Khilafah Di Mata Fuqaha’ Jawiyyin (2)

Dari kalangan ulama Jawi yang aktif di Hijaz era Khilafah ‘Utsmaniyah ada Syaikh Nawawi al-Bantani al-Jawi. Di antara banyaknya kitab-kitab yang beliau tulis, salah satunya adalah komentar (syarh) beliau atas risalah yang ditulis Syaikh Ibrahim bin Muhammad al-Bajuri al-Azhari, berjudul Syarh Tijân ad-Durarî ‘alâ Risâlah fî ‘Ilmi at-Tauhîd li al-‘Allâmah al-Bajûrî. Di dalamnya Syaikh Nawawi al-Bantani al-Jawi menulis:

الخلافة هي النيابة عن النبي صلى الله عليه وسلم في عموم مصالح المؤمنين فأفضلهم أبو بكر ثم عمر ثم عثمان ثم علي ولهؤلاء الأربعة في مدة الخلافة ثلاثون سنة كما قال صلى الله عليه وسلم الخلافة بعدي ثلاثون ثم تصير ملكا عضوضا أي ذا غض تضييق لان الملوك يضربون بالرعية حتى كانهم يعضون عضا فالمراد انه ذو تضييق ومشقة على الرعية وقال معاوية أنا أول الملوك وخلافته صحيحة بعد موت علي رضي الله عنه وبعد خلع الحسن بن علي نفسه عن الخلافة وتسليمها إلى معاوية

Khilafah adalah pengganti dari Nabi saw. dalam keumuman berbagai kemaslahatan kaum Mukmin. Para Khalifah terbaik adalah Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman dan ‘Ali. (Total masa kekuasaan) mereka berempat terentang selama 30 tahun. Rasulullah saw. bersabda, “Khilafah setelahku adalah 30 (tiga puluh) tahun, kemudian menjadi Mulkan ‘Adhudhan,” yakni menggigit dan menyulitkan karena para penguasa itu memukul rakyat hingga seakan mereka benar-benar menggigit; maksudnya ialah mempersempit dan memberikan kesulitan pada rakyat. Muawiyah berkata, “Saya adalah raja pertama.” (Walau demikian) Khilafahnya tetap sahih setelah wafatnya Ali ra. dan setelah al-Hasan ibn Ali mengundurkan diri dari Khilafah dan menyerahkannya kepada Muawiyah.”

 

Dalam penggalan kalimatnya ini, Syaikh Nawawi al-Bantani al-Jawi menjelaskan bahwa peran para Khalifah Rasyidah (Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali) adalah “wakil dari Nabi saw. dalam membawa kemaslahatan untuk orang-orang yang beriman” yang berjalan selama 30 tahun. Bahkan Syaikh Nawawi juga memaparkan bahwa Khilafah setelah masa Khulafa’ Rasyidun yang dipimpin Muawiyah bin Abi Sufyan dan anak keturunannya tetap sah akadnya sebagai khalifah (wa khilâfatuhu shahîhah).

Syaikh Nawawi al-Bantani al-Jawi merupakan ulama kelahiran Banten yang hidup belajar dan mengajar di Hijaz (Makkah-Madinah). Saat beliau hidup pada abad ke-19, Hijaz merupakan bagian dari Khilafah ‘Utsmaniyah yang beribukota di Istanbul. Para ulama yang belajar dan mengajar di Hijaz saat itu banyak dibantu oleh Khilafah ‘Utsmaniyah melalui para Syarif Makkah dari Sadah Musawiyyah Hasaniyyah, yang merupakan gubernur Hijaz. Karena itulah Syaikh Nawawi al-Bantani mengenal baik tata pemerintahan Khilafah ‘Utsmaniyah berikut struktur organisasinya. Salah satu jabatan ‘Utsmaniyah yang khas seperti “Pasya” telah Syaikh Nawawi sebutkan dalam karangannya, Maraqi’ al-‘Ubûdiyyah Syarh Bidâyah al-Hidâyah:

(عماله) اي السلطان وهو جمع عامل وهو من يتولى على البلاد كالباشا والقائم مقامه

(‘Ummal-nya) yakni Sultan, ia adalah kata plural dari ‘Amil, yaitu orang yang memerintah atas sebuah negeri seperti Pasya dan yang menempati kedudukannya.

 

Sikap Ulama Jawiyyin Terhadap Khilafah yang Eksis pada Masanya (‘Utsmaniyyah)

Selain Syaikh Nawawi al-Bantani, para ulama Jawi lain yang bermukim di Hijaz juga mempunyai pandangan positif terhadap kekuasaan ‘Utsmaniyah, Daulah Khilafah yang berkuasa ketika mereka tinggal di Tanah Suci. Hal ini tersirat dalam sebuah surat yang ditandatangani sepuluh orang masyaiykh di Hijaz yang mayoritasnya berbangsa Jawi kepada Khalifah ‘Abdul Majid I pada tahun 1850 Masehi. Mereka adalah:

  1. Syaikh Muhammad Shalih as-Samman al-Jawi
  2. Syaikh Muhammad ‘Id bin Sa’id al-Falimbani (asal Palembang, Sumatra Selatan)
  3. Syaikh Muhammad bin ‘Abdullah az-Zabidi (asal Zabid, Yaman)
  4. Syaikh ‘Abdullah bin Muhammad az-Zabidi (asal Zabid, Yaman)
  5. Syaikh ‘Abdul Ghani bin Muhammad Zayn al-Bantani (asal Banten, ujung barat Jawa)
  6. Syaikh Muhammad ‘Ali bin ‘Abdullah al-Jawi
  7. Syaikh Ibrahim bin Wuddin al-Khulusi as-Sumbawi (asal Sumbawa, Nusa Tenggara Barat)
  8. Syaikh Isma’il bin ‘Abdullah al-Khalidi al-Minangkabawi (asal Simabur, Minangkabau)
  9. Syaikh Ahmad Khatib bin ‘Abdul Ghaffar as-Sambasi (asal Sambas, Kalimantan Barat)
  10. Syaikh Muhammad Arsyad bin ‘Abdul Fattah al-Buqisi (asal Wajo, Bugis)

 

Ditilik dari nisbahnya, ulama-ulama ini berasal dari berbagai daerah seantero Kepulauan Jawi, di samping dua orang yang berasal dari Yaman. Mereka semua se-iya sekata dalam mengakui kepemimpinan Khilafah ‘Utsmaniyah. Sejak negeri Haramayn diatur kepengurusannya oleh ‘Utsmaniyah dari masa Khalifah Selim I di tahun 1517, sudah berjuta-juta Muslim sedunia yang merasakan manfaat ri’âyah ‘Utsmaniyah, termasuk Muslimin Jawi yang jamaah hajinya senantiasa membludak setiap tahun. Atas alasan inilah, sepuluh ulama yang disebutkan di atas menghaturkan ucapan terimakasih dan doa yang bertubi-tubi kepada Khalifah ‘Utsmaniyah yang berkuasa pada masa mereka, Khalifah ‘Abdul Majid I:

حمدا وشكرا دائمين من صدق ثناء بالأمين نهديها من خالص وداد السرائر وندوم عليها إلى يوم تبلى السرائر جزاء لكم فيما أسد يتموه الينامن رفع المظالم عنا ومنع الجور الذي اتعبو عنا والنظر إلينا بعين العدل والإنصاف والرفق بحجاج بيت الله الحرام من الجاوا الضعاف في دولة مولانا السلطان الأعظم والخاقان الأفخم ذي الرأي السديد والطالع السعيد السلطان بن السلطان مولانا السلطان عبد ا لمجيد بن المرحوم مولانا السلطان محمود السجايا والمكارم مزيل الجور وقامع كل ظالم

Kami selalu mengucapkan pujian dan terima kasih; pujian yang berasal dari kejujuran dengan penuh kepercayaan. Kami menghaturkan dari kecintaan hati yang paling murni. Akan kami langgengkan pujian itu sampai hari diperlihatkan segala rahasia (Hari Kiamat), sebagai balasan bagi Tuan terhadap kekuatan yang tak tampak dari kami, dengan menghilangkan keluhan dari kami dan mencegah ketidakadilan yang telah mereka lakukan untuk kami, serta menatap kami dengan mata keadilan dan belas kasih kepada orang-orang yang menunaikan haji di Baitullah al-Haram dari Jawa yang lemah di negara Tuan kita: Sultan terbesar, paling terkemuka, dan berpendirian benar, bercahaya lagi berbahagia. Sultan putra Sultan, tuan kami Sultan ‘Abdul Majid, putra al-Marhum tuan kami Sultan Mahmud yang memiliki tabiat yang baik dan kemuliaan akhlak, penghapus ketidakadilan dan penekuk setiap orang yang zalim.

 

Sebagai persembahan mereka kepada Khalifah ‘Abdul Majid I dan Muhammad Hasib Pasya, gubernur Hijaz saat itu, kesepuluh masyaiykh ini menghadiahkan mereka sebuah kitab berjudul Ad-Durrah as-Saniyyah fî Busyrâ al-Mu’minîn bi Baqâ’i Hâdzihi ad-Daulah al-‘Utsmâniyyah (Permata Berharga yang Memberi Kabar Gembira untuk Kaum Muslimin akan Kejayaan Daulah ‘Utsmaniyah Ini).

Dalam kitab tersebut mereka lampirkan juga sebuah qasidah yang mereka buat sendiri untuk menyanjung Khalifah ‘Abdul Majid I. Qasidah tersebut berjudul Al-Qawl as-Sadîd fi Dzikri Ba’dhi Mazâyâ Mawlânâ as-Sulthân ‘Abdil Majîd (Perkataan yang Benar dalam Menyebutkan Beberapa Keistimewaan Tuan Kami Sultan ‘Abdul Majid).

Semua risalah ini masih tersimpan di Kantor Arsip Kenegaraan ‘Utsmaniyah (Babakanlk Osmanl Arivi) di Istanbul, dengan nomor kode I.DH. 211/12286.

Semua fragmen historik yang tertuang dalam dokumen-dokumen di atas ini merupakan bukti nyata betapa Khilafah begitu akrab di relung hati dan pikir ulama-ulama kita pada masa lalu. Kepemimpinan Khilafah yang berjalan dari masa Khulafaur Rasyidun hingga ‘Utsmaniyah tidak mungkin tidak diketahui oleh para pemuka negeri Jawi yang ahl’ul-‘ilm (ilmuwan) dan ulû’l-abshâr (mempunyai penglihatan).

Sudah sepantasnya kita mengikuti jejak langkah mereka agar menjadi orang yang tidak durhaka kepada ulama.

AlLâhu a’lam bi ash-shawwâb. [Nicko Pandawa]

Dibaca

 13 total views,  2 views today

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terbaru

Konsultasi