Bubur Bang Dul

Serial: 1001 Macam
Oleh. Afiyah Rasyad

Seribu satu macam itu bidang pekerjaan
Dari jadi pengamen sampai jadi seorang presiden
Seribu satu macam cara orang mencari makan

Dari menjual koran sampai menjual kehormatan
Ada cara yang halal
Ada cara yang haram

Silakan mau pilih cara mana
Namun semua cara
Ada tanggung jawabnya
Di hadapan Tuhan dan manusia

Kepala Bang Dul manggut-manggut sambil asik mengiris seledri dan telor rebus. Gerakan cepat mata pisau seolah tak menempel pada seledri, namun begitu tangan Bang Dul melepas pegangannya, seledri dan telor tercincang beraturan, tak berdaya.

Sebelum lagu Bang Haji Rhoma mengudara di warung asri itu, Bang Dul dan istrinya telah asyik memasak bubur selepas qiyamul lail ditemani murottal. Kolaborasi yang apik antara Bang Dul dan Ayuna menciptakan bubur lezat penuh romantisme. Mereka ahli dalam koreo cooking, empat panci bubur sudah siap dituang dalam waktu kurang dari dua jam saja.

Seharusnya Bang Dul tutup warung. Namun, ada kebutuhan mendesak yang membuat Bang Dul dan Ayuna menerima orderan. Lumayan jumlahnya, 500 bowl.
“Bang, sudah siap ini buburnya,” Ayuna mulai menata bowl.
“Ok, sayang! Bismillah …” Bang Dul menjawab penuh semangat.

Lagu 1001 macam masih mengudara, Bang Dul dan Ayuna sudah berganti sesi menuang bubur dan memberi topping.
“Bang, kemarin sore mpok Ana ke mari. Katanya mau pinjem duit,”
“Lho, bukannya yang kapan waktu belum ngembalikan duit kita?”
“Iya, Bang. Katanya Syasya butuh seragam,”
“Berapa?”
“Sejuta, Bang!”
“Subhanallah, banyak amat. Seragam sampai segitu?”
“Sekalian buat tambahan belanja katanya, Bang!”
“Yang, bukannya aku nggak ngebolehin buat minjemin sodara. Kita bantu aja, ndak usah dipinjemi semampu kita. Itu lebih longgar ke kita juga. Kalau minjemi, sekali sejuta, pekan depan sejuta lagi, sementara suaminya tak tawari kerja nggak mau.”
“Abang kayak kagak ngerti bang Ucup, dia gengsi mah. Ditawari jual bubur, mana mau Bang. Lha kalau nerima garapan rumah juga milih-milih. Coba abang lihat, pakaiannya aja yang bermerk. Rokoknya juga bermerk!” Ayuna menghela nafas sambil istighfar.
“Lagian, dia demen utang juga, Bang. Ini sama tetangga kita, mpok Siwa juga ada, lima bulan nunggak, sekarang jadi dua kali lipat, dua juta katanya Bang.”
“Astaghfirullah, mpok Siwa jadi rente sekarang? Innalillah. Ini memang lingkaran setan, Yang!” Bang Dul geram.

Di sela kesibukan tangan Bang Dul menabur komplitnya topping bubur, dia asik berdiskusi dengan istri satu-satunya. Bang Dul memberi pandangan, memang kehidupan di zaman kapitalisme ini semua diukur dengan duit. Kebahagiaan bahkan distandarkan pada duit. Baju bermerk, kendaraan mewah, rumah mentereng, makanan berlimpah, jalan-jalan ke mana suka.

Gaya hidup kapitalistik ini yang sudah merasuki jiwa kaum muslim. Ingin menjadi bagian dari sosialita meski dompet menderita tak mengapa, utang jalan keluarnya. Ingin disanjung, dipuji dan dipuja meski harta tak ada tak mengapa, lagi-lagi utang solusinya.
1001 macam pekerjaan yang dijabani kaum muslim. Banyak yang masih bertahan di jalan yang halal. Namun, yang memilih jalan harom tak kalah banyaknya. Menjual harga diri dan kehormatan jadi pilihan dan bukan hal tabu lagi. Bahkan, di panggung kekuasaan hal itu diperankan langsung oleh pemangku jabatan dan para hulubalang.
Lakon koruptor, tukang ngibul, pengkhianat, tukang tipu, penjilat, tukang utang senantiasa dipertontonkan. Wajar jika pemirsa dan penggemarnya ikut-ikutan dengan dalih kebebasan.

Gaya hidup glamor memang sedang ditanamkan pada para pemirsa. Orang bahagia itu mereka yang punya banyak harta. Sukses besar kapitalisme menggerus pemikiran kaum muslim.
“Iya, Bang. Padahal Islam aturannya sudah komplit. Kagak pernah Islam menghalangi kita punya harta banyak. Cuma caranya harus halal, bukan dzat hartanya saja yang halal. Aku sudah sering undang tetangga di Majelis Ta’lim Mazaya, Bang. Tapi, ah … bener kata Abang. Semua lingkaran setan, sistemik.”
“Iya, ini semua bisa dilenyapkan, jika sistem kapitalisme diganti dengan Islam.”
“Nah, menjadi tugas kita semua yang sadar untuk menyadarkan saudara kita pada aqidah Islam yang lurus,” jari Bang Dul asik berdansa dengan tutup bowl.

Ayuna dengan cekatan menyusun di kardus-kardus tebal bekas minyak goreng. Meski lelah telah menyapanya, dia tetap semangat menyelesaikan pesanan bubur ayam spesial itu. Rasa syukur selalu membuncah di dada. Allah mencukupi bahkan melebihkan keperluannya saat ini.

Bagi Bang Dul dan Ayuna, setiap aktivitas terikat dengan syariat Islam. Maka kerepotan menjual bubur dinikmati betul oleh sepasang suami istri yang super ramah dan lincah itu.
Kebahagiaan bagi mereka adalah meraih ridlo Allah semata. Karena Allah usaha mereka bermula, kepada Allah segala bermuara. Mereka menyadari hubungannya dengan Allah.
Dibaca

 33 total views,  1 views today

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

Artikel Terbaru

Konsultasi