Bubur Bang Dul

Serial: Kajian Spesial
Oleh. Afiyah Rasyad
Hai manusia, hormati ibumu
Yang melahirkan dan membesarkanmu
Darah dagingmu dari air susunya
Jiwa ragamu dari kasih-sayangnya
Dialah manusia satu-satunya
Yang menyayangimu tanpa ada batasnya
Doa ibumu dikabulkan Tuhan
Dan kutukannya jadi kenyataan
Ridla Ilahi karena ridlanya
Murka Ilahi karena murkanya
Bila kau sayang pada kekasih
Lebih sayanglah pada ibumu
Bila kau patuh pada rajamu
Lebih patuhlah pada ibumu
Bukannya gunung tempat kau meminta
Bukan lautan tempat kau memuja
Bukan pula dukun tempat kau menghiba
Bukan kuburan tempat memohon doa
Tiada keramat yang ampuh di dunia
Selain dari doa ibumu jua
Lagu Istri Shalihah Bang Haji Rhoma telah berganti keramat. Sementara pandangan Bang Dul masih bercengkrama dengan gerak gerik sulungnya, rasa syukur selalu memecah tangisnya. Linangan air mata tanpa disadari telah menemani pipinya. Tangannya yang sibuk menyusun perkakas sesekali menghapus genangan air mata.
“Assalamu’alaykum, Bang! Bubur masih ada, kan?” suara mas Teguh mengembalikan kesadaran Bang Dul sepenuhnya.
“Astaghfirullah, saya lupa tidak membalik sign-nya. Sudah habis, Mas, maaf!” Bang Dul menjelaskan.
“Tolonglah, Bang. Ada ibu datang dari kampung. Mabuk kendaraan, Bang. Beliau pengin makan bubur Bang Dul. Sudah kubilang tunggu besok, maunya sekarang. Pakai bawang goreng aja, Bang!” ujar mas Teguh rinci.
“Mas, lihat sendiri, sudah habis. Itu panci dan teman-temannya sudah nongkrong aje di lincak.” pandangan mas Teguh mengekor tangan Bang Dul.
“Tak buatin, Bi. Butuh berapa, Om?” Muad angkat suara.
“Satu saja, Ad,” sumringah wajah mas Teguh mendengar tawaran Muad, putra Bang Dul yang dikaguminya.
“Baik, Om. Silakan duduk dulu! Mohon maaf jika agak lama,” Muad segera mendidihkan air.
“Kapan ibu datang, Mas?”
“Barusan landing, Bang. Langsung request bubur, biar ndak mual katanya.”
Mas Teguh kemudian larut dengan benda gepeng di tangannya. Sementara Muad sudah mulai memasak beras yang baru dibersihkan. Air panas yang telah meletup-letup memvuat utup panci berakrobat naik turun. Air panas mendidih itu dituang sedikit demi sedikit pada beras yang mulai memanas. Tangannya asik dengan sutil mengaduk bubur spesial.
Tak sampai sepuluh menit bubur sudah matang. Bang Dul sendiri setengah tak percaya melihat pemandangan itu. Muad menuang pada kotak dan memberi topping.
“Cepat sekali, Ad.”
“Alhamdulillah, diajari ummi, Om,”
“Beruntungnya, Bang Dul, anak sulung sudah bisa diandalkan. Thank you, lho Ad!” mas Teguh memberikan selembar uang biru.
“Makasih, Mas! Sebentar kembaliannya,” bang Dul hendak menyerahkan susuk pada pelanggan setianya.
“Sudah, Bang. Muad udah baik banget mau masakin bubur buat ibu. Itu tak seberapa dibanding kebahagiaan ibu, Bang. Assalamu’alaykum!”
Di luar rintik hujan mulai menyapa bumi, harum tanah menyelinap masuk ke rongga penciuman Bang Dul dan Muad. Seketika itu, Muad langsung beberes bekas eksekusi buburnya.
“Ntar lagi, minum Mas!” Bang Dul membuatkan jeruk anget kesukaan Muad.
“Iya, Bi. Ingat dek Musa, minum jeruk anget buatan Abi,” senyum Muad terkembang.
Bacaan basmalah dilafadz pelan, lalu segelas jeruk anget itu tandas.
“Jazakallah khoyr, Bi. Abi tahu aja Muad haus,” Muad cengengesan sambil melap bibirnya.
“Alhamdulillah kalau kau suka, Mas,” Bang Dul senang.
“Kapan kamu balik? Biar abi dan ummi siapkan biayanya.”
“InsyaAllah setelah winter, Bi. Tapi afwa, Bi. Bukannya Muad gak mau uang dari abi, mau banget. Tapi tolong kali ini Muad membeli tiket dengan uang Muad sendiri.”
“Dapat dari mana uang?”
Sepenuhnya Bang Dul percaya Muad dapat uang halal. Namun, dia harus memastikan kembali.
“Alhamdulillah, Bi. Muad sering jadi native kalau di sana kalau ada tamu KBRI.”
“Oya?”
“Iya, Bi. Apa ummi ndak cerita kalau Muad jadi guide? Muad malu mau bilang Abi.”
“Lupa paling ummi, Mas. Ndak masalah Abi ndak tahu, yang penting ummi ridlo, kau akan selamat, Mas. Berbaktilah pada ummi, Mas. Kasih tahu adik-adikmu.”
“InsyaAllah, Bi! Selain itu, Muad siaran juga, Bi! Alhamdulillah.”
“Siaran apa, Mas?” Bang Dul antusias.
“Kajian streaming, Bi. Bareng beberapa Ustadz tanah air. Jamaahnya banyak ibu-ibu, lho Bi. Sebagian kecil mahasiswa S-1. Sekitar 100-an jamaahnya. Ini Muad jadwalnya nanti jam 12 malam jadwal, Bi.”
“MasyaAllah, barokallahu, Mas. Kau makin berkibar saja, Abi di sini ndak diajak,” seloroh Bang Dul.
“Ah, Abi. Muad lho belajar dari Abi. Abi itu humble, simple, wise. Abi the best lah. Like father like son, kan?”
“Mas Muad bisa aja, muji-muji. Abi juga perlu belajar dong! Biar gak kayak katak dalam tempurung.”
“Idih, Abi nyindir yang mana nih? Antikritik, eksklusif atau yang mana?”
“MasyaAllah, kau pun bisa menebak pikiranku, Mas!”
“Hehe sekarang kan musim persekusi kalau kalah narasi dan musim intimidasi kalau kalah argumentasi, betul kan, Bi?”
“Betul betul betul. MasyaAllah semakin tajam analisamu, Mas.”
“Alhamdulillah, aku banyak belajar di Kajian Spesial InSpa. Para Ustadz tanah air berhasil memukau pemikiran para jamaah juga, Bi. Ideologis banget. Gak rugi aku siaran, Bi.”
“Alhamdulillah, kau persis ummimu, Mas. Cocok lah!”
“Ah, jauh, Bi. Ummi mah auto keren. Ikut kajian Ustadz yang super keren juga, sih. Katanya mau ada kajian menulis sama UFK kata ummi.”
“Iya, Mas. Kau menulislah juga. Kajian Spesialmu bisa kau tuang reviewnya, Mas.”
“Asik banget ngobrolnya, tak tunggu kok gak masuk-masuk. Eh ngomongin aku di sini,” Ayuna datang membawa dua toples kripik kesukaan jagoannya.
Keakraban keluarga Bang Dul begitu kental di antara anak-anaknya. Ujian dan cobaan sesekali menerpa, namun ketaat pada Allah mereka berdamai dengan qodlo itu. Bukan tanpa prahara, namun sebisa mungkin mereka taqorrub kepada Allah.
Dibaca

 24 total views,  1 views today

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

Artikel Terbaru

Konsultasi