Khilafah Di Mata Fuqaha’ Jawiyyin

Ketika Sayyidina Muhammad saw. diutus Allah menjadi nabi dan rasul, beliau tidak hanya dituntut untuk menyampaikan wahyu sebagaimana yang diamarkan dalam QS al-Hijr ayat 94 (yang artinya): Sampaikanlah secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang musyrik (fa’shda’ bi-mâ tu’mar wa a’ridh ‘an al-musyrikîn).

Rasulullah saw. juga diperintahkan Allah untuk menerapkan wahyu dan hukum-Nya kepada umat manusia dengan turunnya QS al-Maidah ayat 48 (yang artinya): Putuskanlah perkara mereka menurut apa yang diturunkan Allah (fa-hkum baynahum bi-mâ anzala Allâh).

Aktivitas-aktivitas Rasulullah saw. dalam mengatur urusan umat sangat kentara setelah beliau mendapat kekuasaan di Madinah. Pengaturan yang beliau terapkan kepada umat Islam tidak hanya terbatas pada aspek spiritual, namun juga merambat ke seluruh aspek kehidupan; termasuk di antaranya urusan sosial, ekonomi, peradilan, militer, sampai hubungan luar negeri. Seluruh aktivitas demikian merupakan aktivitas Rasulullah Muhammad saw. dalam perannya sebagai kepala negara.

Karena itu tidak aneh, tatkala Rasulullah saw. wafat pada 12 Rabi’ul-Awwal 11 / 8 Juni 632, para Sahabat langsung bermusyawah untuk memilih pengganti (khalîfah) beliau dan mengangkat pemimpin (imâm) kaum Muslim yang baru.  Penerapan Islam pun terus berlanjut. Kepemimpinan kaum Muslim setelah wafatnya Rasulullah saw. mulai dikenal sebagai Imamah atau Khilafah. Dakwah dan jihad senantiasa dilakukan para khalifah dan kaum Muslim. Mereka menyebarlah Islam ke seluruh penjuru dunia dengan wilayah-wilayah cakupannya yang menjangkau seluruh Jazirah Arab, Iraq, Syam, Furs (Persia), Mishr (Mesir), Ifriqiyyah (Afrika), Andalus (Iberia), Ma Wara’ an-Nahr (Transoxania), Rum (Romawi), Hind (India), hingga Jawi (Nusantara).

 

Imamah dan Khilafah dalam Pemikiran Fuqaha’ Jawiyyin

Bagaimana kaum Muslim di negeri Jawi pada zaman dulu memandang Imamah dan Khilafah sebagai ajaran Islam? Sudah menjadi hal yang wajar jika para ulama Islam yang lahir di wilayah ini mengetahui makna khilafah. Kata khalifah sebagai orang yang menjalankan lembaga Khilafah telah disebutkan dalam QS al-Baqarah ayat 30. Allah SWT berfirman (yang artinya): Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat, “Sungguh Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.”

Ayat tersebut berserta seluruh isi al-Quran sudah pasti dibaca dan digali maknanya oleh kaum Muslim Negeri Jawi. Pionir mufassirîn negeri ini dari Kesultanan Aceh, Syaikh ‘Abdurra’uf as-Sinkili al-Jawi, menafsirkan surah al-Baqarah ayat 30 tadi dengan kalimat berikut:

ثم جعل في الأرض خليفة تخلفه في تنفيذ أحكامه

Lalu Allah menjadikan di bumi khalifah-Nya yang menggantikan Dia dalam melakukan segala hukum-Nya.

 

Demikian Syaikh ‘Abdurra’uf as-Sinkili al-Jawi menerjemahkan kalimatnya sendiri dalam bahasa Arab ke dalam bahasa Melayu yang ia sebut sebagai “bahasa Pasai”. Tafsir ayat ini beliau tulis dalam kitab Mir’ah ath-Thullâb fî Tashhîl Ma’rifah al-Ahkâm asy-Syar’iyyah li al-Malik al-Wahhâb. Ini adalah kitab fiqh siyâsah yang Syaikh ‘Abdurra’uf tulis dalam perannya sebagai ulama penting Kesultanan Aceh di abad ke-11 Hijriah atau abad ke-17 Masehi.

Lebih dalam lagi, pentingnya Khilafah dalam kehidupan umat juga diutarakan oleh Sayyid Husayn Afandi al-Jasr ath-Thrablusi, ulama asal negeri Syam yang kitabnya masih banyak dipakai di pesantren-pesantren negeri Jawi hingga kini. Salah satu kitabnya yang terkenal di kalangan para santri adalah Al-Hushûn al-Hamîdiyyah lî al-Muhâfazhah ‘alâ al-‘Aqâ’id al-Islâmiyyah. Kitab ini Sayyid Husayn tujukan untuk menguatkan kembali akidah Islam yang saat itu sudah banyak kaum Muslim yang terpapar pemikiran Barat. Selain itu, kitab Al-Hushun al-Hamidiyyah juga Sayyid Husayn tujukan untuk menguatkan Khilafah-nya Sultan Abdulhamid II dari Bani ‘Utsmaniyah. Demi itu semua, ia membuat satu pasal yang khusus membahas urgensitas Khilafah, dan menulis:

اعلم أنه يجب على المسلمين شرعا نصب إمام يقوم بإقامة الحدود وسد الثغور وتجهيز الجيوش وأخذ الصدقات وقهر المتغلبة والمتلصصة وقطاع الطريق وتزويج الصغار والصغائر الذين لا أولياء لهم وقطع المنازعات الواقعة بين العباد وقبول الشهادات القائمة على الحقوق وإقامة الجمع والاعياد ولا يتمجميع ذالك بين المسلمين إلا بإمام

Ketahuilah, wajib atas kaum Muslim secara syar’i untuk mengangkat Imam (Khalifah) yang akan menegakkan hudud, menutupi kebutuhan orang-orang lemah, mengorganisir pasukan, mengambil zakat; mengalahkan para pemberontak, maling dan tukang begal, menikahkan anak-anak yang tidak memiliki wali, menghentikan perkelahian yang terjadi di kalangan hamba Allah, menerima persaksian orang yang menuntut hak-haknya, mengadakan shalat Jumat dan dua shalat ‘Id. Tidaklah semua hal tersebut dapat sempurna di tengah kaum Muslimin kecuali dengan adanya seorang Imam (Khalifah). [Nicko Pandawa (Sejarahwan)]

Dibaca

 18 total views,  2 views today

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terbaru

Konsultasi