ULAMA NUSANTARA DAN BAHASA ARAB YANG HILANG

H. M Ali Moeslim

Bismillahirrahmanirriim

BERBICARA ulama tentu berbicara tentang kemajuan atau masa ke-emasan umat islam. Umat islam pernah mengalami masa itu, masa di mana umat islam maju dalam segala bidang, masa di mana kaum ulama melahirkan temuan-temuan yang bermanfaat bagi dunia, tidak hanya dirasakan dan dinikmati oleh umat islam, namun manusia seluruhnya.

Masa ke-emasan umat islam paling tidak berlangsung selama 13 abad, sejak berdirinya negara Islam Madinah yang pemimpinnya adalah Nabi Muhammad saw, kemudian kepemimpinan umat itu di lanjutkan oleh para khalifah, pertama di kalangan khalifah ar Rasyidin, kemudian dilanjutkan oleh para khalifah dari keturunan Umayyah, lalu para khalifah keturunan Abbasiyyah dan terakhir para khalifah keturunan Utsmaniyyah.

Masa ke-emasan itu mulai mengalami kemunduran dan puncak kemunduran itu sejak awal abad ke 20 Masehi.

Para ulama masa itu banyak sekali karena kondisi dan situasi serta akses terhadap pusat-pusat pendidikan dan penelitian terbuka lebar, semua orang asal mau bisa untuk menjadi ilmuwan. Sekat-sekat atau batas-batas negara atau nasional state di kalangan umat islam tidak ada, wilayah-wilayah itu semua melebur menjadi satu sebagai warga daulah khilafah, mereka dimotivasi bahkan diwajibkan untuk memahami ajaran Islam, guru-guru dikirim ke penjuru-penjuru daerah termasuk ke wilayah nusantara ini yang kita kenal dengan para wali songo, perpustakaan- perpustakaan dibangun di mana-mana dan disebarkannya undangan untuk para pelajar agar mau belajar ke pusat pusat pendidikan masa seperti Mekkah, Madinah, Mesir, Persia, istanbul dan lain lain.

Berbicara tentang kemunduran tentu banyak faktor, adapun sebab utamanya adalah saat al Qur’an dan sunnah Nabi diabaikan atau tidak menjadi jalan kehidupan umat islam, faktor eksternal juga ada, tapi yang kita soroti faktor internal, terkhusus lagi saat bahasa Arab “hilang” dari umat islam, inilah faktor penting dari sebab umat islam mengabaikan al Qur’an dan sunnah nabi yang menjadi sebab utama kemunduran.

Khalifah Umar bin khatab pernah berbicara “pelajarilah bahasa Arab, karena bahasa Arab itu bagian dari agama kamu”. Ibn khaldun pernah berkata “karena sumber hukum syariat itu adalah al Qur’an dan as Sunnah yang berbahasa Arab, hal hal yang sulit dari al Qur’an dan as Sunnah dijelaskan melalui pendekatan bahasa Arab, maka orang yang ingin mengetahui hukum syariat wajib mengetahui segala ilmu yang berkaitan dengan bahasa arab ini”. Ibn Taimiyah “Syaikhul Islam” pernah berkata “bahasa Arab itu bagian dari agama, mengetahuinya wajib”.

Habits dan bahasa Arab di kalangan umat islam itu “hilang” bersamaan dengan runtuhnya daulah khilafah Islamiyah yang tegak berdiri selama 13 abad.

Lalu mengapa ulama Nusantara, tidak menyebut Indonesia? Karena berbicara Indonesia itu berbicara suatu wilayah yang dimulai sejak proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, sementara bicara Nusantara adalah wilayah yang ada sebelum tahun 1945 meliputi 5 pulau besar yakni Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Papua.

Sejarah mencatat beberapa ulama Nusantara pada masa lalu pernah berkiprah hingga namanya di kenal di timur tengah, bahkan dunia, keilmuan mereka selevel dengan ulama ulama yang ada pada zamannya. Sebagian mereka menghabiskan hidupnya dengan mengajar di sana, dan sebagainya lagi pulang ke Nusantara.

Di antara mereka adalah Syeikh Nawawi Al-Bantani, kerap disebut sebagai “Imam Nawawi Kedua”. Gelar ini diberikan oleh Syeikh Wan Ahmad bin Muhammad Zain Al-Fathani. Lahir pada penghujung abad ke-18 di Banten. Ia memiliki nama lengkap Muhammad Nawawi bin Umar ibnu Arabi bin Ali Al-Jawi Al-Bantani. Setiap kali mengajar di Masjidil Haram, ia selalu dikelilingi sekitar 200-an orang. Pernah diundang ke Universitas Al-Azhar, Mesir, untuk memberi ceramah atau fatwa-fatwa pada beberapa perkara khusus.

Hingga akhir hayatnya, Syekh Nawawi berhasil menulis ratusan judul kitab yang menjadi rujukan ulama-ulama di Jazirah Arab dan Asia Tenggara. Di Indonesia, karya-karya itu menjadi kurikulum wajib di pesantren dan madrasah. Ambil misal al-Tafsir al-Munir li al-Mualim al-Tanzil al-Mufassiran wujuh mahasin al-Ta’wil musamma Murah Labid li Kasyafi Ma’nâ Qur’an Majid, Kâsyifah al-Saja syarah Safinah al-Naja, Sullam al-Munâjah, Nihayah al-Zain, atau Nashaih al-‘Ibad.

Berikutnya kita mengenal Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, Lahir di Koto Tuo – Balai Gurah, IV Angkek, Agam, Sumatera Barat pada 1860 dan wafat di Mekkah 1916. Syekh Khatib bernama lengkap al Allamah asy Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah bin Abdul Lathif bin Abdurrahman.

Syekh Khatib dikenal jenius dan rendah hati. Ia tercatat sebagai orang non-Arab pertama yang dipercaya menjadi imam besar di Masjidil Haram, Mekah. Di tangan Syekh Khatib lahir ratusan karya. Beberapa judul yang sering dijadikan rujukan oleh ulama dunia ialah Hasyiyah an Nafahat ala Syarhil Waraqat lil Mahalli Al Jawahirun Naqiyyah fil Amalil Jaibiyyah, ad Da’il Masmu ala Man Yuwarritsul Ikhwah wa Auladil Akhwan Maa Wujudil Ushul wal Furu, serta Raudhatul Hussab.

Berikutnya ada Syekh Muhammad Yasin al-Fadani, Ulama berdarah Padang, Sumatera Barat ini dilahirkan 17 Juni 1915 dan wafat di Mekkah pada 20 Juli 1990. Syekh Yasin mengawali pendidikan agama dari Syekh Muhammad Isa al-Fadani. Soal karya, Syekh Yasin berhasil menulis 97 kitab. Yang paling dikenal berjudul Al-Fawaid al-Janiyyah. Buku ini menjadi materi silabus dalam mata kuliah ushul fiqih di Fakultas Syariah Al-Azhar Kairo, Mesir.

Oleh karena itu, agar lahir kembali ulama ulama yang selevel dengan ulama ulama Timur tengah serta mendunia, faktor penyebab kemunduran ulama dan cendekia mesti segera dihilangkan, kesatuan umat di bawah kepemimpinan seorang khalifah dan pasti memberikan motivasi dan membuka lebar lebar akses pendidikan bagi masyarakat, serta menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa agama dan kemajuan menjadi bahasa utama dan komunikasi.

Wallahu a’lam bishawab

Dibaca

 39 total views,  1 views today

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

Artikel Terbaru

Konsultasi