Bab 5 Harta, Tahta, Wanita

Oleh. Yilweri Vovi Safitria

“Laki-laki diuji ketika dia kaya, sedangkan perempuan diuji ketika tidak punya apa-apa.” Teteh berucap sambil memandang wajah Imah. Entah kutipan milik siapa, namun kutipan itu sangat familiar di kalangan perempuan. Hal itu tak pelak mengusik Imah.

Entah itu fakta atau sekadar opini yang timbul dari melihat banyak fakta adanya wanita idaman lain atau pun pria idaman lain dalam sebuah ikatan pernikahan.

“Kita tidak bisa mungkiri, bahwa laki-laki akan tertarik kepada lebih dari satu wanita, dan itu hal yang wajar terjadi. Itu fitrah, namun sayang jika ketertarikan ataupun rasa suka tidak diatur oleh syariat,” ucap perempuan yang disapa Teteh tersebut.

Dalam hati, Imah tidak menampik ataupun membenarkan seratus persen. Namun, kejadian demi kejadian yang Imah alami, seolah membenarkan apa yang disampaikan Teteh, perempuan yang usianya jauh lebih muda dari Imah.

Imah teringat masa-masa baru menikah dengan Pri, masa-masa sulit yang terus berlanjut hingga mereka memiliki lima orang anak. Pri seorang suami sekaligus ayah yang sempurna menurut Imah.

Waktunya hanya untuk bekerja, dan pulang ke rumah untuk bercengkerama. Tidak ada agenda di luar rumah melainkan bersama keluarga.

Namun, sejak Pri naik jabatan di perusahaan elektronik milik Amerika, perlahan Pri mulai berubah. Pri berdalih, banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan. Imah percaya begitu saja, tanpa sedikit pun curiga.

Mungkin ada benarnya pepatah bilang, bahwa harta, tahta, dan wanita adalah satu paket yang tidak bisa dipisahkan dari seorang pria.

**
“Dan merupakan ujian terberat laki-laki adalah ketika berhadapan dengan wanita.” Suara Ustaz Dahlan terdengar lantang dalam kajian sore yang diikuti Imah.

Pembahasan tentang fitnah dunia yaitu wanita seolah tepat dengan masalah yang dihadapi Imah. Tapi, mungkinkah Pri tergoda dengan wanita lain? Pertanyaan itu hanya tersimpan rapat di benak Imah.

“Mungkin di antara kita ada yang tahu bagaimana perjuangan Rasulullah dalam menyampaikan Islam di tengah-tengah kaum kafir. Bahkan salah seorang di antara mereka berjanji memberikan harta, kedudukan, dan juga wanita agar Rasulullah menghentikan dakwahnya. Rasulullah menjawab, andai saja matahari di tangan kiriku, dan bulan di tangan kananku, maka tidak akan pernah aku berhenti, sampai Allah yang menghentikannya.”

“Dan sekarang ini, tidak sedikit pula laki-laki yang rela melakukan apa saja guna memenuhi kecintaannya kepada wanita. Jadi, hendaklah berhati-hati terhadap fitnah atau ujian wanita.”

Suara Ustaz Dahlan terdengar ke seantero masjid hingga pelataran parkir. Seluruh jemaah yang terdiri dari ibu-ibu dan bapak-bapak tersebut hening seketika. Sibuk dengan pikiran masing-masing.

Imah berusaha keras mengusir bisikan-bisikan halus yang timbul di dalam hatinya. Ia berusaha meyakinkan dirinya, bahwa suaminya, Pri, tidak mungkin bertingkah di luar batas apalagi menyalahi norma agama.

Nun jauh di pojok masjid yang sedikit terlindungi dari pandangan khalayak, seorang laki-laki berseragam biru, lengkap dengan name tagnya, tertunduk mendengar ceramah Ustaz Dahlan. Tidak seorang pun yang menyadari kehadiran Pri di sana. Kajian fikih keluarga sore ini terasa menghujam ke jantungnya.

Pri tak sengaja datang untuk menunaikan salat Asar. Entah kenapa, ia ingin pulang lebih awal dari hari biasanya, padahal ada jadwal Pri lembur hari ini, tapi ia menolak. Tidak seperti biasanya yang lebih suka menghabiskan waktu di luar rumah, dan pulang larut malam, meski bukan jam lembur kerja. Mendadak tenggorakannya mengering. Hawa panas menyeruak masuk ke pori-porinya. Pri merasa malu pada dirinya sendiri, malu pada tingkah lakunya belakangan ini.

Pri memilih diam di pojokan, menunggu jemaah pengajian membubarkan diri. Laki-laki itu malu jika istrinya mengetahui kehadirannya di sini. Perasaan gengsi Pri terhadap Imah tidak pernah bisa hilang. Padahal, mereka sudah lama menikah, entah kenapa, begitu tingginya baqa seorang laki-laki bernama Pri.

Pri tidak menyadari, jika sedari tadi ada sepasang mata sedang memperhatikannya. Meskipun Pri terhalang hijab, namun tidak menghalangi pandangan perempuan tersebut untuk mengawasi gerak-gerik Pri.

Perempuan itu beranjak ke luar masjid setelah satu per satu jemaah yang banyak dihadiri kaum ibu-ibu meninggalkan ruangan ber-ac tersebut.

**
“Bapak nggak lembur hari ini?” tanya Imah berbasi-basi sambil mengambil tas kerja dari tangan sang suami. Seulas senyum menghiasi bibirnya yang belakangan jarang hadir.

Pri hanya menggelengkan kepalanya lesu. Ia melepaskan begitu saja tas kerjanya. Pri seolah tidak punya semangat, ia merasa tubuhnya sangat lelah dan juga letih, usai mendengar pengajian tadi. Perasaan resah, juga gelisah menghantui dirinya. Namun, Pri enggan untuk menceritakan semua yang mengganjal batinnya kepada sang istri.

Pri beranjak ke kamar, sedangkan Imah menyiapkan makan dan minum untuk Pri. Namun, laki-laki itu menolak dengan halus. Entah kenapa, rasa laparnya pun mendadak hilang. Seperti ada pergolakan batin sedang terjadi pada dirinya.

Imah berlalu, memilih menyibukkan diri dengan buku-buka Islam yang sudah lama tidak disentuhnya, sambil menunggu azan magrib berkumandang.

Dulu, Pri begitu senang membelikan ia buku. “Bapak beli buku baru untuk Ibu. Tadi Bapak baca sekilas, isinya bagus, dan cocok untuk Ibu. Anggap saja Ibu healing,” kata Pri sambil terkekeh. Imah ikut tertawa mendengar kelakar suaminya.

**
Malam ini, terasa spesial bagi Imah dan keenam anaknya. Tidak seperti hari-hari biasanya yang seolah ada sekat yang memisahkan mereka. Malam ini, mereka berkumpul bersama, makan, dan salat berjemaah. Masa yang sudah lama hilang dari rumah mereka.

Wajah ceria dan bahagia terpancar dari wajah anak-anak mereka, tidak terkecuali Imah. Masa-masa yang sangat mereka rindukan, akhirnya kembali hadir juga. Semoga ini bukan untuk sementara, dan bukan pula untuk yang terakhir. Imah membatin.

Bersambung ..

Dibaca

 67 total views,  1 views today

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terbaru

Konsultasi