Tradisi Khitbah di Pulau Madura

Oleh. Thohiroh Ranum
(Praktisi Remaja)

Menghidupkan kebiasaan baik memang harus dipaksakan, tanpa dipaksa kita bisa dikatakan tidak berusaha. Sejatinya, manusia hanya ingin hidup sesuai harapan, tetapi kenyataan itu keputusan yang sebenarnya. Baru-baru ini viral tradisi khitbah di Madura.

Madura adalah wilayah yang dikelilingi oleh laut, maka tak heran juga disebut pulau garam. Madura juga dikelilingi adat istiadat termasuk khitbah ala orang Madura. Dalam video berdurasi 45 detik tampak seorang bocah perempuan bergamis dan berkerudung hijau sedang berjalan menghampiri seluruh keluarganya untuk bersalaman (viva.co.id, 21/04/2024).

Saya tidak menelusuri satu persatu orang yang melakukan tunangan. Namun, saya mengalami tunangan dini dan beberapa orang di sekitar juga melakukan tunangan dini. Terkadang belum lahir ke dunia sudah dijodohkan.

Hal tersebut sudah lumrah terjadi di Madura, tunangan dini banyak terjadi, khususnya yang paling sering itu di pelosok desa di wilayah Madura. Tetapi hal tersebut kembali kepada keputusan kedua orang tuanya. Banyak yang perlu dipikirkan dari konsekuensi tunangan dini, maka nanti orang tua lebih berhati-hati. Karena jodoh tidak akan ke mana, jodoh tidak akan tertukar.

Seorang anak hanya patuh kepada kedua orang tua, urusan keputusan itu terserah kedua orang tua, itu juga yang saya rasakan dalam keluarga besar. Bersyukurnya karena orang tua saya masih memikirkan ilmu dalam rumah tangga, kebutuhan anak yang masih panjang, dan dilihat juga pasangan yang harus disandingkan.

Tradisi khitbah dini di Madura tidak menjadi masalah. Hal tersebut sudah biasa dilakukan. Terkadang malah yang menikah di umur dewasa itu dianggap perawan tua, meski sebenarnya jodoh bukan kehendak manusia, manusia cukup berusaha saja.

Berumah tangga butuh sekali ilmu agama. Dalam rumah tangga, banyak lika-liku cobaan. Sementara angka perceraian juga banyak di Madura, itu karena permasalahan kecil menjadi besar, dikarenakan yang menikah hanya modal nekat, tidak ada bekal membina rumah tangga.

Kita bisa berkaca dengan zaman dahulu, masa orang tua kita meski beda zaman dengan saat ini. Kalau dahulu tunangan dini maupun menikah dini itu benar-benar murni patuh kepada kedua orang tua. Kalau sekarang terkadang nafsunya saja lebih besar dan dikedepankan. Sehingga, pernikahan tidak berujung keberkahan.

Beginilah hidup di dalam kapitalisme, makin banyak keterpurukan berpikir di tengah-tengah masyarakat, makin jauh dari hukum syarak. Penyelesaian masalah juga sudah tidak cocok dengan Islam, semuanya serba susah, serba bingung harus ke mana meminta bantuan saat masalah belum terselesaikan. Hingga masyarakat terkadang memutuskan dengan seenaknya saja. Tunangan dini yang kadang bisa menyatukan persaudaraan, terkadang akan membawa kehancuran dalam keluarga besarnya.

Padahal Islam memiliki tuntunan yang jelas tentang pernikahan. Sangat miris saat kita hidup tanpa Islam kaffah, tidak ada solusi yang konkret atas segala problem kecuali dengan adanya Khilafah. Waktunya kita lantang menyuarakan kebutuhan umat yang sebenarnya, permasalahannya harus dituntaskan sampai ke akar-akarnya.

Dibaca

Loading

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terbaru

Konsultasi