat lapar sudah tak tertahankan, ia rayu anak-anaknya untuk segera tidur. Agar lapar mereka tak terasa. Kadang, anak-anaknya juga tak ingin memejamkan mata. Yasna lalu menyuruh mereka bermain atau membaca buku kesukaan mereka. Anak yang paling kecil biasanya tak tahan dengan kekosongan perutnya.
“Ibu, aku lapar, ada makanan?” tanya balita itu.
“Makanan kita sudah habis, Nak, sabar dulu ya, insyaallah sebentar lagi Ayah datang membawa makanan,” Hibur Yasna pada putranya itu.
“Ibu bacakan buku ya, sambil menunggu Ayah datang,” Bujuk Yasna lagi. Balita itu pun segera mengambil buku kisah nabi, buku kesukaannya.

Seringkali anak-anaknya pun terlelap dalam kosongnya perut. Sementara Yasna memutar otak untuk tetap menyajikan sesuatu untuk dihidangkan. Kadang ia membuat aneka olahan makanan dari tepung, sisa jualan kuenya yang masih terhenti. Jualan kue basah yang sudah dirintisnya juga harus gulung tikar karena modalnya termakan kebutuhan sehari-hari. Aneka tepung dan bahan lainnya ia olah untuk makanan anak-anaknya. Meski hanya sementara mengganjal perut mereka, tapi senyum anak-anaknya menjadi penyemangat untuk Yasna.
“Ibu, besok sekolah akan mengadakan kegiatan Al-Qur’an camp, Ibu buatkan aku bekal, ya,” pinta Zia putri pertamanya sepulang sekolah.
“Baik Nak, Ibu akan buatkan bekal untuk Zia, semangat ya untuk besok,” jawab Yasna kepada putrinya.
“Bu, emm tapi kalau tidak hanya bekal makanan apakah bisa?” Kali ini Zia berkata-kata tanpa memandang wajah ibunya, ia berbicara dengan nada sedikit takut.
“Maksunya bagaimana, Nak?” tanya Yasna.
“Kalau juga ada uang saku apa bisa, Bu?” kali ini Zia mencoba berterus terang.

Yasna tak bisa segera menjawab, ia khawatir tak bisa mengabulkan permintaan putri pertamanya itu. Kegiatan yang diceritakan oleh putrinya itu memang kegiatan bergengsi di sekolah. Biasanya siswa yang tersaring untuk mengikutinya adalah siswa pilihan. Kini, saat anaknya termasuk dari siswa pilihan itu, ia tak kuasa untuk mengusik kebahagiaan putrinya.
“Oh iya, Zia butuh uang saku ya? Insyaallah ya, Nak, kita minta sama Allah semoga rezeki Ayah Ibu dimudahkan Allah, Zia bisa bawa uang saku untuk acara,” Yasna menjawab dengan menahan keharuan. Tak dimungkiri, putri pertamanya itu turut merasakan naik turun kondisi keuangan keluarga. Setelah musibah yang menimpa ayahnya, Zia dan adik-adiknya merasakan turunnya kondisi ekonomi keluarga.

Selepas magrib, Fatma putri kedua Yasna bercerita. Ia menceritakan capaian hafalannya di sekolah. Fatma menceritakan bahwa ia dipuji ustazah di sekolah karena menjadi siswa dengan capaian hafalan terbaik dan terbanyak di antara teman satu angkatan.
“Maasyaallah, alhamdulillah, Ibu bangga sama Fatma,” Puji Yasna pada putri keduanya itu.
“Terima kasih, Ibu, nanti malam Ibu temani aku muroja’ah lagi ya, Bu,” pinta Fatma.
“Siap, sayang,” jawab Yasna lagi. Dibaik semua kesedihan yang datang tiba-tiba itu Yasna masih sangat bersyukur atas semua keadaan. Anak-anaknya dalam kondisi sehat dan dekat dengan Al-Qur’an, sebuah kebahagiaan di tengah kesedihan yang ada.

“Ada yang bisa saya bantu, Pak?” tanya seorang satpam pada laki-laki yang sedari tadi berdiri mematung di depan toko emas. Yus tergagap, ia kaget sekali.
“Oh ,iya, Pak, ini saya mau menjual cincin,” jawab Yus.
“Baik, silakan masuk, Pak,” Satpam mempersilakan Yus untuk masuk. Perih hatinya melihat barang berharga istrinya akhirnya harus dijual. Sudah beberapa bulan ini gajinya tidak dikeluarkan oleh kantor tempatnya bekerja. Sepulang dari toko emas, ia berbelanja aneka kebutuhan dapur dan kue untuk anak-anaknya.

Ia memandang langit, melihat betapa hebatnya Allah menciptakan, ia masih optimis. Menciptakan dunia beserta isinya saja mudah bagi-Nya, apalagi sekadar melepaskannya dari jeratan masalah dunia. Yus melangkah pulang dengan penuh harap, membayangkan wajah anak-anaknya bahagia menyambut kedatangannya.

Dibaca

Loading

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terbaru

Konsultasi